Catatan Harian · Inspirasi Ide

Menerbangkan Cita-cita

Akhirnya bisa kembali menulis disini, setelah sekian lama terkesampingkan oleh kesibukan yang datang sesuka hati. Rendahnya pengalaman dan pengetahuan menulis, tak bisa dipungkiri ikut ambil andil tidak tercapainya komitmen awal untuk posting minimal dua tulisan per bulan di laman ini. Padahal, ide dan bahan sudah menumpuk sejak jauh hari, menunggu sedikit polesan saja agar layak saji.

Perihal komitmen dan konsistensi, pada seri ini saya ingin bercerita mengenai perjalanan cita-cita. Apa hubungannya? Cita-cita dan kehidupan nyata yang saya jalani juga lebih kurang sama dengan riwayat blog-posting disini. Berliku, naik-turun tajam, bahkan tak jarang berubah haluan.

Terdengar klise, ya? Jika dilihat, tulisan saya di laman ini memang lebih banyak merekam kisah perjalanan saya ke berbagai pelosok yang entah. Jadi, anggap saja tuturan mengenai cita-cita yang diendapkan sejak balita ini sebagai pemberi warna. Sekaligus, barangkali dapat menjadi refleksi pribadi atas kelana hidup yang di tahun 2017 ini sudah memasuki angka seperempat abad (Ingat, ini hanya hitungan kalender. Secara biologis dan psikologis, usia saya terhenti di angka 21!)

Semua mahfum, impian dan cita-cita lazimnya dimiliki oleh setiap individu. Tak melihat apa latar belakang seseorang, ia pasti memiliki suatu gambaran kondisi ideal bagaimana kehidupan yang diidamkannya. Cita-cita masa kecil seseorang ada yang terbawa hingga dewasa, sejalur dengan pendidikan formal, dan akhirnya menjadi profesi yang menghidupi. Karena pekerjaan tersebut hampir dapat dipastikan cocok dengan passion dan hobby, orang dalam kelompok ini saya rasa sangat sedikit mengeluh saking menikmati rutinitasnya. Namun, tak sedikit pula yang mengalami benturan atau pergeseran dengan berbagai sebab. Nah, saya masuk dalam kategori kedua ini.

Alkisah, saat balita dulu saya ialah seorang bocah yang begitu tergila-gila terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia penerbangan. Dari hal kecil mengoleksi buku dan origami aneka jenis pesawat terbang, mainan, hingga kekaguman setiap kali melihat pesawat melintas diatas langit kota saya yang notabene bukanlah jalur penerbangan konvensional.

Pada usia yang belia itu, saya juga telah teracuni oleh buku yang menceritakan perjuangan mekanik sepeda Wright bersaudara menerbangkan cikal bakal pesawat terbang di Kill Devil Hill, North Carolina pada tahun 1903. Saya kagum dengan semangat Nurtanio dan Wiweko, duo putra bangsa yang berhasil menerbangkan tiga pesawat buatan sendiri bernama Kumbang, Belalang dan Gelatik di langit Nusantara. Kebahagiaan saya ikut membuncah ketika pada tahun 1995, Gatot Kaca, pesawat berbadan lebar dengan teknologi canggih karya anak bangsa berhasil terbang perdana dengan mulus.

Segala capaian tersebut membuat saya makin teguh bahwa pada saatnya kelak saya harus menjadi bagian dari perkembangan dunia kedirgantaraan tanah air. Pilot, adalah mimpi yang terbersit kala itu mengenai peran apa yang akan saya mainkan. Dalam imajinasi kanak-kanak saya waktu itu, pilot merupakan profesi keren bin ideal. Ia dapat mengunjungi berbagai pelosok dalam waktu singkat, memiliki fisik bugar lagi pintar, berseragam rapi, bergaji mentereng, serta bermoral baik dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan pesawat seharga jutaan dolar beserta ratusan penumpang di kabinnya.

Sewajarnya bocah yang belum mengenal realitas hidup, saat itu saya berkeyakinan bahwa pada masanya kelak akan mengenakan seragam necis dengan empat bar di pundak, pilot kapten – chief de mission. Beruntung, masa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, prestasi akademik saya bisa dibilang cukup memuaskan. Jadi langganan tiga besar di SD, dan hampir selalu bercokol di peringkat 10 teratas sepanjang SMP hingga lulus SMA. Pikir saya, setidaknya ini bisa jadi modal bagus untuk merebut satu tiket di sekolah penerbang kenamaan.

Keraguan mulai muncul di pertengahan masa SMA. Kala itu, informasi belum selancar sekarang, setidaknya untuk konteks Bukittinggi, kota kecil tempat saya tinggal. Sedikit sekali literatur yang mengulas tahap yang harus ditempuh untuk menjadi pilot. Begitupun, informasi di internet belum sederas sekarang dan minim sekali yang relevan.

Yang saya tahu, terdapat sebuah sekolah penerbangan kedinasan (yang katanya gratis) di daerah Curug, Banten. Ini menjadi pilihan paling rasional, sebab saya tidak berasal dari keluarga ningrat, yang sanggup menyediakan modal ratusan juta untuk memperoleh lisensi CPL-IR (Commercial Pilot License with Instrument Rating). Di titik ini saya sebenarnya mulai gamang, dengan pengetahuan dan jejaring amat minim, rasanya peluang saya amatlah sempit untuk bisa jadi siswa di sekolah penerbang. Apalagi, lingkungan teman dan keluarga, tak satupun yang sejalan dengan impian saya berbelas tahun tersebut.

 

Impian vs Realita

Saya tersedot mainstream kehidupan paska SMA saat itu. Begitu selesai ujian nasional, berangkat ke ibukota provinsi untuk mengikuti bimbingan belajar intensif sebagai persiapan seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Singkat cerita, setelah beberapa bulan bimbel dan mengikuti berbagai ujian kampus (negeri, swasta, dan kedinasan), akhirnya nama saya masuk dalam jajaran calon mahasiwa baru di tiga kampus berbeda: 1) jurusan teknik penerbangan di sekolah yang berlokasi di kompleks Bandara Adisutjipto Yogyakarta, 2) jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia dan 3) penerima beasiswa penuh di jurusan Manajemen Universitas Bakrie (d/h Bakrie School of Management).

Pilihan pertama tidak saya tindaklanjuti saat itu, karena merasa kampusnya belum cukup punya reputasi. Juli 2007, bersama dengan kakak yang memasuki tahun akhir studinya di Farmasi UI, saya terbang ke ibukota dengan visi untuk kehidupan yang lebih baik. Enam bulan pertama, saya menjalani rutinitas bolak-balik Depok – Kuningan karena kuliah di dua kampus, UI dan UB.

UI menawarkan kedinamisan hidup sebagai mahasiswa, networking yang luas dan kuat, serta beragam pilihan unit dan kegiatan yang memungkinkan siapa saja yang menimba ilmu disana untuk berkembang semaksimalnya. Sementara UB, layaknya sebuah kampus baru dengan sokongan kuat dari konglomerasi, membuai kami angkatan pertama penerima beasiswa dengan fasilitas yang serba lux. Gedung, buku hingga dosen-dosen beken disuguhkan dalam kualitas prima.

Namun, agar lebih optimal, saat itu saya harus memilih salah satu diantaranya. Dengan pertimbangan ingin belajar hidup mandiri tanpa kiriman dari orang tua di kampung, saya memutuskan melanjutkan studi di UB. Pilihan yang di kemudian hari menjadi kepelikan yang amat sangat, karena begitu banyak “gejolak” yang muncul dari dalam maupun luar diri selama menjalaninya.

Jika dikalkulasi, dalam kurun sembilan tahun hingga sekarang, sejujurnya “ruang kelas” yang meluaskan wawasan, melebarkan jaringan dan mendewasakan sikap justru tak banyak saya peroleh di kampus. Pematangan diri lebih banyak saya lakukan di lingkungan organisasi serta melalui berbagai perjalanan. Disamping itu, saya juga telah mencoba bekerja di beberapa perusahaan, seperti yang rata-rata rekan seangkatan saya lakukan. Namun, justru karena inilah saya makin menyadari bahwa saya bukanlah seorang yang cocok berhadapan dengan rutinitas yang menjemukan di belakang meja. Saya butuh sesuatu yang lebih dinamis dan membangkitkan gairah.

 

Better Late than Never

Ruang kerja saya. Suatu saat nanti!
Ruang kerja saya. Suatu saat nanti!

Cita-cita untuk menjadi penerbang sebenarnya tak pernah pupus. Sambil terus mencari peluang, sejujurnya saya masih berharap angan sejak balita itu dapat mewujud nyata. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah buku yang memuat kutipan dari Alvin Toffer, seorang futuris kenamaan. Ia menyatakan bahwa gelombang kejut (shock wave) yang akan melanda umat manusia berikutnya adalah aerospace, era ruang angkasa.

Hal ini sangat mudah terlihat. Mengambil contoh di Indonesia saja, walau sedikit terseok, industri penerbangan terus berkembang. Pesawat baru terus ditambah, aerodrome di berbagai daerah dibenahi, kualitas SDM juga terus digenjot melalui berbagai sekolah yang dibuka oleh pemerintah maupun swasta. Perkembangan ini sejalan dengan kebutuhan, dimana tingkat mobilisasi orang dan barang yang menuntut waktu sesingkat mungkin semakin tinggi. Apalagi, belakangan tarif transportasi udara relatif bersaing (bahkan pada beberapa kasus lebih hemat) dibanding moda darat atau laut.

Walau masih simpang-siur, data mengungkap bahwa sekolah pilot yang ada belum sanggup menyuplai kebutuhan dari maskapai nasional yang ada saat ini. Di titik inilah saya kembali melihat peluang. Rasa optimis dan ikhtiar pun kembali dikuatkan. Walaupun tertunda hampir satu dekade, namun jika takdir telah menggariskan, tiada suatu rintangan pun yang dapat menghalangi mimpi sejak balita: MENJADI PILOT KAPTEN!

Sembari terus menyiapkan diri, berdo’a, belajar dan mencari ”sponsor” yang bersedia meminjamkan biaya pendidikan yang mendekati angka satu milyar tersebut, saya masih bersepakat pada Paulo Coelho yang mengatakan “when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it..”

Mari kita lihat keajaiban Tuhan bekerja, memeluk mimpi dan mengatur jalan hidup saya kelak 🙂

 

~Bandung, 9 September 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s