Catatan Harian · Sosial Budaya · Tualang

Upaya Berdaya dari Mamberamo

Mendengar kata Papua selalu mendatangkan ketertarikan yang lebih. Bagaimana tidak, hingga abad-21 yang serba canggih ini, Papua masih menyisakan “ruang kosong” yang luas pada peta. Kondisi alamnya didominasi hutan tropika yang sulit ditembus, sebab dipagari oleh lembah curam dan pegunungan tinggi yang sebagian puncaknya berbalut salju. Topografi kompleks ini kemudian memilah manusia yang hidup di areanya menjadi kelompok dengan budaya dan bahasa paling beragam.

Bagi saya pribadi, Papua telah menjadi obsesi, setidaknya ketika mulai membaca betapa heroiknya kisah para penjelajah atau misionaris terdahulu mengakrabi bumi cenderawasih. Awal Agustus lalu, ditengah beberapa kesibukan yang menunggu untuk diselesaikan, saya mendapat tawaran penugasan ke pedalaman Papua, tepatnya ke Kabupaten Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah. Sebuah tawaran menggiurkan, dan sulit ditolak dengan alasan apapun.

Dua minggu sebelum keberangkatan, saya mulai melakukan riset dan menghubungi pihak-pihak yang sekiranya dapat mendukung operasional selama berada di lapangan nantinya. Namun, usaha ini seakan sia-sia, karena informasi transportasi, akomodasi dsb yang coba digali masih simpang siur. Antar informan memberikan cerita yang berlainan, bahkan saling bertolak belakang.

Keadaan ini tak lantas menyurutkan langkah. Saya bersiasat dengan mengajak Dion, rekan satu tim penelitian saat ekspedisi ke Tambrauw (Papua Barat) tahun lalu. Ia sengaja saya minta terbang dari Batu ke Jakarta, demi ikut serta dalam tugas yang terasa akan berlangsung seru sekaligus menantang ini. Pertimbangan utama, setidaknya Dion sudah terbiasa bergaul dengan lingkungan dan masyarakat Melanesia, sehingga kami bisa berbagi tugas secara taktis agar alokasi waktu yang tak panjang dapat dimanfaatkan secara optimal.

Perjalanan yang Mahal dan Tak Pasti

Diatas pesawat perintis Caravan, sesaat sebelum mendarat di Kasonaweja, Mamberamo Raya

Kami berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta tanggal 6 September 2017 malam, dengan maskapai Garuda Indonesia rute Jakarta – Jayapura. Boeing 737 ini menerbangkan kami selama delapan jam, satu kali transit di Makassar, sebelum akhirnya mendarat di Bandara Sentani. Udara panas menyengat menyambut kedatangan. Hal menarik yang baru saya temui di bandara ini adalah “dikuasai”nya semua trolley oleh para porter. Sehingga, praktis para penumpang yang membawa barang dalam jumlah cukup besar harus memakai jasa mereka, tentunya diiringi  beberapa lembar rupiah yang harus dirogoh. Di sekitar area bandara, noda bekas pinang bertebaran di lantai dan dinding yang membuat orang baru akan sedikit bergidik. Bagaimanapun, mengunyah pinang yang dipadu dengan sirih dan kapur sehingga menghasilkan warna merah di mulut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian orang Papua dan beberapa daerah Indonesia timur lainnya.

Saya kemudian menghubungi salah seorang petugas maskapai perintis yang kontaknya saya dapat dari Oky, pegawai DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Mamberamo Raya yang akan jadi host kami nanti. Kamipun lantas diarahkan ke salah satu kantor di sebuah ruko dekat bandara Sentani, untuk kemudian melakukan pembayaran tiket, menimbang berat orang dan barang, sekaligus check-in. Dengan tiket seharga tiga juta rupiah per kepala, saya dan Dion dijadwalkan akan terbang ke Kasonaweja (ibukota Kabupaten Mamberamo Raya) menggunakan pesawat caravan milik Alda Air pada pukul 09.30 wit. Adapun pilihan lain adalah dengan naik kapal, dengan waktu tempuh 3 hari 2 malam untuk rute Jayapura – Kasonaweja. Itupun, KMP Lestari ini hanya berangkat dua minggu sekali.

Sembari menunggu, kami mengajak ngobrol beberapa penumpang lain, sekedar menambah bekal pengetahuan sebelum berinteraksi di daerah yang baru pertama kali kami jamah. Namun, hingga waktu yang ditentukan, belum ada tanda-tanda keberangkatan. Juga tidak ada keterangan atau alasan dari pihak maskapai mengapa kami belum juga terbang dan terkatung tanpa kepastian. Uniknya, penumpang lain santai saja dengan situasi ini, yang mengindikasikan bahwa kejadian keterlambatan, bahkan pembatalan penerbangan secara sepihak, adalah suatu hal yang lumrah. 4 jam berselang, kami baru dibawa ke ruang tunggu bandara, dan take-off pada pukul 14.00. Jangan harap mendapat kompensasi berupa makanan atau cashback sebagaimana aturan yang berlaku pada penerbangan komersil di kota besar. Ini Papua, bung!

Pesawat berkapasitas 12 penumpang ini terbang ke arah timur dalam cuaca yang cerah. Dibagian bawah, hutan terhampar seluas mata memandang. Sesekali pemandangan diselipi sungai besar dan kecil yang meliuk dengan cantik. Baru kali ini merasakan berada dalam pesawat tanpa sekat antara ruang kendali pilot dengan kabin penumpang. Terbang dengan pesawat kecil, selain tak bisa terlalu tinggi sebagaimana layaknya pesawat jenis Boeing atau Airbus (ketinggian jelajah 30.000 feet), juga sensitif terhadap cuaca. Perubahan cuaca atau masuk dalam gumpalan awan akan terasa seketika menggoncangkan pesawat. Begitu ringkih, namun tak ada pilihan yang lebih baik 🙂

Mendarat di Kasonaweja, Kamis 7 September 2017

Kami mendarat di Kasonaweja setelah 45 menit mengudara. Bandara disini lebih berupa airstrip, yaitu lapangan tanah (tidak diaspal) sepanjang 400 meter. Pada saat tidak ada jadwal pesawat, lapangan ini akan berubah menjadi lahan pengembalaan babi dan binatang ternak lain. Kasonaweja merupakan pusat permukiman, sedangkan pusat pemerintahan kabupaten yang dimekarkan sejak tahun 2007 ini berada di Burmeso. Dua kampung ini keberadaannya dipisahkan oleh bentang sungai, dan harus menumpang perahu untuk bisa melintasinya. Turun dari pesawat, saya disambut hangat oleh Oky untuk kemudian dibawa ke kompleks perumahan pegawai yang berada sekitar 2 km dari bandara.

Mengenal si “Air Besar”

Toponimi (penamaan tempat) Mamberamo konon berasal dari bahasa Suku Dani yang berarti air besar. Sungai sepanjang 670 km berhulu dari ratusan anak sungai di sekitar Pegunungan Tengah Papua dan bermuara ke Samudera Pasifik di sisi utara pulau. Sungai terbesar dan terpanjang se-Papua ini dikurung oleh Pegunungan Van Rees di sisi barat dan Pegunungan Foja di sisi timur. Dilihat dari udara, daerah aliran sungai membentuk banyak liukan (meander) dan danau kecil sebagai sungai mati (oxbow lake).

Speedboat, alat angkut utama masyarakat sekitar Mamberamo

Mamberamo sering diidentikkan dengan “Amazon”-nya Indonesia, karena luas daerah cakupan yang dilalui, liarnya alam, serta budaya penduduk yang kaya dan beragam. Terdapat zona penyangga (buffer zone) bagi kelestarian yang bernama Suaka Margasatwa Mamberamo Foja seluas 1,4 juta hektar. Suaka ini mencakup beragam tipe habitat, mulai dari hutan mangrove di kawasan pantai, rawa gambut, sungai dan danau serta hutan pegunungan tinggi. Penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bersama beberapa organisasi konservasi menemukan setidaknya terdapat 161 spesies burung termasuk cenderawasih serta 101 spesies mamalia termasuk kangguru pohon. Kawasan ini terkenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya (megadiversity), karenanya telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan karbon rendah dan dalam proses pengajuan untuk dijadikan sebagai Situs Warisan Dunia.

Lanskap Kasonaweja

Mengamati kehidupan di Mamberamo Raya (Mamra), tampak sungai memegang peranan amat penting sebagai penghubung dan pembawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. 9 distrik dan 59 kampung seantero kabupaten praktis hanya dapat dimasuki lewat jalur air karena ketiadaan jalan darat. Terdapat beberapa perahu motor (speedboat) yang biasa disewakan, dengan tarif 3-5 juta rupiah per harinya. Harga ini diluar kebutuhan bensin yang dijual 30 hingga 80 ribu rupiah per liter, tergantung ketersediaan di pengecer. Mahalnya transportasi ini membuat mobilitas tidaklah begitu tinggi. Perahu hanya dioperasikan untuk kebutuhan yang amat penting, atau mendukung kunjungan dari para pejabat kedinasan.

Belum lagi, perjalanan ke arah hulu sungai juga terkenal cukup berisiko karena terdapat beberapa jeram yang jadi momok bagi para motorist perahu. Tiga jeram tersebut antara lain Edivalen, Marinavalen, dan Bataviavalen. Penduduk menganggap angker wilayah sekitar jeram ini, karena nyaris selalu memakan korban dalam rentang waktu tertentu. Jika dilihat secara fisik, aliran deras ini terbentuk akibat adanya penyempitan badan sungai dan bebatuan yang menonjol ke permukaan sehingga membentuk “standing wave” dan “hole” (istilah dalam arung jeram untuk arus sungai yang cukup tinggi dan bergulung membentuk pusaran). Kondisi ini memang sangat wajar menenggelamkan hingga menyedot apapun yang melewatinya.

Disamping itu, sungai juga hadir sebagai berkah, baik untuk mencukupi kebutuhan pangan harian maupun aktifitas ekonomi. Sepanjang DAS Mamberamo mengandung potensi perikanan dalam jumlah amat besar. Masyarakat biasa menangkap ikan menggunakan alat sederhana seperti pancing, tombak, jala, dan sekali-kali memanfaatkan tuba (racun dari herba lokal). Jenis ikan yang biasa dikonsumsi antara lain ikan manyung (Arius utarus), ikan mas (Cyprinus carpio), dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Studi gabungan oleh Conservation International dengan DKP Mamberamo Raya mencatat, terdapat 28 spesies ikan air tawar yang hidup di sepanjang sungai.

Guna mendatangkan nilai tambah, beberapa kelompok masyarakat di Danau Rombebai, Kampung Bagusa, Warembori, dan Trimuris telah mulai melakukan usaha pengolahan ikan asin air tawar. Biasanya mereka memproduksi untuk kemudian hasilnya akan dibawa oleh penadah yang datang bersama kapal KMP Lestari yang datang selang dua minggu sekali dari Jayapura. Selain berasal dari air tawar, keunikan lain produk ini adalah ukurannya yang dapat mencapai tiga kali ukuran ikan air tawar pada umumnya.

Saat bertemu Kepala DKP Steven R Marlissa di Burmeso, beliau terlihat sangat serius mewujudkan misi menjadikan ikan asin air tawar sebagai ikon kabupaten. Dukungan ditunjukkannya dalam bentuk pendampingan, penganggaran, hingga kebijakan-kebijakan yang menstimulus lebih banyak lagi warga untuk bergerak di sektor ini. Pada tahun ini, bersama jajarannya Pak Steven sedang mengupayakan untuk pengadaan speedboat, cooling storage, mesin pengering ikan, dan kemasan. Semuanya direncanakan sedemikian rupa agar dapat menghasilkan produk olahan ikan yang berkualitas sekaligus menarik perhatian.

Potensi lain yang dibawa atas keberadaan sungai yang airnya keruh ini adalah buaya. Terdapat Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan Buaya Papua (Crocodylus novaeguineae) yang sejak lama dijadikan sebagai objek buruan. Penangkapan yang disertai penangkaran buaya untuk tujuan ekonomi tercatat baru dilakukan sejak tahun 1960an. Saat ini, sentra pengolahan terdapat di Kampung Sikari dan Dabra, dimana masyarakat melakukan penyamakan kulit buaya untuk kemudian dijual dengan harga yang cukup tinggi ke Merauke atau Jayapura.

Kontradiksi

Disamping potensi yang besar itu, ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Selain sulit dan mahalnya akses seperti yang disinggung pada awal tulisan, kebutuhan dasar seperti listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi ternyata belum tersedia dengan memadai di kabupaten ini. Mamra belum dialiri oleh listrik PLN, sehingga praktis masyarakat hanya mengandalkan generator set subsidi dari pemerintah daerah yang hanya menyala 12 jam per harinya (jam 18.00 – 06.00). Karena daya yang terbatas, penggunaan pun dilakukan dengan pengalokasian khusus, agar semua rumah khususnya di Kasonaweja dan Burmeso dapat menikmati listrik pada malam hari.

Padahal, menurut laporan sebuah studi, aliran Sungai Mamberamo sebenarnya menyimpan potensi untuk dibangun pembangkit listrik dengan daya mencapai 10 ribu megawatt. Pada masa pemerintahan Presiden Habibie, pernah diwacanakan pembangunan mega proyek bendungan dan pembangkit listrik tenaga air Mamberamo. Tahun 2016, menurut seorang pegawai Bappeda yang kami temui, Pemprov Papua juga pernah melakukan penjajakan kerjasama dengan investor asing untuk menindaklanjuti rencana ini. Jika proyek ini sukses, diprediksi tak hanya masalah kelistrikan di Mamberamo atau Papua saja yang dapat diselesaikan, namun lebih jauh dapat mendatangkan penghasilan menggiurkan yang dapat digulirkan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Akan halnya air bersih, debit Mamberamo yang besar ternyata tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih utama. Air sungai, khususnya di segmen tengah dan hilir tidak cukup aman untuk dikonsumsi. Sebagian masyarakat yang mampu, memilih untuk membeli air bersih dari mobil tangki, khususnya untuk kebutuhan memasak. Sedang perihal telekomunikasi, hanya bisa dinikmati alakadarnya di sekitar Kasonaweja dan Burmeso saja. Distrik dan kampung lain belum menikmati kecanggihan komunikasi dan teknologi digital yang bagi masyarakat perkotaan telah menjadi semacam kebutuhan dasar ini.

Listrik, air bersih, dan komunikasi setidaknya menjadi sedikit contoh kebutuhan dasar peradaban yang bergerak maju dan modern. Walaupun sebenarnya, untuk kasus di Papua, harus ditanya betul apakah masyarakatnya butuh itu semua untuk hidup yang lebih berkualitas? Apakah mereka siap bersaing dengan para pendatang yang akan terus masuk seiring dengan tersedianya infrastruktur? Bisa saja mereka telah nyaman dengan kondisi hidup seperti sekarang ini, bukan? Karena bagaimanapun, menurut pandangan subyektif saya, pembangunan, pemberdayaan, atau apapun namanya harus benar-benar bisa mengangkat harkat hidup masyarakat lokal tanpa harus tercerabut dari keluhuran adat dan budaya yang telah mereka anut secara turun temurun….

Bersambung……

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s