Catatan Harian · Tualang

Menjejak Puncak Tri Arga

Juni 2009. Bulan tersebut genap dua tahun saya menyandang status sebagai anak rantau. Setali tiga uang dengan pengadu nasib lain yang datang dari berbagai pelosok nusa, momen libur panjang ialah satu hal yang paling ditunggu. Jika tiada aral melintang, dan tentunya jika rupiah di tabungan mencukupi, pulang ke kampung halaman merupakan pilihan paling rasional.

Sehari setelah UAS genap di kampus berakhir, saya menumpang penerbangan pertama menuju Padang. Untuk tiba di rumah orang tua saya di Bukittinggi, harus dilanjutkan via darat selama dua jam. Kangen-kangenan beberapa hari, untuk kemudian kembali pada misi utama: menjelajahi titik-titik “tak terpetakan” kampung halaman sendiri. Saya merasa belum cukup mengenal tanah tempat saya bertumbuh 17 tahun tersebut. Karena bentang alam dan budaya yang memang relatif kompleks, selalu saja ada destinasi-destinasi baru yang menggoda untuk disambangi.

Dilihat dari bentang topografisnya, Sumatera Barat didominasi oleh dataran tinggi. 52,19% atau setara dengan 2,3 juta hektar wilayahnya merupakan bukit dan pegunungan. Wajar jika banyak kisah di tambo (glosarium pengetahuan Minangkabau) menceritakan lekatnya gunung dengan peradaban Minang. Sebut saja misalnya keberadaan Dusun Tuo Pariangan di kaki Gunung Marapi, yang dipercaya sebagai kampung asal para leluhur. Falsafah “Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah”, sumpah satia pegangan hidup urang awak dimanapun berada, juga pertama dicetuskan di Bukit Marapalam, Lintau Buo Utara. Daerah ini terletak sepelemparan batu di kaki Gunung Singgalang.

Karena sedang getol-getolnya naik gunung, saya menimbang akan memilih gunung apa untuk disambangi diantara 29 gunung yang terserak di 7 kabupaten dan kota se-Sumbar. Perhatian terhenti pada sebuah artikel di website Mapala Unand yang memuat catatan perjalanan beberapa anggotanya dua tahun sebelumnya. Anak-anak dengan lambang organisasi tali duo bapilin tigo ini merintis jalan dari Singgalang menuju Tandikek. Keduanya termasuk gunung dalam jajaran Tri Arga, sebuah istilah yang merujuk pada tiga puncak: Marapi – Singgalang dan Tandikek.

Saya coba membuka komunikasi kepada salah satu anggota MU (singkatan untuk Mapala Unand). Setelah beberapa diskusi dan penjelasan, Harry Kurnia, kawan dari MU dimaksud mengutarakan bahwa mereka berencana melintasi jalur yang sama dalam waktu dekat. Ia pun menawarkan untuk bergabung, dan tentu saja tak butuh waktu lama untuk saya iyakan.

****

Sore tanggal 12 Juni 2009, saya berangkat menuju Padang. Dalam tempo 2,5 jam, Vespa Super keluaran 1977 yang dikendarai telah mendarat di kompleks PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) kampus Unand Limau Manih. Disinilah Harry dan kawan-kawannya berkantor. Walaupun sebelumnya belum pernah bertatap muka langsung, mereka menyambut kedatangan saya seperti bertemu sahabat yang sudah lama terpisah. Di kantor yang menempati beberapa ruang lantai dua PKM tersebut juga telah hadir tamu dari Medan. Belakangan saya baru mahfum, dua perempuan tersebut adalah Nisa dan Roy, anggota aktif Mapala UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Keduanya juga akan bergabung dalam tim pendakian.

Ditemani kudapan hangat, malam itu saya menyimak takzim cerita-cerita kegiatan dan pengembaraan dari kedua organisasi yang cukup disegani dalam pergaulan PA regional ini. Maklum, sebagai kampus baru, atmosfir kegiatan kemahasiswaan di tempat saya menimba ilmu belumlah seriuh kampus besar lain yang lebih dulu berdiri. Obrolan berakhir mendekati tengah malam. Kami beringsut ke lantai atas kantor, yang memang diperuntukkan bagi para tamu yang datang menginap.

Suasana Kantor Mapala Unand
Suasana Kantor Mapala Unand

Pagi harinya setelah mandi dan sarapan, Harry datang menyodorkan rencana operasi yang akan kami jalani. Di tabel itu, tertulis rombongan akan berjumlah tujuh orang dan memakan waktu 4 hari 3 malam semenjak berangkat hingga kembali ke Padang. Selain saya, Hary, Nisa dan Roy, adalagi Adhi, Fadli dan Aisy yang nanti juga akan ikut serta. Lintasan yang akan dilalui ialah Pandai Sikek – Telaga Dewi – Puncak Tandikek – dan finish di Desa Singgalang Gantiang. Semua sepakat!

Siang setelah menyelesaikan belanja logistik dan repacking, rombongan bergerak menuju Aie Tawa. Disini terdapat pangkalan minibus yang bisa dicarter menuju titik awal daki. Setelah harga disepakati, APV sarat muatan tersebut bergerak membelah kerimbunan Lembah Anai, hingga berbelok 100 meter sebelum Pasar Koto Baru. Mobil menyimpang ke kiri dan seterusnya mengikuti plang bertuliskan “Stasiun Relay RCTI”. Kami melewati sentra kerajinan tenun songket dan ukiran Minang, yang kualitasnya telah tersohor hingga mancanegara.

Makin keatas, jalanan makin tak berbentuk. Sang sopir akhirnya menyerah menurunkan muatannya di sebuah perkebunan tebu. Kami melanjutkan berjalan kaki selama 75 menit hingga akhirnya tiba di pos pendakian yang biasa disebut Pesangrahan. Area ini cukup terbuka, sehingga kita bisa melepaskan pandangan ke kota-kota yang berada di sekitaran. Berketinggian tak sampai 1.000 mdpl, suhu udara disini ternyata cukup menggigit. Karena itu, setelah menandaskan makan malam dan sedikit evaluasi-briefing, kami langsung mengucingkan diri ke kantung tidur masing-masing. Menghangatkan diri, sekaligus menyiapkan tenaga menghadapi jalur pendakian yang katanya lumayan tegak dan minim “bonus”.

Perjalanan Menuju Titik Awal Pendakian Gn Singgalang di Pandai Sikek
Perjalanan Menuju Titik Awal Pendakian Gn Singgalang di Pandai Sikek

 

Merayap di Kerapatan Hutan nan Lembab

Dibanding jalur pendakian lainnya, Balingka atau Salimpariak,  jalur dari Pandai Sikek ini relatif mudah dan aman. Setapaknya jelas, serta di sisi jalur hingga puncak akan dipandu kabel dan tiang kepunyaan salah satu perusahaan penyiaran nasional.

Namun, jangan samakan kemudahan dimaksud dengan kondisi hutan gunung di Pulau Jawa. Baru saja 45 menit berjalan, lintasan sudah dihadang tumbuhan yang saling membelit membentuk sebuah lorong. Satu-satunya cara untuk dapat melewatinya ialah dengan merangkak, sejauh 50 meter. Tak cuma satu, didepan juga masih terdapat lima lorong serupa dengan panjang dan ketinggian bervariasi. Semakin naik keatas, vegetasi juga semakin rapat dan lembab. Aneka binatang liar tampak bebas bermain di keluasan rimba raya. Inilah serunya bertualang di hutan tropika Sumatera!

Beberapa kali rombongan sempat berhenti untuk mengatur napas dan menikmati cemilan yang dibawa. Sepanjang lintasan terdapat beberapa petak lahan yang sudah dibuka dan dekat dari sumber air. Sepertinya biasa digunakan sebagai lokasi camp oleh para pendaki. Empat jam berjalan, sampailah kami di sebuah medan terbuka. Cadas berkerikil dengan tumbuhan keras seperti edelweis dan cantigi menyambut di hadapan. Kemiringan bertambah hingga mungkin hampir 70 derajat. Walau menguras tenaga, pemandangan yang ditangkap indera cukup sepadan.

Istirahat di Jalur Pendakian
Istirahat di Jalur Pendakian

Medan berikutnya berupa pohon tumbang dan ranting yang telah berlumut. Suasana sunyi dan lembab tiba-tiba menyergap, sampai kemudian tiba di sebuah bekas kawah berbentuk danau. Inilah Telaga Dewi, sisa letusan Singgalang 2.000 tahun silam. Danau sunyi ini berada di ketinggian 2.760 meter dengan luas sekitar satu hektar. Banyak pemula mengira danau ini sebagai puncak. Padahal, butuh sekurangnya 30 menit lagi untuk sampai di puncak sesungguhnya dengan melipir ke sisi kanan telaga.

Sore itu kami tiba sekira pukul 17.00 wib. Gerimis menemani aktifitas pendirian tenda, memasak dan pembuatan api. Tak lama berselang, di kejauhan tampak serombongan pendaki juga baru datang. Beberapa diantaranya menghampiri tenda kami dan memperkenalkan diri.  Ternyata, 20 orang tersebut merupakan mahasiswa asal Malaysia yang sedang melakukan eksplorasi ke Sumatera Barat. Dua hari sebelumnya, tim ini berhasil menggapai Puncak Merpati, triangulasi tertinggi di Gunung Marapi. Walau di media saat itu hubungan RI – Malaysia sedang meruncing, perbincangan kami sore itu tetap mengalir renyah. Isu politik sama sekali tak memengaruhi akrabnya persahabatan penggiat alam lintas bangsa.

 

Makin Susah Makin Berkisah

Keesokan paginya, setelah mengambil dokumentasi di sekitar telaga dan puncak, perjalanan kembali dilanjutkan. Menuju selatan, tim mengarah ke punggungan yang menghubungkan dengan Gunung Tandikek (2.430 mdpl). Dibanding gunung lain, gunung ini termasuk salah satu yang kurang populer. Fakta ini justru jadi poin menarik, karena kealamiannya relatif masih terjaga.

Dibutuhkan kemampuan navigasi yang memadai ditunjang tenaga untuk mengayun golok agar dapat menyibak jalur yang pertama dibuka oleh tim MU pada tahun 1998. Vegetasi didominasi pakis, resam dan rotan yang kait-mengait sehingga sukar ditembus. Kondisi hujan dan masih banyaknya suara hewan semakin memacu adrenalin. Jatuh  bangun akibat tergelincir, atau gigitan pacet sudah tidak lagi dihiraukan.

Saking jarangnya dijamah, di beberapa titik masih dijumpai kotoran atau jejak mamalia besar. Dari literatur yang sempat dibaca sebelum melakukan pendakian, menyebut bahwa kawasan ini masih menjadi salah satu habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), atau biasa disebut “inyiak” oleh warga setempat. Diam-diam, sebenarnya saya berdo’a jangan sampai berpapasan dengan si raja rimba ini. Sementara siamang, rangkong dan simpai telah menjadi kehidupan liar yang masih terus lestari di hutan-hutan gunung yang sisi baratnya menjulur hingga Danau Maninjau ini.

Kawah Tandike
Kawah Tandike

Setelah tujuh jam berkutat dengan tebasan tramontina,  tim melewati sebuah puggungan tipis dengan jurang 200 meteran menganga di sisinya. Menurut Fadli yang sudah untuk kali ketiga melalui rute yang sama, ini menandakan puncak sudah semakin dekat. Dengan semangat dan tenaga yang tersisa, Senin, 15 Juni 2009 pukul 16.30 wib, kami bertujuh akhirnya berhasil menggapai Puncak Gunung Tandikek. Cuaca cerah menyambut. Pada bagian bawah kawah dapat terlihat beberapa lubang kepundan kecil yang mengeluarkan asap belerang serta berbunyi menderu. Malam itu tim berbivak di lahan sempit sekitar puncak. Pergerakan turun dilakukan di hari ketiga menuju Desa Singgalang Gantiang. Kondisi jalan relatif lebih jelas dibanding segmen sebelumnya. Dalam kondisi kelelahan namun puas, akhirnya sore itu misi menyambangi dua dari tiga gugus Tri Arga ini berhasil diselesaikan. Dengan manis dan kesan mendalam.

Finish di Dusun Singgalang Gantiang (ki-ka: Hary, Adhi, Ade, Roy, Aisy, Nisa, Roy)
The Team, sesaat setelah finish di Dusun Singgalang Gantiang

****

Di perjalanan pulang, rombongan menyempatkan singgah di Lubuak Mato Kuciang dan Sate Mak Syukur di kota Padang Panjang. Prinsipnya sederhana: kembali ke rumah haruslah dalam keadaan bersih dan kenyang! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s