Catatan Harian · Resensi · Sosial Budaya · Tokoh

Antara Seni dan Realita yang Gamang

Beberapa waktu ini, saya larut menikmati dua karya seni dengan pesan mendalam. Film “Surau dan Silek” karya sutradara Arief Malinmudo, serta novel “Tapak Harimau Paderi” karangan Ridjaluddin Shar. Dengan garis keturunan dan kecintaan akan Minangkabau yang kuat, mereka mengangkat nilai budaya leluhur  sebagai inspirasi cerita. Menjadi menarik, sebab jika diresapi secara jujur, banyak pembelajaran dan refleksi positif yang dapat kita petik.

Surau dan Silek (disingkat SS) tayang di bioskop pada medio April 2017, ditengah sederet film box office yang juga muncul di saat bersamaan. Film yang menggunakan 95% dialek rang kiktinggi ini mengingatkan kembali arti penting surau sebagai candradimuka anak-anak menjelang masuk akil-baligh. Surau (mushalla, biasanya terdapat di tiap nagari/kampung) pada masa lampau tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai sarana menempa karakter dengan penyeimbangan bermacam ilmu kehidupan. Bujang Minang dimatangkan fisik dan batiniah-nya disini, sebelum ia masuk dalam fase dewasa, dan merantau ke negeri jauh.

Akan halnya Silek (silat), film dengan kualitas visual jempolan ini juga menguatkan lagi posisinya yang tak sekedar alat gagah-gagahan. Akar silek Minang ialah sebagai perlindungan diri, sekaligus sarana mendekatkan jiwa kepada Yang Maha Kuasa. Inilah yang ditampilkan Adil, pemeran salah satu bocah SD yang belajar silek dalam film. Ia tekun menuntut ilmu ditengah segala keterbatasan. Puncaknya, melewati berbagai kelakukan culas yang ditujukan padanya, ia tetap dapat menaklukkan lawan pada sebuah turnamen bergengsi di gelanggang. Alih-alih menghabisi, Adil konsisten terhadap janji yang diucap pada gurunya Gaek Djohar, bahwa silek bukanlah untuk menyakiti.

Lewat film, Arief Malinmudo ingin mengingatkan kembali pada kita filosofi 3S; Silat – Shalat – Shalawat. Tiga penunjuk arah utama setiap insan Minang dalam mengarungi samudera kehidupan. Besar kemungkinan, keluhuran nilai-nilai inilah yang membuat Minangkabau dahulu dikenal sebagai produsen cendekia nan bernas lagi gigih.

—–

Sebelumnya, selama beberapa hari saya larut dalam cerita yang dihadirkan dalam novel historigrafi Tapak Harimau Paderi (disingkat THP). Karya setebal 500 halaman lebih ini mengangkat kronik perang saudara yang terjadi di bumi Minangkabau pada tahun 1803 hingga 1838.

Alkisah, pada abad 18, daerah Sumatera Barat pesisir dan pedalaman mengalami lonjakan ekonomi signifikan akibat tingginya permintaan kopi, lada, dan akasia dari Amerika dan Eropa. Namun, beribu sayang, peningkatan kesejahteraan ini turut pula dibuntuti dengan aktifitas maksiat yang kian merajalela. Judi, wanita penghibur, candu, dan tuak menjadi penyakit masyarakat yang kian hari kian mewabah. Ajaran adat dan agama yang tadinya menempati posisi sakral, jadi makin terpinggirkan.

Bibit pertikaian muncul setelah kepulangan beberapa putra daerah dari tanah suci Makkah. Haji Miskin beserta kolega buya-nya ingin mengembalikan marwah bumi Minangkabau sebagai wilayah yang beradat dan kuat dalam ber-Islam. Tindakan frontal yang dilakukan tentu tak begitu saja dapat diterima oleh para tokoh yang telah merasakan nikmatnya perbuatan terlarang tersebut. Dibumbui politik adu domba oleh Belanda dan Inggris, pecahlah perang saudara antara kaum tradisionalis (kaum adat) dan reformis (para haji) selama 35 tahun. Pertikaian turut melebar melewati batas geografis. Diluar orang Minang sendiri, suku bangsa Mandailing, Toba, Aceh, Jawa, Ambon, Bugis, Madura, dan Manado pun tercatat ambil andil. Tak terhitung kerugian jiwa, materil, maupun non materil yang ditimbulkan.

Disamping itu, perang juga menginspirasi beberapa fondasi penting yang digunakan hingga kini. Payung nilai adat Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah merupakan konsensus para tokoh paska perang. ABS-SBK ini dipercaya menjadi penegasan arti penting adat dan agama, dimana keduanya semestinya menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan. Berbagai ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persatuan Tarbiyah Islamiyah pada awalnya juga didirikan untuk melanjutkan strategi jangka panjang setelah perang melalui pendidikan dan sosial. Hingga kini di abad 21, masing-masing organ tumbuh menjadi lembaga modern dengan corak Islam Nusantara yang kuat.

Ranah Kita Kini

Dalam bukunya, Ridjaluddin Shar mengatakan bahwa sejarah penting dan menjadi tapak yang harus sering ditengok. Dari situ dapat diketahui pola yang sama dari peristiwa yang berlainan, dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda pula. Pernyataan ini agaknya menemukan banyak kebenaran, terutama jika kita menarik benang merah antara dua kisah dalam dua karya seni diatas dengan kondisi faktual di ranah Minang terkini.

Suka atau tidak, politik identitas terasa begitu menguat hari-hari ke belakang ini. Pada kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Basuki T.P misalnya. Dengan pengetahuan terbatas akan kasus dan tokoh, berbondong-bondong warga Sumbar mencap-nya dengan berbagai label negatif yang harus dihukum dan dimusuhi. Segelintir yang tak sepaham, seperti Buya Maarif yang menyatakan tak ada penistaan pada kasus dimaksud, justru mendapat serangan membabi buta. Buya yang sudah tidak diragukan lagi kualitas pemahaman agama dan kenegaraannya, menjadi bulan-bulanan. Bahkan, dicap buaya oleh kelompok yang mungkin pengetahuannya belum seujung kuku dari yang dimiliki oleh buya.

Sebuah surat kabar melansir, warga Sumbar tercatat sebagai salah satu penyumbang massa yang cukup besar dalam demonstrasi berjilid-jilid yang menuntut dipenjarakannya gubernur Ahok. Polarisasi yang menjurus pada perpecahan kental terasa. Pihak yang tidak sependapat dengan mudah dicap kafir, munafik, dan serta sederet istilah negatif lainnya. Sulit membayangkan, pengetahuan adat atau agama apa yang digunakan sebagai dalil sahih sehingga kelompok ini menjadi paling benar sendiri dan seolah telah mengkavling surga.

Yang tak kalah viral ialah kasus yang menimpa seorang dokter perempuan di Solok yang diintimidasi akibat statusnya di sosial media yang mengkritik Rizieq Shihab. Sang dokter, yang jelas berpendidikan tinggi sehingga tipis kemungkinan bicara asal ka malantong, mempertanyakan kenapa Rizieq menjadi pengecut ketika berhadapan dengan kasus hukum yang menimpanya. Rupanya, penyampaian pendapat, yang oleh undang-undang dijamin kebebasannya, direspon sempit oleh para pengagum pentolan FPI yang mendaulat dirinya sebagai imam besar ini. Gerombolan massa dikabarkan memburu keberadaan dr. Fiera, dari rumah hingga tempat kerjanya, dengan tuntutan menarik pernyataan dan meminta maaf secara terbuka.

Dokter paruh baya yang juga ibu dari dua anak ini sampai harus dievakuasi ke luar kota untuk keamanan diri dan keluarganya. Disini kita juga sulit menemukan dasar berpijak, Minangkabau yang dahulunya terkenal dengan karakter egaliter dan berwawasan terbuka berubah total. Beringas, merasa benar sendiri, die hard followers dengan mendukung seseorang mati-matian tanpa integritas dan rasionalitas. Padahal, bisa jadi golongan ini tak mengenal dan mengerti betul siapa yang didukungnya. Tindak main hakim sendiri, apalagi keroyokan ini, jelas bertentangan dengan spirit silek tuo Minang sebagaimana diulas film SS.

Jika ditelusuri, deretan kasus lain yang sulit dicerna logika sehat masih terus bergulir di ranah tercinta. Rusuh tak berkesudahan, sebut saja penolakan pendirian RS Siloam, penolakan pendirian tempat karaoke Inul Vista dan lainnya yang terasa menyedot amat banyak energi. Sementara, untuk hal yang lebih substantif dalam pembangunan manusia, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, provinsi Sumbar masih menjadi langganan menempati klasemen papan bawah. Entah, betapa murungnya Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Agus Salim, atau Hamka melihat kalang kabut di kampung halamannya kini.

Orasi buya Syafii Maarif suatu ketika di Taman Budaya Padang rasanya pantas untuk kita renungkan kembali; “Agama dan adat lebih banyak diperkatakan dalam khotbah, perhelatan dan pertemuan. Tetapi, dikhianati dalam laku dan perbuatan. Kata dan laku telah pecah kongsi, dipicu oleh mentalitas menerabas.”

—-

Sebagai putra Minang yang pernah menumpang hidup 18 tahun di ranah, selemah-lemahnya usaha yang bisa dilakukan, saya hanya bisa berharap:

… Semoga kondisi ini tidak terus memburuk.

…. Semoga ajaran adat dan agama tak lagi dipelintir sesuka hati guna hasrat kuasa dan uang.

….. Semoga Ranah Minang kembali bersinar sebagai penghasil kader pejuang bangsa.  

Mari berkaca diri… bangkik batang tarandam!

——-

Bekasi, 14 Ramadhan 1438 H / 9 Juni 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s