Catatan Harian

Mengintip Mega Proyek di Bawah Tanah Jakarta

Macet. Itulah satu kata yang begitu melekat dengan kondisi Jakarta beberapa dekade kebelakang. Bertambahnya jumlah kendaraan yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan jalan, menyebabkan lalu lintas ibukota kian hari kian sesak. Transportasi massal yang di banyak negara maju menjadi perhatian serius, seolah diabaikan untuk waktu yang lama, entah karena alasan apa.

Perubahan yang cukup terasa baru terjadi ketika hadirnya layanan bus Trans Jakarta dan Commuter Line. Seiring dengan peningkatan kualitas, banyak pula masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah satelit (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) menjadikan dua moda ini favorit barunya untuk beraktifitas ke Jakarta. Angkutan ini penuh sesak, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Namun, bukan berarti masalah macet teratasi sampai disini.

Sedikit berkaca ke belakang, studi mengenai transpor publik yang ideal bagi Jakarta  sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1980. Namun, dengan berbagai dalih di setiap rezim, studi tersebut baru sebatas tumpukan dokumen dan diskusi-diskusi semata.

Angin segar muncul di tahun 2013. Pemda DKI menyatakan kembali komitmennya untuk membangun transportasi massal terpadu guna mengakomodasi mobilitas kotanya yang sangat tinggi. Proyek itu bernama MRT (Mass Rapid Transportation). Sebuah model yang sebenarnya sudah sangat jamak di banyak kota metropolis dunia. Konsekuensi yang dirasakan langsung oleh warga Jakarta akibat pengerjaan konstruksi ini ialah semakin menyempitnya badan jalan, agak semrawut, berdebu, dan bising karena para pekerjanya bekerja hampir tanpa henti. Bagaimanapun, pilihan ini harus diambil, untuk mengantisipasi jalanan ibukota yang bakal deadlock pada tahun 2020 jika tak ada perubahan “revolusioner”. Setidaknya, guyonan MRT yang dulu diplesetkan menjadi “Masih Rapat Terus”, sudah mulai menampakkan wujudnya.

Menurut rencana, proyek ini akan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di empat sisi (utara, selatan, timur, barat) dengan total lintasan sepanjang 110 kilometer. Lintasan MRT tidak mengenal rel di permukaan, melainkan di bawah tanah atau melayang lewat tiang-tiang penyangga dengan ketinggian bervariasi. Pengerjaan tahap 1 (Sudirman – Senayan) berupa pengeboran terowongan bawah tanah dimulai sejak September 2015. Empat buah mesin bor TBM (Tunnel Boring Machine) berdiameter 6 meter difungsikan. TBM pertama bernama Antareja 1 dan 2 bergerak dari Patung Pemuda Senayan mengarah ke Thamrin, mesin TBM kedua bernama Mustikabumi 1 dan 2 yang bergerak dari area Bunderan HI ke arah Senayan. Kedua TBM ini bertemu di daerah Setia Budi pada Kamis (23/2).

Bertemunya Antareja dan Mustikabumi ini menandakan selesainya pengerjaan proyek MRT Jakarta tahap pertama. Presiden Joko Widodo yang hadir ke lokasi menyatakan rasa senang dan apresiasinya. Jokowi meminta untuk pengerjaan tahap berikutnya terus digenjot, sehingga target mulai beroperasinya MRT Jakarta pada Maret 2019 dapat dipenuhi.

Pada hari yang sama, salah satu grup whatsapp di smartphone saya ramai membahas capaian ini. Di tengah obrolan, kang Erry Riyana, komisaris utama PT MRT Jakarta yang juga bergabung didalam grup tersebut menyampaikan tawarannya. “Manga yang mau datang nengok terowongan MRT, besok datang ke Wisma Nusantara.”

Bersama Kang Erry Riyana H.P. Sang Komut sekaligus senior saya di perhimpunan
Bersama Kang Erry Riyana H.P. Sang Komut, senior di perhimpunan, sekaligus role-model

Tawaran menarik yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selepas Jumatan, 26 anggota kelompok kunjungan dikumpulkan di sebuah ruangan di lantai 21. Bapak Agung Wicaksono, Direktur Operasional dan Pemeliharaan tampil menyampaikan introduksi dan progress pengerjaan proyek prestisius ini. Dengan gaya bertutur yang cair, Pak Agung berseloroh “bahagia dan terhormat sekali bapak ibu yang visit siang ini, karena jadi rombongan pertama setelah RI1 dan DKI1 datang kemarin.” Hadirinpun sontak tersenyum dan bertepuk tangan.

Safety briefing sebelum memasuki ruang proyek bawah tanah
Safety briefing sebelum memasuki ruang proyek bawah tanah

Kami kemudian dibawa menyusur lorong-lorong raksasa di bawah jalan protokol utama ibukota. Menjadi menarik, karena proyek ini dibiayai dan diawasi oleh kontraktor Jepang, standar disiplin yang berlaku di area kerja pun sangat ketat. Setiap pengunjung atau pekerja wajib mengenakan pakaian safety berupa helm, sepatu boot dan rompi berwarna hijau cerah. Jangan coba-coba pula untuk buang sampah sembarangan atau memasuki “daerah terlarang” jika tak mau kena damprat para pengawas yang selalu jeli mendampingi. Bahan material dan alat berat tampak di setiap penjuru. Para pekerja terlihat tekun dengan tugasnya masing-masing. Walau saya yakin mereka dibawah tekanan target, tapi raut enjoy tetap terpancar dari setiap pekerja yang ditemui.

Lorong bawah tanah MRT Jakarta
Lorong bawah tanah MRT Jakarta

Jpeg

Setelah puas menyusuri lika-liku mega proyek bawah tanah dan mendapat penjelasan dari para ahli konstruksinya, pukul 16.30 rombongan kembali menaiki tangga menuju permukaan. Sebuah pengalaman yang manis. Setidaknya, nanti jadi punya cerita, walau sebagai rakyat biasa, tapi terhormat mendapat kesempatan menjadi segelintir orang yang melihat langsung rancang bangun tranportasi masa depan DKI Jakarta. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s