Sosial Budaya

Berhenti, Menyepi

Ku telah terlampau lelah

Berilah aku waktu sesaat

Tuk membasuh luka tuk membasuh jiwa agar suci lagi

Oo meski hanya sehari

Penggalan lirik dari Navicula ini terasa begitu berenergi. Saya larut memutarnya berulang kali tanpa bosan. Entah karena musikalitas Gede Robi cs yang memang jempolan, visualisasi memukau, atau pesan teramat kuat lagi mendalam yang ingin disampaikan.

Lagu dari band grunge yang kerap melontarkan kritik sosial dan lingkungan ini bercerita tentang budaya Nyepi di Bali. Sebuah ritual suci, dimana seisi Pulau Dewata kompak mengheningkan cipta satu hari penuh. Jalanan lengang, toko dan tempat hiburan ditutup, Bandara Ngurah Rai dan Pelabuhan Gilimanuk berhenti beroperasi. Sebuah perayaan yang berani, dihormati  serta dipatuhi oleh semua kalangan ras dan agama. Nilai ekonomi yang seharusnya bergulir, dikesampingkan selama 24 jam penuh.

Masyarakat Hindu Bali percaya, Nyepi yang berarti hening ini dapat mensucikan kembali keberadaan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Pada hari yang jatuh sekitar akhir Maret dalam penanggalan Masehi ini, terdapat empat pantangan yang harus dijalankan. Amati Karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Leluangan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Momen pergantian tahun Saka (penanggalan Hindu) ini telah dimulai sejak tahun 78 masehi. Kitab Negarakertagama juga memuat cerita perayaan sejenis Nyepi di Kerajaan Majapahit yang disebut Citramaisa.

Upacara Melasti di Pantai Kuta

Saya sendiri berkesempatan merasakan syahdunya kearifan lokal ini tiga tahun silam. Saat itu, saya kebetulan ditugaskan oleh kantor ke Bali untuk mengikuti serangkaian workshop. Agenda selesai sehari sebelum puncak Nyepi. Tak mau melewatkan kesempatan, saya memutuskan memperpanjang masa kunjungan. Pada hari-hari tersebut, dari beranda hotel tempat saya menginap di Kuta, terlihat ribuan masyarakat berduyun-duyun menuju pantai. Rombongan besar, tua-muda, laki-perempuan, berpakaian serba putih hendak melaksanakan upacara Melasti. Pantai yang biasanya disemuti oleh wisatawan, seketika berubah magis lewat tampilan upacara dan lantunan doa. Bau dupa yang menyeruak makin mengintimkan suasana.

Malam sebelum Nyepi dilaksanakan (disebut hari Pangrupukan), pawai Ogoh-ogoh memeriahkan penjuru. Warga lokal dan mancanegara tumpah-ruah ke jalan, larut dalam barisan panjang arak-arakan dengan menggotong patung sebagai perwujudan Bhuta Kala. Agaknya, bagian ini mirip dengan Takbir Keliling sebelum Idul Fitri dalam budaya Islam Nusantara, atau Cap Go Meh setiap akan memasuki Hari Raya Imlek. Catur Brata Penyepian (empat larangan selama Nyepi) dimulai tepat pukul 06.00 wita. Hanya Pecalang yang dibenarkan beraktifitas di luar, guna memastikan ritual berjalan khidmat. Seisi kota sontak sunyi dan gelap. Lingkungan terasa begitu damai, bebas dari berbagai polusi asap, cahaya, suara dan lainnya yang pada hari biasa sangat lekat dengan denyut hidup perkotaan.

Ogoh-ogoh

Data sebuah LSM lingkungan hidup mengungkap, dalam sehari ini Bali berhasil mereduksi 20.000 ton karbondioksida, menghemat 290 megawatt listrik (setara 4 miliar rupiah) dan mencegah pembakaran 500.000 liter solar. Dampak penurunan emisi yang signifikan ini, menjadikan Nyepi menjadi salah satu pembahasan penting dalam COP (Conference Of the Parties) atau Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-13 di Nusa Dua tahun 2007. Turut mengemuka usulan agar gerakan ini diadopsi secara global, dengan tajuk “World Silent Day”. Walau, secara substansi tidak lagi berbicara tentang spiritual tetapi lebih menekankan pada aspek ekologis.

Dengan segala pengakuan ini, Nyepi pantaslah mendapat tempat istimewa. Semoga hari yang mulia ini terus lestari hingga ke anak cucu. “Saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi……”

— Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Caka 1939 —

Advertisements

One thought on “Berhenti, Menyepi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s