Catatan Harian · Sosial Budaya · Tualang

Mimpi yang Bekerja

Pernah mendengar kata “Mestakung” (semesta mendukung)? Konon, ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, ikhtiar dan do’a sepenuh hati yang kita lakukan itu akan didengar oleh semesta yang akan membukakan jalan untuk meraih mimpi yang dimaksud. Kata ini seolah menjadi mantra ajaib yang entah kebetulan atau tidak telah saya buktikan berkali-kali kebenarannya. Begitupun untuk keberangkatan saya selama sekitar empat bulan ke Papua Barat kali ini.

Keterlibatan saya dalam ekspedisi yang diorganisir oleh Kopassus TNI-AD ini bisa dikatakan sebuah asa lama yang terwujud. Jauh sebelum memutuskan untuk mengirim aplikasi, saya memang berkeinginan datang dan berbuat sesuatu di Tanah Papua. Entah kenapa, bagi saya saudara bungsu di timur jauh ini memiliki pesonanya sendiri, yang makin diselami makin menggugah rasa kepenasaranan.

Hari ini tepat sebulan pra ekspedisi berlangsung. Saya bersama sekitar 450 orang teman dari sipil dan militer sedang berada diatas kapal, baru saja bertolak dari Pelabuhan Makassar menuju Tambrauw. Menurut rencana, KRI Surabaya yang kami tumpangi ini akan melewati jalur Ambon dan kemudian masuk ke kepala burung lewat Sorong.

Makin menarik, kedatangan kali ini bersama para pasukan khusus angkatan bersenjata matra darat, laut dan udara. Kita semua mahfum, Papua dan aparat sejak lama jadi benang kusut yang rumit diurai. Kombinasi ini, bagi saya tentunya akan jadi sebuah tantangan dan peluang tersendiri. Saya akan melihat karut marut hubungan dalam perspektif yang lebih lebar dari kedua belah pihak.

Digembleng di Pusdik Nomor Wahid

Menarik mundur ke masa sebulan lalu, masih segar kedatangan saya membawa dua backpack sarat isi dari rumah di Bekasi menuju Pusdikpassus Batujajar. Saya baru tiba di lokasi malam hari sekira pukul 21.00 karena salah menumpang angkutan. Idealnya, untuk menuju Batujajar kita menaiki angkutan dari kota Bandung. Lebih hemat waktu dan harga dibanding jalur Jakarta – Cianjur – Padalarang – Batujajar yang saya pilih. Singkat cerita, malam hari tanggal 4 Januari itu saya langsung diarahkan menuju ruang komando utama ekspedisi di bagian depan Pusdik. Setelah menyelesaikan beberapa urusan administratif, saya kemudian diarahkan menuju barak yang berbaris teratur di sisi belakang.

Di barak saya bertemu teman-teman yang berdatangan dari berbagai provinsi. Latar belakangnya pun beragam, dari sarjana geologi, kehutanan, sosiologi, biologi, hubungan internasional, akuntansi dan banyak lainnya. Sebagai gambaran, barak yang kemudian menjadi tempat tinggal kami selama tiga minggu kemudian ini berupa lorong panjang, berwarna putih, dengan tempat tidur besi bertingkat dua dan sebuah lemari kotak di hadapannya. Kamar mandi berada di luar, berbentuk lorong memanjang tanpa sekat sehingga kita dapat memandang lepas dari ujung ke ujung.

Minggu pertama di kamp konsentrasi pelatihan pasukan khusus nomor wahid ini kegiatan kami lebih banyak diisi dengan orientasi dan mengikuti rangkaian tes untuk menguji kelayakan para peserta. Tes meliputi kesegaran jasmani, wawancara bersama tim ahli, psikotest. Berdasar hasil inilah kemudian diketahui apakah kami memang sudah cocok di posisi yang dilamar, atau bahkan ada pertimbangan bidang kajian atau lokasi lain yang lebih relevan dari para tim ahli.

Layaknya sebuah barak militer, maka perlakuan sama pun berlaku bagi seluruh peserta. Kegiatan pagi dimulai pukul 05.15 melaksanakan senam pagi, kembali ke barak untuk pembersihan, dilanjutkan apel pagi kemudian mengikuti sesi materi secara klasikal ataupun sesuai bidang. Istirahat siang berlangsung pukul 12.00 – 13.00, dan kegiatan harian baru akan benar-benar berakhir sekitar pukul 22.00 malam harinya. Rangkaian kegiatan memang dirancang sangat padat, untuk mengejar kebutuhan yang harus dikejar selama tak lebih dari tiga minggu pembekalan.

Pada saat paparannya, Kabagops (Kepala Bagian Operasi) Letkol Rachmad PS menegaskan bahwa ekspedisi yang digelar untuk keenam kalinya pada tahun ini merupakan satu-satunya ekspedisi di dunia yang mengolaborasikan keahlian sipil dan militer dengan misi penjelajahan, penelitian lintas disiplin, dan pengabdian masyarakat. Menariknya, selain niat mulia memberi sumbangsih pada tanah air dan ilmu pengetahuan, kegiatan semacam ini sekaligus menjadi silaturahmi nasional anak bangsa usia muda yang kedepannya akan memegang posisi-posisi strategis dalam perjalanan bangsa.

Pembekalan lain diisi oleh para pakar di bidangnya masing-masing yang datang dari banyak lembaga kredibel. Sebut saja Kepala LIPI, Kepala BIG, Dirjen Dikti, Perwakilan Pemprov Papua Barat, serta dosen dari beberapa perguruan tinggi seperti UGM, Unpad, dan ITB. Saya jadi belajar lagi banyak hal baru, baik dari keilmuan rumpun sosial (antropologi, sosiologi pedesaan, psikologi dll) ataupun mendapat asupan pengetahuan baru mengenai wilayah-wilayah di Papua Barat yang akan menjadi objek ekspedisi.

Lintas Laut Jakarta – Tambrauw

Berbeda dengan ekspedisi sejenis di tahun sebelumnya yang di-dropping ke masing-masing lokasi menggunakan Hercules, kali ini kami menggunakan moda transportasi laut untuk mencapai sasaran. Selain karena keterbatasan dukungan pesawat, keputusan ini juga diambil dengan mempertimbangkan prasarana perhubungan di lokasi yang masih jauh dari standar layak. Sehingga, menggunakan jalur laut dirasa lebih efektif untuk masuk ke delapan kabupaten seantero Papua Barat, walaupun dari perhitungan waktu dan biaya akan cukup membengkak.

Seluruh peserta meninggalkan dermaga JICT 2 di Tanjung Priok pada Sabtu (30/1) pagi. Kami menggunakan KRI Surabaya 591 berjenis Landing Platform Dock. Kapal logistik ini memiliki beberapa sekoci untuk pendaratan ke pantai-pantai dangkal yang tidak dapat dicapai oleh kapal utama bertonase ribuan ton ini.

Kapal menyeberang Laut Jawa selama 3 hari 2 malam sebelum akhirnya bersandar di Makassar. Selama kapal melakukan bekal ulang BBM dan logistik, para penumpang diperkenankan turun melakukan pesiar di kota yang menjadi pusat perkembangan di Tanah Sulawesi ini. Karena waktu keluar yang relatif tidak terlalu lama, saya bersama beberapa teman memutuskan untuk berjalan di sekitar kota saja. Kuliner dan berfoto di beberapa mainstream-spot kota menjadi pilihan. Kami mencicipi Coto Nusantara, serta es pisang ijo dan pisang epe’ yang banyak dijajakan kala sore di sepanjang Pantai Losari.

Perjalanan kembali dilanjutkan melintasi Laut Banda dan Laut Seram sebelum akhirnya menerobos masuk ke wilayah kepala burung lewat perairan Raja Ampat dan Sorong. Pada bagian ini kami baru mulai merasakan ayunan gelombang samudera yang cukup mengocok perut.

Siapa dan Bagaimana?

Ekspedisi tahun ini meliputi delapan kabupaten Provinsi Papua Barat yang masing-masingnya dipimpin oleh satu orang Komandan Subkorwil. Saya sendiri, dengan pertimbangan basis keilmuan, minat, dan kemampuan lainnya ditempatkan di subkorwil Tambrauw. Sebuah kabupaten pemekaran baru yang terletak antara dua kota, Sorong dan Manokwari. Namun begitu, dari peringkat IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang mengukur pembangunan berdasar angka harapan hidup, harapan dan rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran per kapita, Tambrauw menduduki posisi terbawah diantara seluruh kabupaten/kota se-Papua Barat. Tahun 2014, catatan IPM wilayah yang terhimpun atas 29 distrik (kecamatan) ini hanya 49,4, jauh lebih rendah dari rata-rata IPM provinsi sebesar 61,28. Tak heran, topografi daerah yang bergunung ditingkahi minimnya infrastruktur akan menjadi “pemanis” cerita dalam petualangan riset kali ini.

Berbicara mengenai kegiatan yang akan dilakukan dalam 16 minggu kedepan, saya sendiri kebagian untuk menempati posisi sebagai asisten peneliti bidang sosial budaya. Ada setidaknya sembilan aspek yang akan kami lihat dari pranata kehidupan masyarakat adat Tambrauw. Dalam perjalanannya nanti tentu saja saya tidak melakukan ini semua sendiri. Saya sekelompok bersama empat teman sipil dan dua dari militer. Rekan yang membersamai nanti ialah Subhan, Dion, Erni dan Riri, beserta Chandra dari Kostrad dan Saeroji dari Brimob.

Subhan merupakan sosiolog jebolan dari UPI Bandung. Ia tertarik pada kajian yang berhubungan dengan kondisi sosial dan pola perilaku masyarakat berdasar adat. Pada saat kami melakukan simulasi di Cililin dan Parongpong beberapa minggu lalu, urang Bandung ini terlihat bekerja cukup lihai. Ia memiliki pengalaman dan semangat meneliti yang lumayan. Beberapa hasil penelitiannya baik selama kuliah ataupun setelah menjadi sarjana telah diterbitkan di beberapa jurnal lokal dan internasional. Keunikan lain juga ditemukan pada Dion, kera ngalam jebolan FISIP Brawijaya. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif di unit kegiatan IMPALA UB dengan spesialisasi tebing terjal dan penelusuran goa. Ekspedisi terakhir ynag dilakukannya ialah menjelajah rimba Pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara untuk mencari potensi sekaligus pemetaan goa-goa vertikal yang cukup banyak tersebar di kawasan tersebut.

Dua teman sipil lainnya ialah para wanita tangguh asal Yogyakarta. Riri, sarjana akuntansi dan Erni lulusan dari Manajemen dan Kebijakan Publik UGM. Semasa mahasiswanya, Erni sudah melangangbuana ke beberapa negara seperti Vietnam, Thailand dan Nepal untuk misi kebudayaan atau keilmuan. Selama lebih kurang tiga minggu bersama, kami mulai mengerti karakter masing-masing, secara psikologis maupun pola kerja. Dengan kombinasi ini, besar harapan semoga kami dapat terus kompak bahu-membahu sehingga menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sekitar nantinya.

Diluar itu, sebagaimana layaknya ekspedisi lain yang pernah diikuti, pada kesempatan kali ini saya masih terus belajar menjadikan rangkaian proses didalamnya sebagai kawah candradimuka mendewasakan diri. Keyakinan saya masih tetap sama, bahwa bukan hanya tempat indah yang menjadikan perjalanan berkesan, melainkan orang-orang yang ditemui selama perjalanan, upaya untuk beradaptasi dengan keadaan dan kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

Laut Seram, 5 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s