Catatan Harian · Sosial Budaya · Tualang

Tambrauw, Kabupaten Konservasi?

Once a year, go someplace you’ve never been before” – Dalai Lama

Kutipan perkataan dari tokoh monumental bangsa Tibet ini pertama kali saya dengar beberapa tahun silam, jauh sebelum traveling menjadi se-hipster sekarang. Awalnya, saya sebenarnya cukup bertanya-tanya, urgensi apa yang membuat seorang tokoh dengan jutaan pengikut setia ini sampai menganjurkan untuk bepergian. Jawabannya kemudian baru saya temukan perlahan, setelah dengan segenap usaha (yang tentu juga tak lepas dari do’a dan keberuntungan) saya menjalankan sabda sang Dalai.

Awal Juni silam, saya baru saja kembali berkutat dengan aktifitas perkotaan setelah drama panjang penugasan social maping di pucuk kepala burung Papua, Tambrauw. Sebagaimana saya ulas di tulisan sebelum ini, daerah yang saya datangi tersebut bukanlah daerah yang familiar, sehingga melakukan eksplorasi selama lebih kurang empat bulan di lapangan mendatangkan rasa penasaran sekaligus antusias yang agak lebih dibanding dosis ketika bertandang ke belahan lain nusantara.

Kabupaten Tambrauw memang baru saja dimekarkan pada tahun 2008, dengan mengakuisisi wilayah dari Sorong dan Manokwari yang berada di sisi barat dan timurnya. Sebagian besar daerahnya seolah luput dari perhatian selama ini, sehingga para stakeholder menggunakan beragam pendekatan guna menggenjot pembangunan. Dengan pertimbangan percepatan dan pemerataan, daerah yang belum genap berusia delapan tahun ini telah mengalami beberapa kali pemekaran; 2013 dimekarkan menjadi 11 distrik dan 29 kampung serta pada tahun 2015 kembali dipecah menjadi 29 distrik dan 216 kampung dengan luas total teritorial mencapai 11.500 km2.

Dari luasan ini, seantero kabupaten hanya dihuni tak lebih dari 32.454 jiwa. Artinya, jika dibagi rata, terdapat tak lebih dari tiga orang manusia saja yang menghuni setiap kilometer di Tambrauw. Tercatat empat suku asli sebagai pewaris murni tanah ulayat disini, yaitu Abun, Mpur, Miyah dan Ireres. Sementara Moi dan Bikar menjadi suku pendatang yang telah mengalami akulturasi panjang  dengan suku asli. Pranata sosial ini kemudian dipecah lagi menjadi beberapa fam (sub suku) dan puluhan jenis bahasa atau dialek.

 

Idealisme Ditengah Keterbatasan

Sebagai sebuah daerah baru, bisa dikatakan Tambrauw mempunyai determinasi yang sulit dicarikan tandingannya. Pemerintah kabupaten secara mantap menyatakan bahwa 82% dari luas total wilayahnya merupakan kawasan konservasi. Hal yang lebih kurang sama (walaupun masih diperlukan banyak pembenahan) baru tercatat dilakukan oleh Pemkab Malinau dan Kapuas Hulu di area Heart of Borneo, Kalimantan.

Kawasan Konservasi Tambrauw seluas hampir 9.500 km2 ini terbagi atas empat jenis wilayah perlindungan, a) kawasan konservasi perairan daerah, b) cagar alam laut, c) suaka margasatwa laut dan d) cagar alam. Tujuh tahun silam, status kabupaten konservasi ini turut diperkuat melalui UU RI No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Di tingkat lokal, undang-undang ini didukung lagi dengan misi sang bupati terpilih butir kelima yang berbunyi “menjaga kelestarian lingkungan dengan menjadikan Kabupaten Tambrauw sebagai kabupaten konservasi.”

Sebuah kebijakan yang menantang tentunya, mengingat dengan peraturan ini otomatis akan menghambat berbagai jenis pengusahaan  dan investasi, khususnya yang bersinggungan langsung dengan pengolahan berbasis sumber daya alam. Konon, beberapa perusahaan logging dan tambang pernah mencoba masuk ke daerah ini, namun sang bupati tetap tak bergeming dengan “angin surga” yang dibawa para pemodal berkantong tebal itu.

Dalam sebuah kesempatan diskusi saat awal kedatangan tim Februari 2016 silam, Bupati Gabriel Assem S.E, M.Si menuturkan bahwa ia melalui kemitraan dengan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mencoba menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan tiga pilar utama, meliputi kelayakan secara ekonomi (economically viable), dapat diterima secara sosial (socially acceptable) dan ramah lingkungan (environmentally sound) yang dijalankan secara simultan dan seimbang. Sebuah langkah berani, setidaknya untuk konteks daerah tertinggal di Indonesia, disaat para pimpinan daerah lain seolah berlomba menggenjot pembangunan daerahnya dengan cara pintas mengeksploitasi lingkungan hidup.

Menjadi menarik, kebijakan ini berjalan seiring dengan kebiasaan di tataran akar rumput. Dilihat dari pola produksi pertanian atau perikanan misalnya, mayoritas masyarakat masih memanfaatkannya sekedar untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan kerabat dekat, alih-alih diproduksi secara masif dengan motif mengeruk keuntungan. Kebun dalam luasan yang tak lebih dari satu hektar, biasa ditanami aneka jenis tanaman pangan secara berselang-seling. Pisang, keladi, petatas, jagung atau langsat ialah beberapa contoh.

Pemenuhan kebutuhan protein hewani dicukupi dengan cara berburu di hutan yang masih menyimpan aneka jenis hewan seperti rusa, babi, kasuari, lao-lao atau jenis lainnya. Perburuan ini dengan masih tetap memerhatikan keberlanjutan, dimana hanya hewan dengan usia dan kondisi fisik tertentulah yang boleh diburu, menggunakan tombak, panah atau dijerat. Itupun, dalam jumlah yang masih dalam taraf wajar, sehingga keseimbangan ekosistem tidak ikut terganggu.

Kondisi yang setali tiga uang juga tampak pada pola melaut. Sausapor, untuk sekedar mengambil contoh, walau berada di tepi Samudera Pasifik yang berlimpah hasil laut, namun akan sangat sulit menemui warga yang menjalankan aktifitas hariannya di laut. Kapal-kapal bantuan dari berbagai lembaga pemerintah dengan kondisi masih baru lebih banyak bersandar ke tepian dibanding menangguk hasil laut.

Diluar daripada pemanfaatan yang alakadarnya ini, situasi ini sejalan pula dengan Boelaars (1978) yang memetakan bahwa masyarakat di wilayah peramu cenderung memiliki etos kerja rendah karena segala hal yang diperlukan sebenarnya telah “disediakan” oleh alam sehingga derajat aksi dan kreativitas dalam mengatasi tantangan alam menjadi relatif rendah.

 

Manikam Perawan di Pucuk Kepala Burung

Mbur, nden, Sem, mikindewa membau……..

Kalimat singkat diatas merupakan ungkapan dalam bahasa Abun yang berarti “tanah, hutan dan laut dilindungi untuk kehidupan.” Artinya, kebijakan yang ditempuh pemerintah berjalan seiring dengan kearifan lokal masyarakat yang telah memiliki budaya perlindungan alam seisinya secara turun temurun.

Salah satu perwujudan yang masih berjalan hingga kini ialah adanya sistem pendidikan yang bersumber dari adat-istiadat lokal yang dikenal sebagai pendidikan inisiasi. Dalam bahasa Abun, sekolah ini dinamakan Wuon, sehingga untuk menyebutkan tempat proses belajar mengajarnya dinamakan Nuwon (rumah belajar Wuon) dan siswanya dinamakan Yewon. Peserta sekolah ini adalah laki-laki dari suku Abun, Miyah dan Ireres yang dianggap telah memenuhi kriteria. Sedang untuk suku Mpur dan Bikar (Biak Karon), walau terdaftar sebagai suku asli di Tambrauw, tidak terlibat dalam pola pendidikan ini.

Selama proses Wuon dengan durasi waktu bervariasi dari enam bulan hingga belasan tahun, para siswa dibekali berbagai pengetahuan yang intinya mendoktrin keharmonisan hidup dengan alam sekitar. Samuel Bame, salah seorang kepala sekolah yang ditemui di Distrik Senopi, menuturkan bahwa kini pengajaran Wuon tidak hanya mencakup keterampilan berburu, meramu, paramedis dan supranatural saja, namun juga mulai masuk pada materi-materi yang biasa diperoleh dalam sekolah formal seperti membaca, menulis dan menghitung. Setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan dan dinyatakan sudah tidak memiliki pelanggaran, para Yewon akan diambil sumpahnya diikuti dengan upacara oleh keluarga dan warga kampung tempat ia berasal.

Kondisi memprihatinkan timbul ketika melihat sarana prasarana pendidikan kabupaten yang masih belum proporsional. Di Distrik Miyah yang dilalui jalur Trans Papua Barat, masih belum memiliki sekolah menengah, hanya satu PNS guru SD, satu tenaga honorer, dan satu dari SM-3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terpencil, Tertinggal), program besutan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Kondisi sama terjadi di Kampung Syukwes, yang harus ditempuh menaiki longboat selama dua jam dari pusat Distrik Kwoor. Disana hanya terdapat satu SD dengan satu guru PNS dan satu guru SM-3T. Terbatasnya ketersediaan sekolah dan pengajar ini dapat menghambat cita-cita personal siswa dan komunal Tambrauw melangkah menuju kabupaten konservasi yang hakiki.

Semboyan pada kalimat pembuka diatas juga terbukti jika melihat langsung bentang lanskap seantero Tambrauw. Asri, bahkan masih banyak bagian yang tak terjamah hingga abad serba mutakhir ini. Topografi daerahnya menyajikan keragaman yang kompleks, dari pesisir di sisi utara yang langsung berhadapan dengan Pasifik hingga gigiran Pegunungan Tambrauw yang membujur dari timur ke barat.

Tiga jam menaiki speedboat dari ibukota Sausapor, kita akan tiba di Distrik Abun yang menjadi lokasi peneluran penyu belimbing (Dermocheliys coreace) terbesar di Pasifik Selatan bahkan dunia. Selain itu, lima spesies penyu terancam punah lainnya juga melakukan proses penelurannya di kawasan yang sama. Saban tahun, menurut riset WWF (World Wild Fund for Nature) tahun 2008, 1.209 ekor penyu bertelur di Warmon (sepanjang 6 km) dan sekurangnya 1.816 di Jamursba Medi (sepanjang 18 km). Penyu-penyu langka ini juga rutin melakukan migrasi hingga California di pantai barat Amerika Serikat terutama pada musim kawin.

Sebagaimana ditemukan di beberapa komunitas masyarakat pesisir Indonesia, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari laut juga memiliki budaya pelestarian yang disebut Sasi. Sasi merupakan sistem pelestarian laut dengan membuat aturan boleh-tidaknya mengambil hasil tertentu dalam kurun waktu tertentu. Ketika sasi dibuka, hasil laut selain ikan berupa biya mata bulan, lobster, kulit kerang, dan biya lola haram untuk dijaring.

Pelaksanaan sasi yang berlangsung dalam kurun satu hingga tiga tahun ini disesuaikan dengan kebutuhan bersama saat sasi ditutup dan waktu panen hasil laut yang apabila dilewatkan akan menyebabkan hasil laut tersebut mati dengan sendirinya. Prosesi upacara buka tutup sasi dihadiri oleh pemuka adat, pemerintah dan agama yang dibacakan berupa sumpah mengatasnamakan Tuhan. Artinya, apabila ada oknum yang melanggar disengaja ataupun tidak, akan mendapat kutukan  berbentuk penyakit hingga berujung pada kematian.

Beranjak sedikit ke pedalaman, tersaji Pegunungan Tambrauw yang membujur dari barat ke timur seolah membagi daerah ini menjadi dua bagian. Hutan yang rapat dengan medan  berkontur terjal membuat banyak bagian dari kawasan yang melingkupi Cagar Tambrauw Utara dan Cagar Alam Tambrauw Selatan ini masih tak terjamah. Pada peta rupa bumi terbitan Badan Informasi Geospasial, gemunung ini mencapai ketinggian maksimumnya di Puncak Kwooka (3.000 mdpl), dikenal juga sebagai Dokdar oleh penduduk setempat.

Banyak mitos beredar, yang sebenarnya belum teruji kebenarannya, membuat belum satupun orang luar menginjakkan kakinya di tanah tertinggi orang Abun tersebut. Warga percaya, puncak dari gunung ini hidup, sehingga dia akan berpindah-pindah begitu ada yang coba mendekati. Konon, hanya beberapa pemuka dengan keahlian supranatural tertentu sajalah yang dapat menyambangi dan mengetahui secara pasti apa yang dikandung di sekitar kawasan Dokdar ini.

Suku-suku di Tambrauw juga mengenal sistem adat dalam pengelolaan tanah atau yang lebih dikenal dengan tanah ulayat. Didalamnya, tanah dibagi lagi menjadi tanah pemukiman sebagai wilayah bersosialisasi antar warga, tanah perkebunan untuk pemanfaatan hasil hutan serta tanah keramat yang terlarang untuk dilakukan aktifitas primer warga.

Tanah keramat atau hak kasurungan, menurut kepercayaan setempat dahulunya merupakan wilayah yang digunakan nenek moyang untuk melakukan ritual penyembahan terhadap hal-hal yang dianggap sebagai manifestasi dari tuhan, seperti batu, pohon dan sungai. Tidak hanya itu, warga pun memercayai adanya sosok misterius sebagai penjaga, berupa manusia berekor dan dewi ular. Kasurungan biasanya ditandai dengan kubangan lumpur sebagai tempat berendam babi, aliran sungai yang turun dari puncak gunung, dan juga kain lusuh yang sengaja digantungkan pada dahan-dahan pohon di tengah rimba.

Dalam kawasan ini, bukan berarti mutlak bebas dari aktifitas manusia. Kegiatan sekunder yang sifatnya tidak berkelanjutan seperti melintas dan berburu masih diperkenankan. Siapapun yang melewati daerah ini dilarang keras melakukan pengrusakan alam, berburu menggunakan senjata api, pembukaan lahan untuk kebun, membangun rumah serta menodai hal-hal yang dianggap suci.

 

Ekonomi Berkembang, Lingkungan Terjaga

Disamping keberanian penetapan daerah konservasi, tak sedikit pula pihak yang pesimis mengenai pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan Tambrauw segera lepas landas dari status sebagai daerah tertinggal di kawasan timur Indonesia. Namun, sang bupati sebagai motor penggerak tak kehabisan akal, ia membuat langkah terobosan yang seminimal mungkin membawa efek negatif terhadap alam.

Sadar akan wilayahnya yang banyak dilalui oleh sungai besar, air sudah mulai dikelola untuk membawa potensi pendapatan bagi daerah. Selama ini, distrik-distrik di Tambrauw menggantungkan sumber listrik dari generator set berbahan bakar solar. Mulai awal tahun 2016, PLTA yang digerakkan oleh aliran Sungai Warabiyai di sisi timur laut Sausapor telah mampu memproduksi 1,6 megawatt listrik. Pemerintah menanamkan investasi Rp 40 miliar untuk pembangunan tahap pertama ini. Dengan asumsi pendapatan Rp 1.750,-/kwh setelah nanti dijual ke PLN, daerah mendapat tambahan PAD sebesar Rp 2,8 miliar per bulan sehingga modal investasi bisa dikembalikan dalam jangka waktu 1,6 tahun.

Kedepan, dengan memutar pendapatan dari penjualan setrum ini, pemerintah berencana melakukan pembangunan lanjutan hingga potensi 300 megawatt yang sebenarnya dikandung dapat dioptimalkan. Perhatian terhadap sumber daya air juga telah dipraktekkan dengan membuat saluran drainase dari Sungai Warabiyai atau Kali Jodoh dan air terjun Ayandrat di Distrik Miyah guna menunjang aktifitas dan membiasakan hidup bersih masyarakatnya.

SAM_4651

Kondisi alam Tambrauw yang menyajikan pegunungan berhutan rimbun serta pulau dengan gradasi laut nan cantik berpotensi menjadi daya tarik wisata kelas regional bahkan dunia. Bila Selandia Baru memiliki padang savana yang luas menghijau, di Tambrauw kita dapat menjumpainya di Lembah Kebar, tujuh jam perjalanan darat dari Sausapor. Melengkapi savana yang terhampar seluas mata memandang, terdapat peternakan sapi yang dibiakkan secara liar, air panas Atai, geowisata Goa Kombuaki dan Gunung Netoti yang cantik menjulang menjadi pembatas dengan Distrik Amberbaken. Setelah puas ragam keeksotisan Kebar, pengunjung dapat membawa pulang rumput kebar (Biopytum petersianum) sebagai buah tangan yang dipercaya dapat meningkatkan kesuburan pada wanita.

Pilihan lain berwisata minat khusus di Tambrauw ialah mendatangi Distrik Bikar, 45 menit perjalanan dari ibukota Sausapor. Wisata sejarah dan religi menjadi andalan disini. Pada masa perang dunia kedua berkecamuk, wilayah Bikar menjadi salah satu basis pertahanan sekutu sebelum menggempur musuh. Tak heran, setelah perang usai dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki, pasukan sekutu meninggalkan begitu saja artileri dan bermacam alutsista-nya. Hingga sekarang, kita masih dapat menjumpai tank, kapal, mortir dan aneka jenis lainnya yang terserak di sekitar kampung maupun di bawah perairan menuju Pulau Meossu. Sedang, di Pulau Amsterdam yang dapat ditempuh 30 menit menyeberang selat menggunakan Johnson, terdapat tugu zending sebagai monumen peringatan awal masuknya Kristen ke Tambrauw yang dibawa oleh Yonash Nandissa pada tahun 1928.

Konservasi sebagai isu sentral, bagaimanapun harus didukung penuh para pelaku industri yang telah atau akan menjalankan usahanya di wilayah adminstratif Tambrauw. Kegiatan yang dilaksanakan haruslah bertanggung jawab, sekurangnya dengan menjalankan CSR (corporate social responsibility), menerapkan pola kemitraan serta meminimalisir dampak negatif terhadap alam, sosial dan budaya masyarakat setempat. Dengan demikian, perkembangan industri tidak hanya semata-mata meningkatkan pajak dan investasi daerah, namun juga kualitas hidup masyarakat dan kelestarian alam  dimana industri tersebut beroperasi.

 

——- Bukittinggi, 7 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s