Catatan Harian · Sosial Budaya

Teman itu Main Bareng!

“Ke Cirebon yuk, mumpung dr. Sujie lagi dinas disana. Banyak wisata sejarah, budaya, alam, dan kuliner loh…”

Begitulah kira-kira pesan yang tetiba dilontarkan dalam sebuah grup percakapan whatsapp, awal Januari lalu. Grup tersebut berisi teman-teman sekelas saya selama tiga tahun masa SMA di Bukittinggi. Ide spontan itu mendapat respon positif. dr. Sujie sebagai tuan rumah, turut menyatakan kebesaran hatinya menyambut kunjungan kami. Sepertinya, perjalanan ini akan sangat menarik karena sudah lama sekali rasanya kami tidak berkumpul dan beraktifitas bersama dalam durasi panjang.

Tanggung jawab keluarga, pendidikan atau pekerjaan membuat waktu berkualitas untuk saling ber-haha-hihi menjadi kian langka. Tak berselang lama, perencanaan sederhana pun disusun. Personil, kendaraan, itinerary, budget dan lainnya coba dihitung demi kenyamanan perjalanan.

Pada hari yang disepakati, berdelapan kami berkumpul di Kuningan, Jaksel. Menggunakan dua mobil, kami melintas tol Cikampek dan Cipali (Cikopo – Palimanan) yang masih cukup lengang. Sekira 3,5 jam, kami telah tiba di pusat kota Cirebon. Terasa sekali peran aksesabilitas dalam menghidupkan suatu daerah. Jalan tol Cipali yang baru diresmikan beberapa tahun ini, digadang melejitkan nama Cirebon sebagai salah satu destinasi wisata alternatif bagi warga Jakarta. Saat dibangun, Cipali menjadi ruas tol terpanjang di Indonesia yang membentang sejauh 116,75 km. Kehadirannya memangkas jarak setidaknya 40 km, atau lebih irit waktu 90 menit dibanding menggunakan jalur konvensional non tol.

Sebagaimana disingung di awal, misi perjalanan ini sebenarnya sederhana saja. Main bareng sambil menikmati sajian kuliner dan bentang alam di negeri para wali. Destinasi pertama yang kami sasar ialah Nasi Jamblang Bu Nur. Tempat ini telah menjadi semacam salah satu daftar kunjung wajib bagi tiap wisatawan yang singgah di kota hasil rintisan Sunan Gunung Jati ini. Rumah makan yang berawal dari sebuah warung sederhana ini memiliki ciri khas adanya jamblang atau daun jati di setiap piring makan. Sekurangnya 30 jenis lauk tersaji menggoda selera. Akibat ramainya pengunjung, saya dan teman-teman baru mendapat jatah pengambilan nasi dan lauk setelah setengah jam ikut dalam baris antrian.

Setelah urusan “kampung tengah” selesai, adzan Zuhur berkumandang. Kami beringsut ke Masjid Islamic Centre, masjid megah yang terletak persis di jantung kota. Di sekitarnya, terdapat berbagai kantor instansi pemerintahan. Beres makan dan ibadah, tiba waktu untuk berwisata. Kami bergerak menuju Goa Sunyaragi. Menurut cerita, goa ini dahulunya dibuat oleh manusia linuwih, segolongan orang yang memiliki ilmu khusus. Bisa dikatakan, spot ini merupakan salah satu magnet utama wisata sejarah di Cirebon.

Goa Sunyaragi

Sewaktu kami berkunjung, kami menjumpai banyak rombongan lain. Dilihat dari plat nomor kendaraan yang digunakan, rombongan ini rata-rata berasal dari Jakarta, Bandung, atau Yoyakarta. Berteman rintik hujan, kami berkeliling, menyuruk ke beberapa lorong yang menghubungkan antar ruang di goa ini. Wefie pun tak lupa dilakukan, sekedar untuk di-posting di media sosial atau manasin teman lain yang berhalangan ikut pada perjalanan reuni ini.

Panasnya Cirebon membuat keringat mengucur deras dan kulit terasa lengket. dr. Sujie, sebagai tuan rumah yang baik, menyarankan agar kami menuju penginapan dulu saja untuk sejenak istirahat dan bersih-bersih. Dua kamar di Hotel Sapadia telah di-booking olehnya. Satu kamar untuk pria, dan satunya lagi untuk perempuan. Fasilitas, kebersihan, dan kenyamanan penginapan yang terletak di seberang terminal bus antar kota ini terbilang lumayan. Sebelum menuju kamar masing-masing, kami menyepakati waktu untuk kembali keluar mencari makan malam.

Selepas Maghrib, kami menuju RM Kelapa Manis yang terletak di ruas jalan menuju Linggarjati, Kuningan. Tempat ini merupakan salah satu yang direkomendasikan oleh laman Trip Advisor. Benar saja, berada di pinggang sebuah bukit, bersantap disini kita bisa sambil menikmati kerlip lampu kota hingga bibir pantai yang tampak di kejauhan. Udara sejuk disertai aneka menu yang membuat lidah berdecak, membuat pengalaman makan malam itu begitu berkesan. Kami menghabiskan waktu cukup lama disini.

RM Kelapa Manis

Beragam cerita masa SMA hingga gosip terbaru terlontar, yang membuat nostalgia dan tawa yang pecah nyaris tiada henti. Kami baru beranjak kembali ke penginapan sekira pukul 22.00, saat pramusaji mulai bersiap membersihkan dan menutup resto. Malam itu energi terasa di-recharge kembali, sebelum kemudian berisitirahat dengan bahagia yang membuncah di hati.

Esok paginya, kumandang adzan Subuh membangunkan lelap. Bergantian, kami mandi serta beribadah sebelum melanjutkan kegiatan mengeksplorasi salah satu pusat peradaban di pesisir utara Jawa ini. Hari kedua ini kami ingin sedikit ke pinggir kota, tepatnya ke kaki Gunung Ciremai. Sekitar 45 jam berkendara, iring-iringan mobil tiba di Cikalahang, sebuah area wisata yang masih asri dan sejuk. Rimbun pohon, telaga, dan suara aneka binatatang hutan menambah syahdu suasana disini.

Setelah cukup puas, kami kembali turun ke arah kota. Santap siang dilakukan di Empal Gentong H. Apud, salah satu kuliner legendaris. Dari sini, kami mampir untuk belanja buah tangan di Batik Trusmi dan kemudian diakhiri dengan mengantar dr. Sujie ke tempat prakteknya di Puskesmas Losari.

Perjalanan singkat dua hari ini seakan mengingatkan akan sepenggal lirik Sheila On 7 berikut:

“…. Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu, di hari kita saling berbagi……arti teman lebih dari sekedar materi…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s