Sosial Budaya · Tualang

Menelisik Geliat di Perbatasan Timor

26 Agustus 2017

Panas terik sekejap menyapa saat baru saja mendarat di Bandar Udara A.A. Bere Tallo, Atambua. Kabupaten yang berada di sisi paling timur Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, merupakan titik awal sebelum masuk lebih jauh ke lokasi penugasan kali ini. Tujuan utama saya adalah Timor Tengah Utara dan Malaka, dua kabupaten yang sebelumnya asing di telinga. Kunjungan terakhir saya ke NTT adalah pada 2013 silam, saat menyisir dan bergaul dengan masyarakat selama sebulan penuh di sudut-sudut Pulau Alor, Sabu Raijua, Rote Ndao, Sumba Timur, Komodo dan Labuan Bajo.

Di pelataran bandara, minibus travel telah menjemput saya dan rekan. Diawali mengganjal perut di sebuah rumah makan yang dimiliki oleh warga keturunan, mobil bergerak ke barat menjauhi Belu. Butuh waktu dua jam melintas deretan kebun lontar dan perbukitan gersang sebelum akhirnya tiba di Kota Kefamenanu, ibukota Timor Tengah Utara (TTU). Oleh sang sopir, kami dianjurkan untuk menginap di Livero, sebuah hotel berlantai empat yang ternyata cukup nyaman dan bersih di lokasi yang tak jamak dikunjungi pendatang.

Rute yang saya lewati selama 10 hari di Timor

Saat berbincang sambil sarapan keesokan paginya, seorang pegawai hotel berbasa-basi menanyakan tujuan kami. Mendengar lokasi yang menurutnya saling berjauhan dan minim transportasi umum, ia kemudian menyarankan kami untuk menyewa mobil saja. Tarif di Kefa biasanya lebih murah dibanding Atambua atau Kupang, sebab relatif lebih sedikit yang order. Hitung-hitung, dengan kendaraan yang bisa dibawa sesuka hati, kami bisa merasa seolah sedang melakukan roadtrip di pulau yang berabad silam terkenal sebagai penghasil cendana putih ini.

Hidup dari Tani, Tenun, dan Wisata

Tiga kabupaten yang saya singgung pada paragraf diatas; Belu, Timor Tengah Utara, dan Malaka adalah beranda depan Indonesia yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste. Layaknya perbatasan yang selama puluhan tahun seakan jadi anak tiri, masalah umum yang dihadapi daerah ini juga tak jauh dari kata keterisolasian, keterbelakangan, kemiskinan, harga barang dan jasa sangat tinggi, keterbatasan prasarana dan sarana pelayanan publik (infrastruktur), kualitas SDM yang pada umumnya rendah, serta penyebaran penduduk yang tidak merata.

Kondisi jalan yang menghubungkan Kefamenanu – Betun

Sebelum 2000an, banyak juga yang memplesetkan NTT dengan “Nanti Tuhan Tolong” atau “Nasib Tidak Tentu”. Sebuah paradoks, yang barangkali memang tak salah-salah amat untuk menggambarkan kondisi faktual harian masyarakat. Imaji kepasrahan pada situasi sulit ini melekat sekian lama, hingga seolah menjadi takdir yang harus dipikul bagi komunitas yang terhimpun atas sedikitnya 40 kelompok etnolinguistik ini.

Namun, bisa jadi anekdot itu saat ini sudah semakin memudar…..

Saat berbincang dengan Kepala Bappeda Malaka Alfonsius Manek di Betun, dengan penuh semangat ia menyampaikan program pemerintah kabupaten bertajuk Revolusi Pertanian Malaka (RPM). Bekerjasama dengan mitra terkait seperti Universitas Cendana, grand-design RPM perlahan diwujudkan. Komoditas unggulan seperti pisang, jagung, bawang merah, kacang hijau, dan ikan bandeng coba dioptimalkan produksinya dan dibuatkan alternatif pengolahan pasca panen agar masyarakat mendapat harga yang lebih menguntungkan. Pemerintah memberi insentif dan bantuan modal bagi penggerak pertanian, serta menggalakkan gerakan one village-one product demi meningkatkan pendapatan kabupaten.

Kampung Adat Femnasi

Saya kemudian menemui Mama Maria Yovita Beta (62 tahun) di toko Biboki Artshop yang terletak tak jauh dari Pasar Kefa. Melalui Yayasan Tafian Pah yang didirikannya tahun 1990, Mama Yovita memiliki cita-cita mulia untuk melestarikan tenun lokal sembari memberdayakan perempuan Timor yang memiliki kemahiran menenun. Ia menceritakan bahwa tenun Biboki yang digelutinya memiliki banyak sekali jenis, meliputi 46 jenis tenun ikat, 20 jenis tenun Buna, dan 5 jenis tenun Sotis. Berkat kegigihannya dalam berjuang dan mempromosikan budaya warisan leluhur ini jualah kemudian ia berkesempatan diundang sebagai tamu kehormatan atau exhibitor pameran kerajinan di berbagai negara. Australia, Belanda, Korea, Jerman, dan Filipina adalah beberapa negara yang pernah beberapa kali dikunjunginya.

Pada awal tahun 2000an, Mama Yovita juga mendapat pendampingan dari lembaga internasional OXFAM dan tergabung dalam proyek TIRD (Timor Integrated Rural Development). Puas berbincang, saya kemudian memoto koleksi artshop untuk kemudian langsung mengunduhnya ke media sosial. Tak dinyana, beberapa kawan sontak menyatakan ketertarikannya pada tenun dan meminta untuk dibawakan ke Jakarta. Jadilah, saya membawa pulang setidaknya 15 helai tenun otentik TTU berbagai motif dan ukuran.

Fulan Fehan, lanskap cantik di ketinggian Atambua

Terletak di sekitar garis imajiner Wallacea, membuat Timor memiliki lanskap alam yang unik dibanding daerah lain Indonesia. TTU, daerah yang terbentuk atas gabungan kerajaan Miomaffo, Insana, Biboki memiliki aneka destinasi alam, budaya, dan sejarah yang mengagumkan. Saya menyambangi kampung adat Femnasi dan Maubesi, menghirup wangi pesisir utara Timor di Oesoko serta melihat geliat pembangunan perbatasan di Wini. Sedang ketika di Malaka, saya blusukan ke sentra pengrajin gerabah di Webriamata, Lakekun, pos lintas batas Motamasin dan menyaksikan keelokan hutan mangrove Cagar Alam Hasan Maubesi. Masing-masing objek ini hadir dengan pesonanya yang sulit dilukiskan dan dicarikan tandingannya.

——–

Wini, salah satu pos perbatasan dengan Timor Leste

4 September 2017, setelah 10 hari berada di tanah Timor, tiba waktu kembali ke ibukota karena “surat jalan” dari kantor sudah berakhir dan laporan harus segera disusun. Dari persentuhan singkat ini, selain jadi semakin mengenal negeri Nusa Cendana, juga membangkitkan kembali keoptimisan melihat geliat-geliat yang coba dilakukan, dari masyarakat, pemda hingga pemerintah pusat. Semoga slogan Nawacita “membangun Indonesia dari pinggiran….” yang seringkali didengungkan Presiden Jokowi dan jajaran Kabinet Kerja betul-betul dapat dirasakan perubahan nyatanya. Karena kita, satu Tanah Air jua….

Advertisements

3 thoughts on “Menelisik Geliat di Perbatasan Timor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s