Catatan Harian

Gado-gado Lebaran 1436

Hari ini tepat seminggu sudah Syawal berlalu. Sebuah perayaan yang disambut sukacita oleh muslim seluruh dunia setelah sebulan penuh menjalani pendidikan ilahiah Ramadhan. Harapan yang terlontar pun tak begitu jauh berbeda dari tahun ke tahun. Semoga penggemblengan satu kali setahun itu dapat melebur segala khilaf, mengontrol lisan dan sikap sambil berharap dapat dipertemukan pada momentum tahun berikutnya.

Bagi saya pribadi, Idul Fitri 1436 Hijriah ini memiliki banyak kebaruan sekaligus perenungan. Tulisan ini dibuat sebagai catatan perjalanan pribadi beserta beberapa hal yang mewarnai sepanjang hari raya.

dp-bbm-idul-fitri-bahasa-inggris

Kebaruan yang saya maksudkan diatas adalah karena kali ini saya berlebaran di tanah rantau, untuk kali pertama seumur hidup. Jika di tahun yang lalu, memasuki minggu keempat puasa saya sudah berada di kampung halaman bersama keluarga, tahun ini dengan berbagai pertimbangan saya memilih cara berbeda. Keputusan yang sejujurnya tak ringan, karena harus menahan diri untuk berkumpul dan berbagi keceriaan disamping sanak saudara. Menahan diri dari godaan randang, sop tulang, dendeng batokok, gajeboh, cancang dagiang, itiak lado ijau, sambalado uok, dan aneka masakan super nikmat lain yang biasa selalu tersaji di meja makan menyambut hari kemenangan 🙂

Jauh hari sebelum lebaran, berulang kali orang tua di Bukittinggi menanyakan perihal mudik ini. Tak mudah menyampaikan alasan kealfaan dengan kalimat sederhana. Banyak hal yang begitu pribadi yang entah mengapa begitu sukar dijelaskan, bahkan ke Ibunda yang terhitung sebagai orang terdekat dalam hidup saya sekalipun. Saya dapat memahami kengototan keluarga di rumah ini meminta saya pulang karena keinginan bercengkrama dan menghabiskan waktu berkualitas tanpa kekurangan satu personil pun. Sangat beralasan, sebab kedua orang tua saya keseharian hanya tinggal berdua di rumah, semua anak-cucunya tinggal menetap di luar kota.

Tak nyaman menolak pinta itu tentunya. Sampai pada suatu ketika, secara perlahan saya mencoba jelaskan bahwa saya ingin memanfaatkan momentum hari raya tahun ini sebagai waktu berkontemplasi. Ya, saya merasa di usia 26 ini perlu melakukan perenungan khusyuk mengenai perjalanan yang telah dilalui sejauh ini, mengevaluasinya untuk jadi landasan bertindak yang lebih hati-hati serta terukur kedepannya.

Saya merasa perlu segera berselesai diri di usia yang tak bisa lagi disebut remaja tanggung ini. Klise memang, tapi saya benar menaruh harapan tinggi, jarak yang sengaja diciptakan ini bisa membawa impak lebih mulusnya jalan hidup yang akan datang. Semoga “harga mahal” yang saya pilih ini memang mendatangkan kebaikan jangka panjang di kedua belah pihak. Amin…

Bunga Rampai

Diluar perkara pribadi diatas, terdapat beberapa hal yang menarik perhatian pada momen Idul Fitri tahun 2015 ini. Pertama, umat muslim Indonesia akhirnya bisa menyelenggarakan hari rayanya secara serentak. Pemerintah, Nadhlatul Ulama, dan Muhammadiyah yang pada tahun sebelumnya begitu doyan bertikai, akhirnya memiliki kesatuan suara dalam menetapkan 1 Syawal yang jatuh pada Jum’at, 17 Juli 2015.

hilal_hisab_ormas_2

Di luar sana, barangkali banyak pihak yang tidak begitu mempermasalahkan perbedaan yang biasa terjadi sebelumnya itu. Alibi kelompok ini ialah karena metode penetapannya pun berbeda, lewat hisab (penghitungan matematis astronomis) atau rukyat (pengamatan visibilitas bulan sabit setelah tenggelamnya matahari). Perbedaan metode yang membawa pada perbedaan hasil itupun kemudian dianggap sebagai suatu kelumrahan.

Namun, bagi saya pribadi, dengan tidak merendahkan kerja keras para ahli hisab/rukyat, perayaan serentak ini mendatangkan suatu spirit dan kebanggan. Sebagai agama mayoritas dengan ratusan juta penganut dari Sabang sampai Merauke, lewat hal ini bisa sedikit berbesar hati karena dapat menyatukan suara untuk suatu ritual penting yang sakral. Pada keseragaman seperti ini kadang semangat persatuan dan keindahan persaudaraan itu begitu terasa.

Lebih jauh, sebagai awam tentu akan bertanya, serumit itukah perihal penentuan awal suatu bulan? Mengapa perbedaan pandangan ini seolah hanya muncul ke permukaan saat memasuki Ramadhan atau Syawal? Benarkah ini terjadi karena adanya ego sektoral suatu kelompok?

Jika berkaca ke barat, mereka bahkan telah mondar-mandir mengeksplorasi langsung bulan beserta seluruh planet di sistem tata surya. Apa kita tidak “hilang muka”, bahkan untuk sekedar “mengamati” bulan saja masih suka bertikai? Sebegitu sulitnyakah pemimpin / cendekiawan diatas sana menyinergikan kecanggihan iptek dengan ajaran agama?

****

Hal berikutnya yang cukup mengusik pikiran saya timbul saat mendengar khotbah Idul Fitri di lapangan basket CC timur Institut Teknologi Bandung. Tampil sebagai khatib seorang guru besar farmasi Prof. Slamet Ibrahim Surantaatmadja. Tema yang dibawakan tak jauh dari latar keilmuannya, yakni mengangkat tentang pentingnya kehalalan dalam pembangunan masyarakat suci bersih.

Sepanjang khotbah, sebenarnya saya menantikan kejutan dari materi yang disampaikan. Namun beribu sayang, orasi selama 20 menitan itu hanya berlalu dengan khatib yang membaca teks serta konten-konten umum. Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas kepakaran beliau, saya sebetulnya berharap dengan seabrek gelar itu ia bisa mengelaborasi suatu fakta ilmiah yang lebih dari sekedar persoalan halal-haram yang sebenarnya dapat dengan mudah diakses di buku pelajaran agama sekolah.

Akan menarik, misalnya jika beliau mengangkat tentang budaya merokok. Poin yang sejak lama menjadi tanda tanya besar, mengapa benda ini tidak difatwakan terlarang / haram melihat dari dampaknya yang adiktif dan nyata sekali mendatangkan kemudharatan. Statistik berbicara, pada tahun 2009 saja 240 miliar batang rokok diproduksi dengan angka kematian mencapai 420 ribu jiwa (data Indonesia Tobacco Control Network). Wayne McLaren, koboi penunggang kuda pada iklan rokok Marlboro era 1970an sebelum meninggal akibat kanker paru ganas pernah berucap “Take care of your children. Tobacco will kill you, and I am living proof of it.”

Berhenti menebar racun!
Berhenti menebar racun!

Belum lagi jika kita menengok efek domino dari segi pranata sosial. Bukan cerita baru seorang berpenghasilan dibawah rata-rata menghabiskan lebih banyak rupiah untuk konsumsi rokok dibandingkan anggaran makan, pendidikan atau kesehatan keluarganya. Kontras dengan kondisi itu, para taipan pemiliki industri rokok justru kian menjauhi konsumsi “asap pembunuh” ini dan hanya mau menikmati keuntungan amat besar yang mengantar mereka sebagai pemuncak orang terkaya di negeri ini.

Suara penentangan yang diutarakan segelintir akademisi, birokrat dan media kemudian tenggelam dengan kampanye positif tandingan dengan dana tak berbatas dari kalangan industri. Hasilnya, seperti yang hingga kini terus berjalan, mayoritas kita masih terlalu permisif dengan iklan ataupun pelaku perokok yang seringkali serampangan ngebul menebar racun di area publik yang seharusnya bersih lagi sehat.

****

Kejadian terakhir yang menyedot perhatian saya dan mungkin sebagian besar dari kita adalah peristiwa penyerangan terhadap umat muslim yang sedang menunaikan shalat Ied di Tolikara, Papua. Berita yang beredar menyebut, persekutuan gereja tertentu melakukan pembubaran paksa aktifitas ibadah shalat dan lalu membakar masjid beserta puluhan kios milik muslim di perkampungan Karumbaga ini. Pemberitaan meluas sangat cepat disertai dengan argumen dan tendensi masing-masing dari penyebarnya.

Kita bersedih terhadap laku intoleran yang masih saja diperbuat pada zaman yang konon sangat mengedepankan HAM ini. Namun, sepertinya kita perlu melihat persoalan ini dari perspektif yang lebih luas sembari berkaca diri. Seperti diketahui, melihat Papua tak bisa sesimpel melakukan perbandingan dengan interaksi masyarakat di Pulau Jawa, misalnya. Seorang kawan yang lama bertugas disana menceritakan bahwa banyak hal yang begitu kompleks dan rumit yang tak bisa dianalisa dengan kacamata kota tanpa pernah merasakan hidup berdampingan langsung dengan masyarakat disana.

Bersatu dalam damai
Bersatu dalam damai

Itu sebabnya, alangkah elok jika kita tak malah tersulut provokasi pemberitaan yang belum tentu sepenuhnya benar. Daripada menyalakan api permusuhan, lebih santun kiranya jika kita pantau proses penegakan hukum yang sedang berjalan sambil mencarikan solusi konstruktif bagi kerukunan lintas agama kedepan, dimanapun itu.

****

Demikian beberapa unek-unek yang menggelayut seminggu ke belakang. Sadar, banyak poin subyektif yang sok tahu dan belum menawarkan solusi. Mumpung masih dalam suasana Idul Fitri, mohon dimaafkan lahir batin ya! Semoga kefitrahan kita awet dan makna gemblengan Ramadhan bisa membekas minimal hingga 11 bulan berikutnya. Selamat kembali bertempur dengan rutinitas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s