Sosial Budaya

Imaji Mentawai

Mengunjungi Mentawai bisa dibilang telah menjadi mimpi saya sejak lama. 18 tahun hidup di Sumatera Barat, saya tak pernah berkesempatan singgah di pulau eksotis ini. Selama melewatkan masa kecil hingga sekolah menengah di Bukittinggi, walau berada dibawah payung provinsi yang sama, sulit bagi saya membayangkan seperti apa rupa kehidupan yang ada di pulau ini. Daerah ini minim pemberitaan dan seolah tak menjadi prioritas perhatian bagi pemangku kepentingan.

Hal inilah yang membuat saya begitu antusias menerima tawaran penugasan untuk beberapa keperluan assesment di daerah ini. Banyak pertanyaan menggelayut di kepala berharap untuk ditemukan jawabannya setelah melihat langsung bentangan geografis maupun berinteraksi dengan masyarakat yang mendiaminya.

Mencapai pulau ini, tim kami berlayar 10 jam dari Teluk Bayur terayun gelombang Selat Mentawai yang terkenal keganasannya. Kapal merapat di Dermaga Maileppet, Muara Siberut di suatu pagi yang cerah pada bulan Juni 2013 silam. Tulisan dibawah merupakan catatan selama singgah beberapa hari di gugus kepulauan yang terletak antara Nias dan Enggano ini.

Dekat Tapi Jauh

Hitungan jarak, Mentawai terpisah 110 mil laut dari Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat. Jarak yang sebenarnya tak begitu jauh. Di wilayah lain, “kedekatan” seperti ini barangkali juga berdampak terhadap kemiripan karakteristik alam dan budaya masyarakatnya.

Namun hal serupa tak berlaku jika berkunjung ke Mentawai. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan dengan kehidupan di wilayah sekitar. Jika ditinjau dari sisi teori pemisahan benua, hal ini dimungkinkan karena pembentukan gugusan kepulauan Mentawai memang telah terpisah sejak masa pleistocene awal, sekitar 500.000 tahun lalu. Pulau-pulau disini telah menyendiri bahkan saat Sumatera, Jawa dan Kalimantan masih menyatu dengan daratan besar benua Asia.

Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri atas 95 pulau, dengan empat pulau besar utamanya yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Keterisolasian pulau-pulau ini berdampak misalnya terhadap endemisitas ekosistem yang cukup tinggi. Pada saat berbincang dengan Pak Matheus, seorang pegawai di balai Taman Nasional Siberut disebutkan bahwa hingga saat ini masih dapat dijumpai empat jenis kera endemik Mentawai yang hidup di Cagar Alam Teitei Baati. Keempat kera tersebut yaitu joja (Presbythis klosii), bokkoi (Macaca pangensis), bilau (hylobates klosii) dan simakobu (Simias concolor). Banyak penelitian kemudian mengungkap bahwa keotentikan hayati ini juga ditemukan pada spesies mamalia, burung serta aneka tumbuhan.

Bukti “alienasi” pulau ini juga dapat dijumpai pada budaya penduduk aslinya. Masyarakat Mentawai seolah berkembang dengan corak sosial, bahasa, adat istiadat dan gaya hidup yang sama sekali berbeda dengan penduduk Pulau Sumatera lainnya. Jika dibanding dengan tetangga suku Minangkabau sebagai penghuni mayoritas provinsi Sumbar misalnya, pola kekerabatan mengikut garis ayah (patrilineal) dalam masyarakat Mentawai jelas berbeda dengan ajaran adat Minang yang terkenal dengan pola kekerabatan mengikut Ibu (matrilineal). Nafas islam yang begitu kental sebagai pembentuk corak budaya Minang, berseberangan dengan mayoritas masyarakat Mentawai yang beragama Nasrani. Bahkan, sebagian kecilnya masih terus mempertahankan praktek kepercayaan lokal warisan nenek moyang Arat Sabulungan yang meyakini keberadaan roh dalam setiap yang ada di alam: manusia hingga kera, batu hingga cuaca.

Kontras menarik lainnya diungkap oleh laporan missi Zending Kristen yang pertama datang ke Nemnemlelleu, Pagai Utara di penghujung abad 19. Catatan tersebut melansir bahwa masyarakat Mentawai seolah terhindar dari kebudayaan megalithik. Budaya bersawah, membuat tembikar atau menenun yang menjadi ciri kemajuan pada berbagai kelompok masyarakat adat nusantara tidak ditemukan pada kasus di Mentawai.

Rumah tradisional
Rumah tradisional

Sebagai aktifitas penyambung hidup, masyarakat asli Mentawai tempo dulu melakukan perladangan dan perburuan. Johannes, salah seorang tetua di Desa Muntei menceritakan bahwa mengendap dibalik pepohonan untuk kemudian melesatkan anak panah ke binatang buruan menjadi bukti kejantanan seorang laki-laki dewasa di Siberut. Hasil buruan berupa babi, rusa, monyet atau lainnya akan dibawa pulang ke Uma (rumah besar) sebagai pelezat sagu atau ubi yang menjadi makanan pokok. Hewan ini juga sekaligus mencukupi kebutuhan protein penghuni uma yang biasa didiami beberapa kepala keluarga.

Karena cukup lama terasing dari peradaban luar, masyarakat Mentawai cenderung menunjukkan resistensi pada saat awal kunjungan pendatang. Konon, dahulunya saat budaya pengayauan masih berlangsung, banyak “orang asing” yang dirasa mengancam kehidupan warga kampung dipotong kepalanya untuk kemudian dijadikan semacam pajangan di serambi rumah. Akulturasi dan penerimaan mulai terbuka secara perlahan seiring dengan makin intensifnya perdagangan atau interaksi lainnya.

Paradoks Pembangunan

Sayang, keunikan-keunikan ini belum dilihat sebagai potensi yang pantas dilirik oleh pemangku kepentingan. Selama beberapa dekade keberadaan wilayah ini terkesampingkan. Kedatangan atau campur tangan pemerintah yang kemudian datang disesalkan banyak kalangan bukan untuk kemaslahatan warga, namun lebih banyak dirasakan sebagai eksploitasi yang merusak tatanan alam maupun sosial.

Sebagaimana diketahui, Indonesia kaya sekali dengan berbagai budaya dan kepercayaan masyarakatnya. Masing-masing menyajikan keelokan yang berpadu secara harmonis. Semboyan negara yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika” juga terang mengisyaratkan bahwa seyogyanya setiap perbedaan tersebut menjadi pewarna dalam sebuah bingkai persatuan. Namun, fakta lapangan ternyata tak selalu seideal seperti yang sudah susah payah dirumuskan dalam berbagai aturan dan norma tersebut.

Di bagian atas tulisan, saya sempat menyinggung mengenai agama lokal bernama Arat Sabulungan. Ajaran ini kemudian turut menjadi titik tolak berbagai kebudayaan etnis Mentawai yang sebenarnya begitu indah lagi eksotis: seni rajah tubuh / tattoo, mengasah gigi, memakai kabit (cawat), dan memanjangkan rambut.

Awan kelabu menghampiri kearifan masyarakat suku adat (tribal society) ini ketika terjadi “modernisasi” kehidupan masyarakat yang dianggap primitif pada masa pemerintahan Soekarno. Lewat Perpres tahun 1954, segala bentuk kepercayaan lokal yang diwariskan beratus tahun diberangus tanpa ampun. Untuk kasus Mentawai, beberapa corak Arat Sabulungan dibasmi rata dan masyarakatnya diwajibkan memilih salah satu dari agama yang diakui pemerintah kala itu: kristen, katolik atau islam.

Dibawah ancaman penjara, warga Mentawai harus “kucing-kucingan” untuk dapat melestarikan kepercayan leluhur mereka ini. Angin segar mulai sedikit datang ketika pelarangan mulai surut di tahun 1980an karena ditentang banyak pihak yang merasa sulit untuk mencari landasan imani, politik, ataupun sosial budaya dari kebijakan tersebut.

Tak sampai disitu, tindakan semena-mena pemerintah juga terlihat pada izin penebangan hutan primer di Kepulauan Mentawai dalam kurun 1970-90. Ratusan ribu meter kubik kayu dari Siberut atau pulau lainnya digondol atas sepengetahuan birokrat dan elit pengusaha di Jakarta. Kerusakan hutan dan ekologi secara membabi buta tersebut berdampak terhadap semakin buruknya kualitas lingkungan, selain mendatangkan masalah sosial ekonomi.

Bocah Mentawai dan papan selancar bekas
Bocah Mentawai dan papan selancar bekas

Mentawai juga tak terlepas dari problema khas negara berkembang yang bertabur ribuan pulau. Luasnya wilayah yang berpadu dengan belum siapnya pengelolaan membuat pemerintah seringkali mengambil jalan pintas meraup keuntungan. Penguasaan asing atas beberapa pulau sangat terasa jika kita berkeliling, khususnya di area yang masih sepi namun dengan pemandangan menawan atau memiliki ombak yang layak untuk kegiatan berselancar (surfing). Beberapa resort mewah dibangun dan dikelola oleh warga asing dengan tamu yang mayoritasnya juga berasal dari luar negeri.

Padahal jika pemerintah jeli menangkap peluang dan tidak tergiur keuntungan instan, Mentawai sangat berpotensi mendatangkan devisa dari sektor pariwisata kelautan. Ombak di Mentawai dititah menduduki peringkat tiga dunia setelah Hawaii (AS) dan Gold Coast (Australia). Pada bulan Juli – Agustus, ketinggian ombaknya dapat mencapai hingga enam meter, suatu hal yang sangat diincar oleh penggila selancar. Ditaksir tak kurang dari 6.000 surfer internasional berdatangan setiap tahunnya ke kawasan yang memiliki 76 surfing spot unggulan ini.

Saat sempat berbincang dengan pegawai Dinas Pariwisata di Sipora, Mulyadi kami acap dibuat terbengong dengan cerita permasalahan maupun metode pengelolaan yang dijalankan oleh lembaga resmi negara tersebut. Hal yang disampaikan masih sedangkal ketiadaan Perda atau UU resmi yang mengatur tata kelola wisata Mentawai sehingga mereka tidak bisa berbuat terlalu banyak. Pada prakteknya, lembaga resmi negara ini pada akhirnya lebih banyak pasif menyaksikan wisatawan dari berbagai penjuru menikmati keelokan negeri daripada aktif menarik atau meningkatkan kualitas layanan yang membuat pengunjung nyaman berlama-lama tinggal di pulau.

*****

Tentu, dilema Mentawai tak sebatas pembatasan menganut kepercayaan, pembabatan hutan dan penguasaan pulau oleh asing saja. Jabaran masalah diatas hanyalah secuil potret “salah urus” yang berjalan selama puluhan tahun di gugusan pulau kecil bernama Mentawai. Pertanyaan besar kemudian, masih adakah asa perbaikan kedepan?

Advertisements

One thought on “Imaji Mentawai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s