Sosial Budaya · Tualang

Khittah Bangsa Bahari

Minggu siang di penghujung Agustus silam, windows phone saya bergetar karena ada sebuah panggilan masuk. “Kita akan berlayar ke Sulawesi sebulan kedepan. Jika berminat ikut, nanti sore datang ke dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok.” Begitu kira-kira isi perbincangan singkat itu. Sebuah pemberitahuan yang sangat mendadak, namun sekaligus juga sulit untuk ditolak.

Setelah menimbang dan mengatur ulang beberapa janji yang kadung dibuat untuk sebulan kedepan, saya memutuskan menerima tawaran yang disampaikan Komang, karib seangkatan di perhimpunan itu. Beruntung, karena baru saja kembali dari Jatiluhur memfasilitasi pelatihan experiential learning sebuah perusahaan, perlengkapan standar lapangan yang harusnya dibawa sudah terkemas rapi di dalam carrier 45 liter.

Sore itu kami menuju pelabuhan Tanjung Priok menaiki Land Cruiser sarat muatan yang sedianya akan digunakan sebagai kendaraan operasional selama di pulau. Dari balik kemudi hardtop, mata saya tertuju pada sebuah kapal perang besar bercat abu-abu sedang bersandar dan ramai oleh aktifitas loading barang. Ya, pelayaran ke bumi Celebes kali ini akan menggunakan KRI Banda Aceh 593, salah satu Landing Platform Dock kebanggan TNI Angkatan Laut. Bagi saya, ini sebenarnya merupakan kesempatan kali ketiga menaiki KRI yang sama. Dua kegiatan sebelumnya dilakukan pada tahun 2013 dengan lokasi kunjungan ke pulau-pulau di gugus Mentawai dan Nusa Tenggara.

Di side-ramp lambung kiri kapal, terlihat Mayor Mukhsin sedang bertugas menjadi perwira jaga. Semacam bernostalgia, beliau masih mengenali kami karena dua tahun lalu terlibat interaksi yang cukup intens di sela waktu senggang berlayar. Beliau kemudian memberikan arahan penempatan kamar. Saya bersama 9 rekan lain kebagian kamar di deck lantai 4 kapal, atau selantai dengan deck helikopter yang biasanya menjadi pusat bermacam kegiatan selingan pelepas jenuh. Sedang peserta lain, kamarnya masing-masing didistribusikan ke dua lantai dibawah deck heli ini.

28 Agustus 2015 malam, seluruh penumpang berjumlah sekitar 150 orang beserta 130 ABK (Anak Buah Kapal) telah on-board menginap di kapal untuk adaptasi bersiap menjalani pelayaran panjang berminggu kedepan. Malam itu para penumpang dan ABK terlibat obrolan ringan sembari menikmati jamuan makan di lounge room pasukan.

The Wind May Blow My Sail not My Soul

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Esok paginya, dalam amanat pelepasan, Letkol Laut Edi Haryanto selaku Komandan kapal menjelaskan mengenai rute yang akan kami singgahi beserta estimasi waktu kunjungan. Tim task force dijadwalkan akan melakukan distribusi bantuan, memberikan pelatihan, pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan, hiburan, dan assesment pengembangan wilayah di Muna dan Wawonii (Sultra) serta Banggai Laut dan Togean (Sulteng). (Mengenai aktifitas di pulau ini akan saya rangkum dalam tulisan tersendiri nantinya)

Disamping itu, pada saat keberangkatan dan kepulangan menuju Jakarta, kapal juga akan singgah di Makassar untuk refueling bahan bakar dan mensuplai kebutuhan logistik lainnya. Pada 19 September, BAC 593 juga dijadwalkan akan lego jangkar di perairan Parigi Moutong untuk memeriahkan puncak hajatan Sail Tomini 2015. Total jarak pergi-pulang yang akan ditempuh kapal produksi PT PAL tahun 2011 ini setara dengan 6.270 kilometer

Sedikit berkaca ke belakang, keantusiasan saya mengikuti pelayaran kali ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, menjelajahi pulau Sulawesi memang masuk dalam wish-list saya di tahun ini. Rencana awalnya, saya akan melakukan long distance cycling ke enam provinsi yang ada di pulau ini. Itulah sebab, bahkan saya telah menyiapkan mini proposal sebagai panduan perjalanan, mencukupi beberapa perbekalan serta menghubungi beberapa kontak baik sebagai referensi yang pernah melakukan kegiatan serupa maupun kontak lokal yang sekiranya bisa menjadi host begitu saya di daerah mereka nantinya. Mestakung! (semesta mendukung), walau tidak dengan bersepeda seperti rencana semula namun saya akhirnya mengenal beberapa jazirah di tanah Celebes bahkan hampir tanpa merogoh kocek sepersenpun. Poin kedua, isu kemaritiman memang sedang hangat diperbincangkan. Sehingga, sangat menarik mempelajarinya sambil merasakan langsung atmosfer kehidupan laut yang katanya jauh berbeda dengan kultur darat.

Saya rasa Sulawesi merupakan lokasi yang tepat untuk mengamati betapa budaya maritim bisa menjadi harapan hidup, baik bagi generasi terdahulu maupun yang akan datang. Situs prasejarah di goa-goa Pulau Muna yang dipenuhi lukisan perahu layar menggambarkan bahwa kita adalah keturunan bangsa pelaut sudah sejak sekitar tahun 10.000 SM. Banyak literatur juga menyebut bahwa masyarakat pesisir Sulawesi dari suku Bajo, Buton, Bugis, Minahasa, dan Mandar sangat terkenal akan kemahirannya mengarungi samudera hingga ke negeri jauh. Beberapa sosok kemudian juga mengorbit menjadi tokoh yang disegani dalam percaturan maritim, seperti Arupalaka, Amana Gappa, Hang Tuah dan Hasanuddin.

Namun, kondisi lapangan yang saya temui ternyata tak begitu menggembirakan. Kejayaan Phinisi sebagai pengarung samudera tersohor tak lagi begitu dilirik. Di Bulukumba, Sulawesi Selatan, salah satu sentra produksi Phinisi tradisional, masyarakat lokal membuat kapal dalam jumlah amat terbatas, itupun rata-rata atas pesanan warga asing. Kondisi memprihatinkan juga dialami warga Buton atau Bajau yang sebagiannya masih mempertahankan tradisi hidup di laut. Dengan kapal kayu bertonase kecil, mereka hanya sanggup melaut sepelemparan batu dari darat yang berarti minimnya hasil tangkapan.

Dilema Negara Kepulauan

2eDi kapal, wawasan kemaritiman saya menjadi terbuka ketika mendengar banyak penjelasan dari Letkol Edi selaku komandan maupun dari Mayor Priyo sebagai Palaksa. Bersama dengan jajarannya, dua orang dalam posisi teratas hirarki kapal ini begitu sabar dan mengayomi ke-kepo-an kami masyarakat sipil mengenai persenjataan, navigasi, mesin hingga peran Angkatan Laut dalam diplomasi kemaritiman. Karena begitu banyaknya ilmu yang diberikan, saya disini akan menuliskan dua poin kritis diantaranya; perjuangan menjadi negara kepulauan dan kerentanan kita dalam menjaga wilayah yang rentang barat ke timurnya setara jarak antara London hingga Baghdad ini.

Dalam sharing yang disampaikan pada perjalanan laut dari Parigi menuju Makassar, Pak Edi menceritakan runut peristiwa sehingga Indonesia layak disebut sebagai negara kepulauan / archipelago. Pada masa awal kemerdekaan dahulu, lautan yang dimiliki negara hanya dihitung 3 mil laut dari masing-masing pulau. Sehingga, laut atau selat dengan jarak lebih jauh dari itu menjadi lautan lepas yang secara bebas dapat dimasuki oleh armada dari negara manapun. Sampai kemudian, pada tahun 1957 Ir H Djuanda, seorang diplomat mengemukakan gagasan yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda. Inti pernyataannya ialah bahwa wilayah kedaulatan (souveraignity) negara kepulauan seperti Indonesia seharusnya dihitung dari titik pangkal pulau terluarnya, dengan laut teritorial sejauh 12 mil dari garis hubung tersebut.

Karena banyaknya kepentingan dan posisi strategis perairan Indonesia dalam jalur pelayaran global, tentunya tak mudah membawa ide ini sampai akhirnya mendapat persetujuan dari kalangan internasional. Diplomasi alot akhirnya menemukan secercah titik terang 25 tahun kemudian di Montego Bay, Jamaika. Pada bulan November 1982, 119 negara dengan segala pertimbangan untung rugi akhirnya ikut menandatangani konvensi hukum laut internasional UNCLOS (United Nations on Law of the Sea).

Terang saja, sebagai negara yang berhimpun atas belasan ribu pulau yang tersebar, Indonesia menjadi salah satu bangsa yang diuntungkan dari UNCLOS tersebut. Luas wilayah kedaulatan laut menjadi 3 juta km2 dan 70% kapal barang dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke Pasifik yang melalui wilayah Indonesia harus mengikuti aturan kelautan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia.

Namun, ternyata masalah belum selesai sampai disitu. Dibutuhkan postur pertahanan keamanan sangat kuat untuk dapat mengawal 13.466 pulau (BIG, 2013) beserta jutaan hektar perairannya. 92 pulau terdepan negara berbatasan langsung dengan 10 negara tetangga. Dalam slide power point-nya, Pak Edi menyampaikan data bahwa saat ini alutsista ALRI “hanya” berkekuatan 150 KRI, 350 KAL, 60 pesawat udara, 440 ranpur marinir, serta 70 pangkalan. Dari jumlah ini, dalam jumlah yang cukup signifikan kondisinya tidak layak operasi sebab uzur atau rusak.

Dalam diskusi lain disebutkan bahwa kondisi yang ada sekarang memang jauh dari kata ideal yang menyebabkan sulitnya mencapai harapan TNI modern dan profesional. Angka dari sebuah studi menyebut anggaran pertahanan negara saat ini masih dibawah 1% GDP (Gross Domestic Product), sementara negara se-regional bahkan sudah menyisihkan 3%-5% GDP. Akibatnya, sebagian besar uang ini hanya cukup untuk pembiayaan rutin alih-alih investasi pengembangan.

Peluang dan tantangan ini harusnya bisa diendapkan dan memantik rasa kejuangan kita sebagai bangsa yang besar. Pemerintah kita, walau belum begitu kontras hasilnya, setidaknya telah mencanangkan visi maritim dengan berbagai program turunannya. Pertanyaan introspektif dari sejarawan Ong Kok Ham beberapa tahun lalu setidaknya  masih relevan jika diajukan dengan kondisi sekarang “Apakah orang Indonesia hanya (bisa) hidup terpencil dikelilingi gunung berapi dan hidup dari usaha pertanian untuk kemudian dikolonisasi (lagi) oleh penguasa (baru) lautan Indonesia?”

Laut Banda, 21 September 2015

Advertisements

4 thoughts on “Khittah Bangsa Bahari

    1. Terimakasih untuk kunjungan dan tanggapannya, ya.

      Hehe, sebenernya mah yang asyik itu justru di pulau-pulau kecil yang kita kunjungin. Banyak “penemuan” baru yang unik, kearifan masyarakatnya dst…

      Di Sail Tomini nya sendiri sih kita cuma pengembira aja, gak ambil peran yang signifikan.

      1. hal paling berkesan ketika ekspedisi itu ketika turun kapaaaal. ketemu masyarakat dan beragam keunikan yang ada disana.

        well, di ENJ kemaren pun kita cuma tim huru hara :p .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s