Catatan Harian · Tualang

Mengayuh Hingga Jogja!

Penghujung 2011. Saya sedang gandrung menggenjot sepeda. Bukan sekedar mengikut tren, tapi dari kegiatan fisik yang terlihat sederhana ini, saya merasakan banyak dampak positif sekaligus. Olahraga untuk tubuh yang sehat, ramah di kantong, bisa mengeksplorasi tempat-tempat baru, hingga menambah relasi pertemanan. Bagi penduduk kota metropolitan seperti Jakarta, keseksian bersepeda ditambah dengan kampanye “green-lifestyle” yang berpendapat bahwa sepeda merupakan moda angkut efektif untuk mengurangi macet dan polusi.

Wajar jika kemudian gerakan seperti Bike to Work (B2W) yang pertama dimunculkan tahun 2004 mendapat sambutan luar biasa. “Virus”nya dengan cepat menyebar ke berbagai daerah seluruh Indonesia. Aktifitas bersepeda mulai naik kelas, tak lagi melulu identik dengan transportasi bagi masyarakat desa atau pra-sejahtera. Salah satu turunan dari gerakan ini ialah Bike to Campus (B2C), yang lebih terbatas menghimpun anggota di lingkungan perguruan tinggi. Senada dengan B2W, B2C pun mengalami pertumbuhan jumlah anggota yang bisa dibilang pesat.

Awal perkenalan saya dengan komunitas B2C ini terjadi saat mereka mengadakan perjalanan bersepeda ke Gunung Pancar, Sentul, Bogor. Sekitar 15 orang dari berbagai kampus mengikuti kegiatan gowes sehari penuh ini. Menyenangkan juga punya teman-teman baru saat itu, karena selain bisa bertukar informasi, beberapa peserta pun mencetuskan ide yang lebih gila untuk mencari destinasi yang lebih jauh dan menantang. Beberapa masukan disampaikan, dengan kesepakatan akhir untuk mencoba melakukan touring Jakarta – Yogyakarta. Emang dasarnya gatal ingin jalan, tawaran ini langsung saya sambar, mendaftar sebagai peserta.

Mengayuh Sepeda dari Ibukota ke Kota Gudeg

Setelah perjalanan ke Gunung Pancar, para peserta turing akhir tahun ini mengadakan beberapa kali pertemuan guna memantapkan rencana: menyepakati rute, pembagian barang bawaan, porsi latihan fisik, dukungan serta kontak lokal komunitas sepeda di daerah yang akan dilintasi nantinya. Dari delapan calon peserta yang terjaring, baru satu orang diantaranya yang punya pengalaman bersepeda lintas kota. Afif, yang kemudian hari jadi karib saya di banyak kegiatan, setahun sebelumnya berhasil menuntaskan lintasan sepeda dari Jakarta hingga Denpasar, Bali.

Perjalanan bersepeda sejauh lebih dari 600 kilometer tersebut direncanakan akan ditempuh dalam enam etape (6 hari). Dengan beberapa pertimbanan, kami memilih jalur selatan Jawa dengan target pemberhentian harian antara lain di Cikalong – Bandung – Tasikmalaya – Majenang dan Kebumen sebelum akhirnya tiba di kota tujuan, Yogyakarta.

Sebelum memasuki daerah Cikalong
Sebelum memasuki daerah Cikalong

Setelah melakukan persiapan individu dan tim selama tiga minggu, hari keberangkatan pun tiba. 24 Desember 2011, delapan pesepeda berkumpul di sebuah rumah di bilangan Kalibata. Awal perjalanan, masing-masing mencoba untuk beradaptasi dan menyesuaikan ritme agar tetap kuat menggenjot hingga seminggu kedepan. Dari penampang lintasan yang dibuat saat perencanaan, etape 1 dan 2 ini menjadi yang cukup berat sebab jalanan yang naik turun. Tanjakan di daerah Jonggol dan Rajamandala-Padalarang merupakan titik kritis, dimana harus cerdik memainkan shifter agar dapat melewatinya dengan mulus.

Setiba di Bandung, tiga orang peserta yang berangkat bareng dari Kalibata mengundurkan diri, karena merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanannya. Dika, Hilmi, dan Rajandi kembali balik kanan di hari kedua ini menumpang bis kembali ke Jakarta. Sebagai pengganti, bergabung satu perempuan anggota B2C Bandung, Novi, yang berbadan ceking tapi ternyata punya tenaga lumayan. Formasi tim enam orang ini bertahan hingga finish.

Selepas turunan Nagrek, jalanan menuju Jogja relatif datar. Keunggulan lain lewat di jalur selatan ini adalah kondisi yang relatif lebih hijau dan sepi dibandingkan jalur Pantura.

Pagi hari ketiga, bersiap meninggalkan kampus Institut Teknologi Bandung
Pagi hari ketiga, bersiap meninggalkan kampus Institut Teknologi Bandung

Sejak awal, kami bersepakat untuk berhemat dalam touring ini. Urusan makan dan tidur harus diakali dengan biaya minimal, namun tetap memperhatikan kualitas dan kenyamanan. Saya pribadi cuma menghabiskan 120.000 IDR dalam enam hari perjalan menuju kota gudeg ini. Menjadi mungkin, karena kami lebih memilih untuk makan di warung tradisional ketimbang di restauran. Beberapa kali pemilik warung juga menggratiskan makanan yang kami santap karena terpana mendengar kami sudah mengayuh sepeda ratusan kilometer.

Bahkan untuk penginapan, tak sepersenpun rupiah yang kami keluarkan. Banyak orang bermurah hati menawarkan kebaikan dan bantuannya. Kami enjoy-enjoy aja ketika harus bermalam di vila yang lama tak ditempati, sekretariat UKM kampus, masjid, hingga teras belakang sebuah perkantoran. Dari perjalanan ini saya makin menyadari, karakter asli orang Indonesia itu memang ramah, pemurah, dan senang memuliakan tamu.

Hari demi hari perjalanan dilewatkan sesuai dengan rencana yang disusun di awal. Kecuali Jamil yang smartphone-nya hilang saat tidur di masjid di Majenang, seluruh personil dan perlengkapan nyaris tak mengalami kendala yang berarti. Tepat pukul 15.00 wib tanggal 29 Desember 2011, enam orang pesepeda amatir ini akhirnya tiba di titik tujuan nol kiloemeter Yogyakarta. Saya, Afif, Opi, Jamil, Fauzan, dan Novi disambut belasan orang yang berasal dari beberapa komunitas sepeda Jogja. Hari-hari berikutnya diisi dengan wisata kuliner dan gowes ringan ke kaki Gunung Merapi untuk melihat dampak erupsi hebat setahun sebelumnya. Kami kembali ke Jakarta menggunakan bis di hari kedua tahun baru 2012.

Berikut beberapa dokumentasi yang masih tersisa:

Kecelakaan mobil di daerah Cicalengka
Kecelakaan mobil di daerah Cicalengka

 

 

 

 

 

 

 

 

Iring-iringan melewati turunan Nagrek yang legendaris
Iring-iringan melewati turunan Nagrek
Berterimakasih pada penjaga pool bis Primajasa di Tasikmalaya karena bersedia Mushalla-nya kami inapi
Berterimakasih pada penjaga pool bis Primajasa di Tasikmalaya karena bersedia Mushalla-nya kami inapi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersama Fransisca Calista (ketiga dari kiri, B2C Bandung) dan keluarga di Ciamis. Mereka memberi tumpangan istirahat dan makan siang
Bersama Fransisca Calista (ketiga dari kiri, B2C Bandung) dan keluarga di Ciamis. Mereka memberi tumpangan istirahat dan makan siang
Ciamis, perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah
Ciamis, perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah

 

 

 

 

 

 

 

 

Di jalanan Jateng mulai banyak warga yang memanfaatkan sepeda untuk mendukung aktifitas hariannya
Di jalanan Jateng mulai banyak warga yang memanfaatkan sepeda untuk mendukung aktifitas hariannya
Bermalam di selasar belakang kantor Pemkab Kebumen
Bermalam di selasar belakang kantor Pemkab Kebumen

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari kelima perjalanan
Hari kelima perjalanan
Suasana pedesaan yang sepi dan asri
Suasana pedesaan yang sepi dan asri

 

 

 

 

 

 

 

Makan siang di sebuah Warung Tegal
Makan siang di sebuah Warung Tegal
Mengicip king of fruits: Durian!
Mencicip king of fruits: Durian!

 

 

 

 

 

 

 

Bersama Ibu pemilik sebuah warung makan yang menggratiskan jualannya karena mendengar cerita kami bersepeda jauh-jauh dari Jakarta :)
Bersama Ibu pemilik sebuah warung makan yang menggratiskan jualannya, karena mendengar cerita kami bersepeda jauh-jauh dari Jakarta 🙂
Finish! Tugu nol kilometer Yogyakarta
Finish! Tugu nol kilometer Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

Bersama teman-teman komunitas Bike to Campus Yogyakarta
Bersama teman-teman komunitas Bike to Campus Yogyakarta di depan gerbang kampus Universitas Gadjah Mada
Pose di depan rumah kontrakan Dera (kanan, B2C Jogja), yang memberikan tumpangan pada kami selama di kota gudeg
Pose di depan rumah kontrakan Dera (kanan, B2C Jogja), yang memberikan tumpangan pada kami selama di Jogja
Toko souvenir Mirota, Jogja
Toko souvenir Mirota, Jogja
Bonus trip ke Kali Gendol, berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan di kaki Gunung Merapi
Bonus trip ke Kali Gendol, berdekatan dengan rumah almarhum Mbah Maridjan di kaki Gunung Merapi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*****

Tak terasa, lima tahun sudah momen ini berlalu. Ada rasa rindu ber-long distance cycling– ria lagi, terlebih ketika mengikuti kisah kelana “sokoguru” seperti Bambang Paimo, Nicolai Bangsgaard, atau Marino Nicolas. Rute yang terlihat menarik untuk dijajal dalam waktu dekat ini adalah Sumatera overland atau Surabaya – Larantuka. Adakah yang punya keinginan serupa? Yuk bergerak…..

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s