Catatan Harian · Tualang

Berkereta Menelusur Jawa

Sejak pertama dioperasikan pada zaman pendudukan Belanda, kereta telah menjadi salah satu moda transportasi yang sangat melekat dengan denyut kehidupan di tanah Jawa. Tersedianya rute yang menghubungkan kota-kota penting seantero pulau, harga yang relatif ekonomis, serta waktu yang dapat diprediksi merupakan beberapa alasan ia menjadi primadona.

Saya mulai berkenalan dengan kereta trans Jawa sejak sepuluh tahun silam. Transportasi jenis inilah yang dapat memenuhi dahaga bepergian yang saat itu sedang panas-panasnya. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan yang ada saat ini. Puluhan penumpang berjubel dalam satu gerbong, sumpek, toilet tak berfungsi, pengasong dan pengemis yang hilir mudik, atau stasiun yang semrawut merupakan kondisi lumrah ketika itu.

Begitupun untuk soal tiket. Untuk mencapai kota-kota di Jawa Tengah atau Timur misalnya, saat itu saya cukup bermodalkan maksimal tiga puluh ribu rupiah saja. Selipkan gocengan (Rp 5.000,-) pada kondektur setiap kali pemeriksaan, urusan “legalisasi” pun beres. Kalaupun kami membeli tiket duduk misalnya, hampir selalu ada saja penumpang prioritas lain (lansia, difabel, ibu hamil atau membawa balita) yang naik dan tidak kebagian tempat duduk. Jika sudah begini, puluhan pasang mata akan menusuk seolah berkata “tau diri, Mas…”. Apalagi melihat perawakan saya sebagai seorang laki-laki muda, bugar, gondrong, dan menenteng ransel besar, kursi pun kemudian harus direlakan. Jika tidak salah ingat, saya merasakan pengalaman ini terakhir saat akan mendaki Gunung Argopuro di Jember, awal tahun 2010.

Perjalanan berikutnya membawa saya ke banyak tempat. Namun, tanpa disadari, sudah enam tahun lamanya saya absen menaiki kereta api. Berbagai media menyebut, telah terjadi banyak perubahan dan inovasi pada layanan perkeretaapian. Testimoni positif pun jamak disampaikan oleh para penumpang transportasi efisien waktu dan biaya ini.

Tentunya, ada rasa rindu dan penasaran yang menggantung. Momentumnya kemudian baru datang pada September 2016 silam. Saya diundang untuk menghadiri pelantikan mahasiswa baru di kampus ATKP  (Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan) Surabaya. Tiga bulan berikutnya, saya kembali memilih menumpang kereta menyusur beberapa kota Pulau Jawa untuk mengisi liburan akhir tahun.

 

Ke Surabaya Menghadiri Pelantikan si Bungsu

Pertengahan September silam, saya dihubungi oleh kampus ATKP Surabaya untuk menghadiri upacara penutupan rangkaian Madatukar (Masa Dasar Pembentukan Karakter). Kebetulan, adik saya diterima sebagai mahasiswa / taruna baru di kampus kedinasan milik Kementerian Perhubungan tersebut.

Setelah mengosongkan jadwal, saya mulai mengatur untuk perjalanan ke kota pahlawan. Syaratnya: pergi dan pulang harus naik kereta. Proses booking tiket saat ini juga sangat dimudahkan dengan adanya layanan aplikasi online. Melalui beberapa ketukan di ujung jari, urusan tiket dan penginapan pun beres. 29/9 sore, KA Gumarang tujuan Stasiun Pasar Turi membawa saya meninggalkan ibukota. Impresi positif yang selama ini hanya didengar lewat media, akhirnya bisa dirasakan langsung. Check-in mandiri, tepat waktu, stasiun lebih resik dan tertata, serta bebas asap rokok menawarkan kenyamanan bagi para penumpang. Semua armada, ekonomi hingga eksekutif, juga telah dilengkapi AC yang membuat suhu dan sirkulasi udara menjadi segar.

Di Surabaya, saya menginap di My Studio Hotel. Walaupun hotel ini termasuk berbiaya rendah untuk kelas backpacker, menurut saya konsep yang ditawarkan cukup unik. Disamping posisinya yang strategis, bersisian dengan Museum Kapal Selam Pasopati dan Stasiun Gubeng, kamar bagi para tamu juga disajikan dalam bentuk kapsul (single bed). Namun jangan khawatir. Walau dalam satu ruangan bisa terdapat belasan kapsul, perkara barang bawaan, kebersihan, wifi dan kenyamanan lainnya tetap diperhatikan oleh pihak pengelola.

Terhitung baru beroperasi, tampaknya hotel ini telah menjadi sasaran utama para pejalan domestik dan mancanegara. Suasana hangat dan homey pun begitu terasa disini. Diluar pelayanannya yang memang ramah dan akomodatif, para tamu disini juga tak canggung untuk bertegur sapa walau sebelumnya tak pernah saling kenal. Barangkali, perasaan sebagai sesama low-budget traveler yang memunculkan chemistry ini. Saat sarapan, saya juga sempat bertukar cerita dengan pelancong asal Italia, Perancis, Inggris dan China. Mereka adalah anak muda usia 20 tahunan yang sengaja menabung dan mengisi liburan dengan berkelana keluar dari zona nyaman di negara mereka masing-masing.

Hari pertama di Surabaya saya habiskan melakukan city tour ke beberapa mainstream spot seperti House of Sampoerna, Tunjungan Plasa, Bebek Sinjay dan mengakhiri malam sembari menikmati lezatnya Es Krim Zangrandi. Esok paginya, saya menuju kampus ATKP yang terletak di daerah Jemur Andayani. Rangkaian upacara penutupan Madatukar diisi oleh atraksi drum band, parade dari tiap jurusan, paduan suara dan pembacaan janji taruna. Adik bungsu saya muncul dengan perawakan yang sudah berbeda: gundul, atletis dan lebih cool! Selepas acara resmi, para undangan dipersilakan meninjau kondisi asrama dan ruang belajar para taruna. Waktu kunjungan dibatasi hingga jam makan siang, satu persatu tamu mulai meninggalkan lokasi.

Bersama si Bungsu sehabis upacara penutupan Madatukar di ATKP Surabaya
Bersama si Bungsu sehabis upacara penutupan Madatukar di ATKP Surabaya

Karena cukup lelah dan cuaca yang terik, siang itu saya memilih kembali dan beristirahat di penginapan. Ba’da magrib, Ijud, seorang teman yang sedang menyelesaikan studinya di Antropologi Universitas Airlangga, mengajak untuk bertemu di sebuah kafe. Di lokasi ternyata juga telah menunggu Natya dan Kristi. Ketiga orang ini merupakan “bonek” sesama peserta ekspedisi ke Papua Barat Januari – Juni 2016 yang lalu. Inilah salah satu hikmah terlibat dalam ekspedisi berskala nasional, jadi punya teman yang tersebar di berbagai tempat.

Karena perjalanan yang terhitung cukup dadakan, saya belum membeli tiket untuk kembali ke Jakarta. Saat mengecek tiket.com, ternyata semua tiket kereta kelas ekonomi sudah habis terjual. Tak habis akal, saya akhirnya memesan KA Maharani dengan tujuan Semarang. Di stasiun, saya dijemput oleh Kevin. Ia mengajak saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, serta mencicip Soto Bangkong nan legendaris. Malam harinya, kami menuju Mr K Cafe di kawasan kota lama. Bersama Yudha yang datang menyusul, perbincangan pun beragam, dari hal serius hingga aneka umpatan yang rutin dikeluarkan saat senasib-sepenanggungan selama empat bulan di camp Tambrauw. Pertemuan bertemankan aneka kudapan dan bir dingin itu berakhir menjelang tengah malam, saat pelayan kafe mulai bersiap menutup tempatnya. KA Menoreh membawa saya kembali ke ibukota keesokan siangnya.

 

Spiritual Healing” di Penghujung Tahun

Libur yang cukup panjang di akhir tahun, sayang rasanya jika hanya dihabiskan di ibukota yang katanya kejam ini. Memasuki minggu kedua Desember, saya mulai menimbang-nimbang destinasi yang akan dituju. Dengan beberapa alasan, akhirnya diputuskan untuk menuju Purwokerto sebagai kota pertama untuk disambangi.

Suasana Stasiun Purwokerto yang rapi, bersih dan nyaman
Suasana Stasiun Purwokerto yang rapi, bersih dan nyaman

Perjalanan dimulai Rabu (21/12) malam. Menumpang KA Progo tujuan akhir Yogyakarta, saya menuju kota mendoan untuk selanjutnya melakukan pendakian ke Gunung Slamet. Di Stasiun Purwokerto, sesuai perjanjian, saya bertemu Adi yang berangkat dari Bandung. Setelah mengganjal perut dengan nasi pecel di warung depan stasiun, kami berganti-ganti angkutan yang menuju ke Bambangan, desa awal pendakian. Perjalanan hingga tiba di akses pendakian sisi selatan ini ditempuh dalam waktu tiga jam. Saya dan Adi beristirahat di rumah Pak Haji yang memang biasa digunakan sebagai tempat menginap oleh para pendaki.

Pendakian dimulai esok paginya menyusur jalan setapak yang sudah sangat jelas dan banyak petunjuk arah. Dari jalur ini, terdapat delapan pos sebelum tiba di puncak. Jarak rata-rata antar pos nya sekitar 1,5 km, atau 90 menit berjalan kaki bagi orang normal. Pos 5 dan 7 ialah titik yang menjadi favorit dijadikan camp-site, dapat dimuati hingga 30an tenda dome. Karena tidak terlalu suka dengan suasana ramai, saya akhirnya memilih mendirikan tenda di pos 6. Selain sepi, lokasi tersebut juga tertutup oleh vegetasi sehingga setidaknya dapat mengurangi terpaan angin atau hujan yang menjadi langganan di bulan Desember. Istirahat malam pertama cukup nyaman, dihiasi langit yang bertabur bintang.

Summit-attack dilakukan keesokan harinya. Butuh waktu 120 menit dari pos 6 untuk tiba di pucuk gunung berketinggian 3.428 meter diatas muka laut ini. Cuaca yang cerah, membuat perjalanan melintas vegetasi yang mulai jarang dan cadas khas volcano dapat puas dinikmati. Karena berkarakter soliter, dari punggungan menuju puncak kita dapat melihat kota Tegal, Baturaden, Purbalingga di sekitar. Kami mengambil beberapa dokumentasi di sekitar puncak, dan langsung mengirimnya ke beberapa kontak whatsapp di handphone. Ya, apabila cuaca cerah, jaringan internet seluler dapat dinikmati hingga ke puncak tertinggi Jawa Tengah ini. Perjalanan turun ke desa baru dilakukan keesokan harinya, dan tiba kembali di pos Bambangan tepat pada pukul 15.30 tepat di hari Natal. Saya bersih-bersih dan kembali bermalam di Desa Bambangan.

Sering naik gunung. Tapi, percayalah, ini foto pertama saya di gunung populer selama tahun 2016 :)
Sering naik gunung. Tapi, percayalah, ini foto pertama saya di gunung populer selama tahun 2016 🙂

Kami mencari kelompok yang searah menuju Purwokerto. Maksudnya, agar dapat menyewa mobil langsung dengan harga miring. Beruntung, ada kelompok asal Bekasi beranggotakan lima orang yang juga searah. Kami bergabung untuk menyewa minibus tujuan terminal Purwokerto, dengan ongkos Rp 50.000,- per orangnya.

Di terminal, saya bergerilya mencari bus tujuan kota berikutnya: Malang.  Pilihan akhir jatuh pada PO Rosalia Indah, dengan bandrol tiket Rp 160.000. Bus relatif kosong, sehingga saya bisa beristirahat cukup nyaman sambil memulihkan tenaga. Di pool bus, saya telah ditunggu oleh kang Maruli dan kang Ogun, dua orang senior di perhimpunan yang berniat akan mendaki Gunung Semeru. Bertiga kami langsung menuju Pasar Tumpang untuk kemudian bertemu dengan rombongan inti yang akan bersama-sama mendaki nanti. Rombongan yang datang dari berbagai kota ini merupakan reseller dan buyer Fjallraven, sebuah premium outdoor brand asal Swedia. Saya diajak turut serta meramaikan bootcamp mereka untuk kali ketiga di Indonesia.

Dua malam saya berada di sebuah guesthouse di Ranupane, kaki Gunung Semeru. Sembari mengurus izin, melengkapi logistik, dan keperluan pendakian lainnya, sela-sela waktu kosong diisi dengan jalan-jalan ringan ke beberapa tempat sekitar desa. Bersantai di Ranu Regulo sambil menyeruput kopi atau makan bakso di sekitar pos TNBTS menjadi aktifitas favorit. Pendakian dimulai tanggal 29/12 pagi, dengan operasional lapangan yang direncanakan selama 4 hari 3 malam. Selain bisa berkenalan dengan banyak teman baru, perjalanan ini menjadi menarik sekaligus penuh kewaspadaan karena saya harus “mengawal” kang Ogun, sang senior yang sudah berusia 58 tahun dan beberapa bulan lalu baru saja selesai menjalani kemoterapi akibat divonis kanker nasofaring stadium 4! Entah karena jam terbangnya sebagai pendaki profesional yang sudah sangat berlebih, atau sugesti yang hebat, kang Ogun masih tetap dapat mengimbangi “pace” pendaki normal usia muda. Sebagai gambaran, kami butuh waktu 3,5 jam untuk summit-attack dari pos Kalimati hingga Puncak Mahameru (3.646 mdpl), dan 2,5 jam turun dari Ranu Kumbolo menuju Ranu Pane. Capaian yang tidak bisa dikatakan lambat, walaupun juga tidak begitu cepat.

Sebagian tim Fjallraven Bootcamp Semeru. Ragam profesi, senior di perhimpunan, arsitek, dosen, model dan pengusaha :)
Sebagian tim Fjallraven Bootcamp Semeru. Ragam profesi, senior di perhimpunan, arsitek, dosen, model dan pengusaha 🙂

Sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke kediaman beberapa kerabat sekalian menyelesaikan beberapa urusan di Jawa Timur. Saya singgah di kediaman Kang Maruli di Jalan Bayam, Malang, menginap semalam dan survey untuk english camp di Pare-Kediri, dan transit dua malam di rumah Mas Tri Wahyono di Sekardangan, Sidoarjo. Di tempat yang terakhir ini, saya berasa pulang ke rumah. Disambut bak keluarga sendiri, dan tak lupa diajak mencicipi ragam kuliner khas kota udang. Bakmi Gajah Mada, sate kambing Cak Malik dan Soto Sekardangan yang rasanya berdecak di lidah ialah beberapa diantaranya.

Setelah menjadi musafir 18 hari, akhirnya tiba waktu untuk pulang. Saya kembali memilih kereta sebagai transportasi kembali ke ibukota. Karena membeli tiket secara dadakan H-3 kepulangan, saya kebagian tiket KA Kertajaya Tambahan berbanderol Rp 250.000. Namun, diluar dugaan, ternyata kereta ini merupakan armada baru yang nyaman dengan interior hampir menyamai kereta kelas eksekutif. Saya menyelesaikan “perjalanan spiritual” ini dengan ribuan kesan dan banyak teman baru, yang biasanya akan bertahan atau bahkan akan berjumpa kembali di perjalanan berikutnya.

Kereta ekonomi Kertajaya Tambahan jurusan Pasar Turi - Pasar Senen
Kereta ekonomi Kertajaya Tambahan jurusan Pasar Turi – Pasar Senen

Sudah puas? Belum, tentu saja. Karenanya, selain harus menuntaskan beberapa kewajiban hidup, saya bermimpi suatu waktu kelak dapat menjajal serunya kereta Trans Siberia atau menumpang kereta 18 hari menyusur rute China – London (Apabila nanti sudah dibuka untuk penumpang. Awal Januari lalu, jalur ini untuk pertama kalinya berhasil dilintasi kereta barang). Ah, sepertinya dua angan terakhir ini lebih syahdu jika dinikmati bersama pasangan halal nanti, ya?


Taman Hutan Raya Djuanda, Bandung, 23 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s