Catatan Harian · Sosial Budaya · Tualang

Sausapor: Cerita Dari Tanah yang “Terpisah”

Senin malam (8/2) kapal perintis Sunlia bergerak meninggalkan pelabuhan rakyat Kota Sorong. Bersama ratusan penumpang dan berton barang yang menyesaki, kapal kayu ini akan melayari kepala burung, membelah ombak Pasifik menuju Sausapor, Kabupaten Tambrauw Papua Barat.

Angin bertiup cukup kencang begitu kapal keluar dari teluk yang mengurung dermaga di Sorong. Karena sudah cukup lelah dengan kegiatan sehari itu, saya bersama sekitar 90 orang teman satu tim langsung mengambil ancang-ancang untuk merebahkan diri dan beristirahat. Biasanya, diperlukan waktu tujuh jam perjalanan sebelum kapal mencapai ibukota (sementara) Tambrauw itu.

Langit masih gelap begitu kapal kayu perintis yang kami tumpangi merapat ke dermaga. Para penumpang beringsut turun, sementara kami menunggu untuk turun di akhir mengingat bawaan yang amat banyak. Kedatangan kami disambut tim aju, Pak Pardol dan Pak Wagirin yang sudah datang 10 hari lebih cepat sebelum kedatangan kami ini. Dibantu oleh aparat dari Koramil dan masyarakat setempat, tim aju inilah yang kulonuwun terlebih dahulu, membuat instalasi camp dan kebutuhan pendukungan buat tim besar lainnya.

Meluruskan badan sejenak, beberapa truk berdatangan untuk memobilisasi logistik yang kami bawa menuju Kotis (posko taktis) yang berada sekitar 500 meter dari dermaga. “Rumah” kami selama lebih kurang tiga bulan kedepan ini bisa dikatakan berada di jantung kampung Sausapor. Sekelilingnya terdapat bangunan sekolah SD – SMP – SMA, Polsek dan permukiman yang lumayan ramai. Beranjak siang, matahari bersinar amat terik yang terasa sangat perih ketika terpapar langsung ke kulit.

Terra Incognita

Jujur saja, sebelum terpilih dan ditempatkan disini, Tambrauw bukanlah nama yang familiar bagi saya dan mungkin juga kebanyakan dari anggota tim. Saya sedikit berkenalan dengan nama ini saat beberapa pemateri dan tim ahli membahas mengenai salah satu kabupaten termuda di provinsi Papua Barat ini. SK pertama pembentukannya keluar pada tahun 2008 yang dibagi menjadi tujuh distrik (setingkat kecamatan di Pulau Jawa).

Lima tahun kemudian, pada 2013 terjadi pemekaran wilayah sehingga Tambrauw meliputi 11 Distrik dan 29 kampung. Sebagian wilayah Sorong dan Manokwari diakuisisi, sehinga total luas teritorial daratannya menjadi 11.500 km2. Tahun lalu, dengan pertimbangan percepatan dan pemerataan pembangunan, Pemda kembali memekarkan wilayahnya sehingga per bulan Februari 2016 ini Tambrauw terhimpun atas 29 distrik beserta 216 kampung.

Tambrauw mengikrarkan dirinya sebagai kabupaten yang sadar akan kelestarian alam. Sang bupati, Gabriel Assem dengan bangga menyebut 82% wilayah administratifnya merupakan kawasan konservasi. ”Mbur, Nden, Sem, Mikindewa Membau” (tanah, hutan, dan laut dilindungi untuk kehidupan) ialah semboyan populer yang didengungkan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya alam lestari. Walau beberapa tahun silam sempat diobrak-abrik oleh beberapa perusahaan logging dan tambang, saat ini dibawah pemerintahan sang bupati, kabupaten mantap melangkah dengan kebijakan green sustainable development-nya.

Menariknya, topografi kawasan cukup bervariasi dari pesisir hingga dataran tinggi. Pegunungan Tambrauw yang memanjang dari barat ke timur seakan membagi wilayah ini menjadi dua sektor, sebagian ke utara pesisir dan bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi sedangkan ke arah selatannya merupakan pedalaman yang hingga kini masih cukup sulit diakses. Puncak tertinggi pegunungan ini bernama Kwooka, masyarakat lokal menamakannya Dokdar (3.000 mdpl) terletak di Distrik Syujak konon belum pernah berhasil didaki baik oleh penduduk maupun pendaki gunung dari luar daerah. Masyarakat masih mengeramatkan keberadaan gunung ini, sehingga hampir mustahil untuk mendakinya secara “legal” bahkan dengan rangkaian upacara adat sekalipun.

Selain berpengaruh terhadap suhu cuaca, perbedaan ini juga mendatangkan keberagaman terhadap livelihood masyarakatnya. Abun, sebagai suku asli disini tersebar baik di sepanjang garis pantai maupun di rimba gunung yang bahkan sebagiannya hampir tak pernah dijamah oleh orang luar. 2008 silam, setelah melalui perjalanan naik turun bukit, Pendeta Hans Mambrasar menemukan komunitas suku terasing Abun yang masih hidup sangat sederhana di tengah belantara.

“Mereka yang saya temui di Kampung Jokbijoker (Distrik Kwesefo) saat itu masih belum berpakaian. Butuh waktu seminggu berjalan kaki dari Syukwes untuk bisa sampai di kampung,” kisah sang pendeta. Suku asli lain, Miyah dan Ireres mendiami gunung-gunung terpencil semenjak ratusan tahun silam. Sedang Mpur, Moi dan Bikar lebih mendominasi kawasan dataran rendah. Suku Bikar (Biak Karon) sendiri sebenarnya merupakan pendatang dari tanah Biak akibat terjadinya gerakan Koreki yang memaksa banyak warga berlayar dan menghuni jazirah pesisir kepala burung.

Dari segi religiusitas, masyarakat di Tambrauw mulai mengenal agama semenjak datangnya misionaris Jerman pada tahun 1855. Carl Willem Ottow dan Gotlob Geissler, yang kemudian dinobatkan sebagai Rasul Papua, bertolak dari Batavia menuju Papua atas restu Sultan Tidore yang waktu itu masih menguasai wilayah. Mereka dipersilahkan menyebarkan Protestan di sisi utara pulau, sebab di selatan rata-rata masyarakat sudah di-Islamkan. 57 tahun kemudian, dibawah zending UZV Doom, Yonas Nandissa menguatkan penginjilan yang sudah dirintis oleh misi terdahulu. Ia mendarat di Pulau Dua (Missou / Amsterdam) terlebih dahulu yang terletak berseberangan dengan kampung Werur di Distrik Bikar.

“Pencerahan” ini kemudian hari dilanjutkan oleh para misionaris yang “bertaruh nyawa” mengenalkan sistem keagamaan pada warga yang sebelumnya belum mengenal tuhan. Selain menyebarkan ajaran agama, para misi yang sebagiannya berkebangsaan asing ini juga berengaruh besar terhadap kemajuan pendidikan maupun pembangunan skala mikro khususnya di kampung-kampung terpencil. Hingga kini, mayoritas masyarakat menjadi pemeluk kristen yang taat. Setiap minggu pagi, kampung akan lengang karena aktifitas sembahyang terpusat di gereja-gereja yang jumlahnya cukup banyak tersebar di seantero distrik.

Apiknya Budaya Leluhur

Koteka dan honai barangkali ialah imaji jamak yang muncul ketika mendengar kata Papua. Begitupun, sebenarnya warisan budaya yang terdapat di bumi Tambrauw jauh lebih kaya dan menarik dari itu. Pendidikan inisiasi, noken, kain timor, dan koba-koba merupakan sebagian kecilnya untuk sekedar mengambil contoh.

Jauh sebelum pendidikan formal dikembangkan, suku asli Tabrauw telah menyadari arti penting pendidikan bagi generasi mudanya walaupun dalam format yang tidak serupa. Anak-anak pilihan tetua adat akan tinggal di rumah adat dalam kurun satu hingga dua tahun untuk menjalani pembekalan kehidupan yang meliputi keterampilan bercocok tanam, berburu, pengobatan tradisional, berkeluarga, juga pengenalan aturan dan ritual adat. Bagi kaum laki-laki, prosesi yang sangat rahasia ini dikenal dengan nama Wuon, sedang bagi perempuan disebut sebagai Fnia Mroh.

Selama menjalani proses ini, sang anak dilarang berhubungan dengan dunia luar bahkan dengan orang tuanya sekalipun. Alih-alih berkecil hati, para orang tua yang anaknya terpilih mengikuti sekolah adat ini malah mendatangkan kebanggaan yang membuncah walaupun harus puasa berhubungan dengan anak kandungnya dalam kurun waktu tertentu. Jebolannya dipercaya memiliki kesaktian diatas rata-rata manusia normal. “Ia meludah saja dapat membuat seseorang mati. Tapi terlarang juga baginya untuk menyalahgunakan ilmunya tersebut karena salah-salah nanti malah mendatangkan karma bagi dirinya sendiri karena sudah terikat sumpah,” tutur Jusak Johanes Sundoy, biasa dipanggil Anis, seorang tokoh masyarakat saat kami temui di rumahnya di kampung Jokte, Sausapor.

Keunikan lain juga dijumpai dalam penggunaan kain Timor yang sangat lekat dengan prosesi adat di Tambrauw. Kain yang coraknya menyerupai tenunan Nusa Tenggara ini salah satunya digunakan sebagai seserahan sebelum seorang pria menikahi wanita. Semakin tua kain, semakin tinggi nilai dan semakin mahal pula harganya. Saat coba menyelidiki asal mula keberadaan barang ini di tanah Papua, seperti kebanyakan cerita lokal lainnya, informasi beragam disampaikan oleh informan yang berbeda. Dari ceritera pak Anis, dan yang kami rasa paling logis, kain Timor ini dahulunya dibawa oleh pelaut Portugis sebagai alat tukar (barter) dengan hasil bumi yang diperoleh dari penduduk. Kain ini kemudian disimpan sedemikian rupa di wadah yang awet, sehingga mengesankan bahwa benda ini ialah benda pusaka peninggalan leluhur. Versi lain menyebut, sang pemilik memperoleh kain melalui proses supranatural. Melalui mimpi atau perjalanan magis tertentu.

Hal lain yang membuat saya berdecak ialah kemampuan warga dalam berargumentasi dalam forum terbuka. Sabtu (20/2) saya diajak bapak kepala distrik Sausapor, Fredi Mofu menghadiri musyawarah warga Abun dan Bikar yang akan membahas usulan nama bandara yang akan diresmikan beberapa bulan mendatang oleh presiden. Balai pertemuan warga yang terletak di Kampung Werur disesaki oleh sekurangnya 100 orang warga. Dalam kurun tiga jam, setiap individu diberikan kesempatan menyampaikan gagasannya tanpa memandang status, apakah ia pejabat adat / pemerintah / agama maupun sebagai warga biasa.

Terdapat 10 usulan nama bandara yang masing-masing oleh pengusungnya memiliki latar belakang sendiri. Nama-nama tersebut diambil dari posisi geografis, nama orang yang dianggap berjasa, fam dari suatu suku dan beberapa lainnya. Melalui proses voting yang sangat sederhana, muncullah tiga nama dengan perolehan suara terbanyak. Mac Arthur (42 suara), Mar (15 suara) dan Werur (13 suara). Nama panglima perang sekutu pada masa PD II ini mengemuka karena warga merasa bahwa sang jenderal berjasa membuka keterisolasian wilayah dan membangun infrastruktur pada masanya. Menurut catatan, sosok bernama lengkap Douglas Mac Arthur ini memilih Tambrauw sebagai salah satu basis AS dalam penyiapan penyerangan ke Hiroshima dan Nagasaki. Secara tidak langsung, warga menilai kekalahan Jepang ini berperan besar dalam proses merdekanya Indonesia dari tangan penjajah. Sehingga, kalau disetujui pusat nama ini akan cukup fenomenal karena bisa jadi bandara di Werur inilah yang pertama memakai nama asing sebagai identitasnya.

***

Hari ini kami memasuki minggu ketiga berada di tanah moyang orang Abun. Perlahan tapi pasti, ramah tamah dan keeksotisan khas timur terus memikat hati. Masih tersisa 2,5 bulan kedepan, dan masih banyak distrik dan kampung menunggu untuk disambangi guna menggali nilai-nilai humanis yang berjalan pada keseharian warganya. Hingga di titik ini saya menjadi makin bersetuju dengan apa yang pernah seorang sahabat sampaikan: kekayaan tidak melulu diukur dari seberapa banyak uang yang dipunya, melainkan nilai-nilai kearifan yang ditukarkan dalam sebuah perjalanan.

Kampung Emaos, 2 Maret 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s