Tualang

Ke Halimun via Sinabung

Dalam tulisannya “Catatan Untuk Para Petualang Muda”, senior saya Pindi Setiawan mengelaborasi gaya dan perkembangan dunia petualangan di Indonesia. Menurutnya, dua pemberi warna pada kegiatan petualangan Wanadri dan Mapala UI berkiblat pada gaya discovery-nya Inggris. Karena, dari awal hingga sekarang rasa utama yang dihadirkan dua organisasi ialah penjelajahan dan pendokumentasian hal-hal yang dianggap baru. Untuk penjelajahan gunung hutan misalnya, buku-buku karya pujangga Inggris Wordsworth, Blake, Byron, dan Shelley juga sedikit banyak memberi andil dalam menggairahkan budaya pengembaraan ke alam liar tak bertuan para generasi awal terdahulu.

Gaya pendidikannya pun bergaya Inggris, yaitu konsep pendidikan seumur hidup. Perbedaannya terletak pada isu pendidikan. Wanadri menerapkan pola mirip Outward Bound Trust yang membentuk jati diri melalui impak-impak petualangan di alam bebas. Sedang Mapala UI cenderung mirip pola Brathay Hall yang membentuk jati diri dengan menghayati impak-impak langsung dari alam bebas.

Pada prakteknya, bila seorang Wanadri giat melakukan perjalanan / berkespedisi maka diharapkan ia akan ikut andil memberikan sumbangan data baru, pengetahuan anyar sekaligus melahirkan banyak pribadi berani dan orisinal. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan kentalnya aneka perjalanan dalam kegiatan Wanadri, baik dalam pendidikan dasar maupun pada saat proses lanjutannya. Jika pada bentuk proses pembelajaran melalui alam lain dikenal metode “problem solving” melalui berbagai simulasi permainan (seperti yang kemudian jamak diaplikasikan provider experiential learning), maka Wanadri lebih menitikberatkan “journey” sebagai media pengembangan diri anggotanya.

Setelah dilantik 87 orang pada 1 Agustus 2010, angkatan saya di perhimpunan diberikan tugas untuk pematangan wawasan dan keterampilan dalam suatu program yang bernama masa bimbingan anggota muda. Program dibagi dalam tiga tahapan dengan durasi total rata-rata selama 1,5 hingga 2 tahun hingga akhirnya seorang anggota muda dinyatakan berhak memperoleh nomor pokok keanggotaan. Setelah melewati tahap pertama yang terdiri dari mentoring, perjalanan kecil gunung hutan, tebing, sungai dan sekolah explorer search and rescue (ESAR), pada tahap kedua kami melakukan musim pengembaraan atau dikenal dengan mini season.

Tulisan berikut merangkum lika-liku proses perjalanan mini season (perjalanan kecil) saya pribadi, sebelum kemudian bergabung ke tahap akhir dalam tim ekspedisi tebing Tondoyan, Kalimantan Timur.

Ekspedisi yang Menjadi Perjalanan Kecil

Pada awal 2011 datang tawaran dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang mengajak bekerjasama menyukseskan sebuah ekspedisi yang bertajuk Ekspedisi Bukit Barisan (EBB). Dari paparan koordinator ekspedisi kala itu, Bapak Iwan Setiawan kami memperoleh informasi bahwa kegiatan ini berupa penjelajahan dan pendataan multi-disiplin ilmu di tujuh gunung tinggi Pulau Sumatera. Dengan berbagai pertimbangan, gunung yang saat itu dipilih antara lain Leuser di Aceh, Sinabung di Sumut, Singgalang di Sumbar, Kerinci di Jambi, Seblat di Bengkulu, Dempo di Sumsel, dan Tanggamus di Lampung.

Pembekalan EBB 2011 di Kareumbi
Pembekalan EBB 2011 di Kareumbi

Dari Wanadri sendiri setidaknya terdapat 25 orang yang berperan aktif, baik sebagai tim jelajah maupun peneliti. Saya sendiri kala itu dipercayakan untuk bergabung di tim Sinabung yang akan berkegiatan di dataran tinggi Kabanjahe, Brastagi dan sekitarnya.

Pembekalan terpusat ekspedisi selama kurang lebih satu bulan digelar di dua lokasi berbeda yakninya Situ Lembang dan Taman Buru Masigit Kareumbi, Jawa Barat. Personil ekspedisi yang terdiri dari anggota TNI dari berbagai kesatuan, mahasiswa, media serta beberapa kelompok penggiat alam terbuka melebur dan berlatih bersama sebelum diberangkatkan ke objek operasi masing-masing. Sebuah pengalaman yang mengesankan, sebab antar golongan bisa merasakan dinamika sekaligus transfer ilmu guna mencapai objektif yang diharapkan.

Bagi personil non militer kala itu, bisa merasakan beberapa perbedaan prinsip saat seorang militer ditugaskan ke lapangan. Jika dalam materi manajemen perjalanan di organisasi kita diajarkan mengenai prosedur berbivak yang nyaman (shelter, perapian, air), menghitung kandungan kalori makanan yang disesuaikan dengan jenis kegiatan, packing yang nyaman dan seterusnya, jangan harap hal itu bisa didapatkan oleh anggota TNI.

Mereka telah terbiasa bertugas dengan makanan kaleng (TB yang bau dan bikin mual itu), tanpa perapian karena akan mudah dideteksi musuh, menggunakan ransel dengan frame keras sambil tentu saja terus menenteng senjata. Beberapa prajurit sempat berguyon betapa nyamannya jika mereka bisa bertempur dengan standar kualitas peralatan penjelajahan dan perbekalan seperti yang kami kenakan.

Simulasi gunung hutan sipil - militer
Simulasi gunung hutan sipil – militer

Sebulan masa persiapan pun berlalu. Namun, beribu sayang dua hari menjelang keberangkatan ke Sumatera Utara, saya harus mengambil keputusan berat tidak bisa ikut serta lebih lanjut disebabkan oleh beban studi di kampus yang juga dalam kondisi genting. Dengan berat hati, saya mengajukan ijin pengunduran diri ke posko pengendali ekspedisi dan ke dewan pengurus Wanadri. Teman yang berangkat ke lokasi melakukan kegiatan selama lebih kurang tiga bulan di lapangan. Sepulangnya kembali ke barak masing-masing, tim ini mengumpulkan laporan yang kemudian dibukukan sebagai rangkuman hasil EBB 2011.

Di kemudian hari, ekspedisi ini terus bergulir menjadi agenda tahunan Tentara Nasional Indonesia. Dengan berbagai penyempurnaan dari cikal bakal pertama ke Sumatera ini, hingga kini ekspedisi telah sukses digelar di koridor Kalimantan (2012), Sulawesi (2013), Maluku (2014) serta Bali Nusa Tenggara (2015).

Banting Haluan ke Halimun

Beberapa bulan sempat vakum karena berbagai kesibukan, kami yang belum menyelesaikan mini season di EBB kembali dipanggil oleh komandan masa anggota muda. Pertemuan membahas mengenai kelanjutan penyelesaian program. Pembagian tim kembali dilakukan. Saya bersama tiga orang lain, Reza, Robi dan Saipul memutuskan untuk melakukan perjalanan ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Pertimbangan utama pemilihan lokasi ini ialah dengan memperhatikan efektifitas pencapaian dari segi waktu serta bentukan medan yang cukup rumit dan panjang sehingga sangat menunjang untuk berlatih navigasi maupun manajemen perjalanan.

Sambil terus berlatih, secara paralel disiapkanlah proposal perjalanan, mengurus surat ijin masuk kawasan konservasi, mengumpulkan dana agar perjalanan tetap bisa dilaksanakan sesuai timeline yang sudah dibuat. Beberapa minggu sebelum keberangkatan, dengan kesepakatan seluruh anggota tim diputuskan untuk mengijinkan Dawai bergabung ke regu karena saat itu ia belum memiliki regu perjalanan.

Singkat cerita, akhirnya regu dinyatakan lulus dalam tes fisik dan sidang proposal. Subuh hari tanggal 17 Mei 2015, kami bergerak menuju Stasiun Kalibata untuk menumpang kereta yang akan membawa ke Bogor. Setelah sarapan secukupnya di area stasiun, perjalanan dilanjutkan berganti-ganti angkutan dengan rute Bubulak – Cigudeg hingga Pojok Bolang. Pojok Bolang ini ialah kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan roda empat, sisa perjalanan menuju titik awal di Desa Cisarua, Sukajaya harus ditempuh dengan berjalan kaki tak kurang dari 10 kilometer.

Tim tiba di desa titik awal sore harinya. Sedikit berbincang dengan warga, kemudian kami diizinkan untuk menginap di rumah salah satu tokoh desa. Kami pun beringsut ke rumah Pak Ujang yang berada persis di depan Balai Desa. Mantan Kepala Desa Cisarua era 1978-1998 ini mempersilakan untuk menempati sebuah kamar di lantai dua rumahnya.

Saat berbincang malam harinya, Pak Ujang bercerita bahwa ia telah berpuluh kali mendampingi perjalanan atau penelitian ke rimba raya Halimun. Tak hanya domestik, beberapa kelompok asing pun sempat ia dampingi. Dari buku tamu yang mencatat rapi setiap kedatangan pengunjung yang melintas di Cisarua, kelompok tersebut berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia dan Jepang. Rata-rata para bule ini datang untuk melakukan observasi flora-fauna maupun melaksanakan tugas wildlife photography. Wajar saja, di kawasan pegunungan ini masih dapat ditemui beberapa satwa langka yang dilindungi seperti macan tutul, owa, lutung, dan elang jawa.

Berbicara sejarah, Pak Ujang menuturkan bahwa kampungnya dahulu pertama kali dibuka pada zaman Belanda sebagai lokasi perkebunan cengkeh. Paska kemerdekaan tahun 1949, dilakukanlah “rinsik” atau pembagian kavling tanah kepada penduduk desa. Berpuluh tahun cengkeh menjadi andalan mata pencaharian warga desa. Hingga suatu ketika di awal tahun 2000, perkebunan berhenti berproduksi karena anjloknya harga di pasaran. Penduduk kemudian beralih profesi menjadi peternak dan penambang emas. Kawula muda banyak yang menjadi kaum urban di perkotaan dengan harapan memperoleh penghidupan yang lebih layak.

Selain Cisarua, sebenarnya juga masih terdapat beberapa enclave pemukiman dan perkebunan yang bernaung di dalam zona TNGHS seluas 113.357 hektar. Kompleksitas pengelolaan pegunungan yang berbentuk seperti jemari / bintang ini kian rumit dengan terdapatnya beberapa aktivitas perekonomian penambangan emas, pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal) serta pariwisata massal. Keberadaan TNGHS juga memiliki arti penting dari segi hidrologis, sebab dari sinilah berhulunya 50 sungai yang menghidupi peradaban manusia di sepanjang alirannya. Beberapa sungai besar seperti Ciberang, Cicatih, Cisadane dan Citarik kemudian juga tenar sebagai arena uji adrenalin dalam aktifitas olahraga arus deras (white water rafting).

Going Into the Unknown

Selepas sehari melakukan sosiologi pedesaan, tibalah saat untuk masuk ke tahap operasional gunung hutan. Menurut perencanaan, perintisan jalur akan dilakukan selama enam hari dengan titik tujuan di Puncak Sanggabuana (1920 mdpl) serta berakhir di kampung Ciptagelar, Sukabumi.

Begitu tiba di titik awal yang kemarinnya telah didapat, semua anggota regu kembali mengecek melakukan resection. Dalam perjalanan bernavigasi darat, ketepatan titik awal ini amatlah penting sebab akan menjadi penentu perolehan titik-titik berikutnya. Setelah dirasa cukup yakin, kami bergerak secara man-to-man dengan sudut pergerakan awal 160’ ke arah Gunung Cangkuang.

Gerbang rimba, disambut pohon tumbang dan tanah longsor
Gerbang rimba, disambut pohon tumbang dan tanah longsor

Beberapa menit bergerak, taman nasional pegunungan terluas Jawa ini langsung melihatkan kualitasnya, pohon tumbang, semak berduri dan longsoran tanah menjadi obstacle awal. Tim harus ekstra hati-hati agar tak terperosok atau mengalami cedera, sebab perjalanan di depan masih panjang dan relatif masih “gelap”. Perlahan tapi pasti, tim terus bergerak sambil mencari ritme yang pas. Sesekali kami berhenti untuk recheck posisi ataupun ngemil dan refill persediaan air ketika bertemu sungai.

Karakteristik cuaca yang kami temui, dari pagi hingga siang cerah walau pancaran matahari terhalang rapatnya kanopi, dan selepas pukul 14.00 sampai sore kabut atau hujan akan mengguyur. Tentunya hal ini menambah keseruan perjalanan: terjal, vegetasi rapat, dan selalu basah. Kami harus terus bergerak agar tak kedinginan. Begitu tiba di bivak dan camp-craft selesai dilakukan, biasanya kami akan langsung berganti baju hangat sembari masak dan melingkar di api unggun.

Mencatat, agar tak melewatkan detil saat penyusunan laporan
Mencatat, agar tak melewatkan detil saat penyusunan laporan

Hari yang dinantikan pun tiba. Setelah lima hari bercumbu dengan buasnya medan pegunungan Halimun, tibalah saat untuk summit attack ke Gunung Sangabuana. Tebasan golok harus disertai kecermatan pemilihan jalur karena punggungan yang dilalui amatlah tipis. Tak hanya otot, otak dan mental benar teruji di jenis perjalanan seperti ini.

Rapatnya vegetasi
Rapatnya vegetasi

Kami mendokumentasikan kesuksesan pencapaian puncak sebagai bukti otentik dalam sidang laporan nanti. Tak berlama-lama, tim segera bergerak turun menuju desa titik akhir di Sindang Lego. Lima jam berselang, akhirnya kami menjumpai sawah dan perladangan, yang menandakan peradaban sudah berada di hadapan mata.

Begitu memasuki setapak, beruntung ada sebuah mobil sayuran yang akan turun menuju Ciptagelar dan menawarkan tumpangan kepada kami. Tawaran ini tentunya disambut sumringah, karena kemudian kami tahu jarak yang dilalui cukup jauh sekitar 45 menit menggunakan kendaraan. Jika saja tadi berjalan kaki, waktunya barangkali akan membengkak 4-5 kali lipat.

Tiba di Ciptagelar, kami dibuat terkesima dengan apiknya penataan kasepuhan Banten Kidul ini. Jejeran puluhan lumbung padi, balai pertemuan serta rumah Abah Anom yang sangat luas merupakan bangunan utama yang memagari kampung. Abah Anom, kepala adat yang masih berusia 30 tahunan itu begitu dihormati warganya. Ia pernah berkuliah teknik di kota Bandung sehingga memiliki wawasan cukup luas ketika kami berbincang.

Abah menceritakan berbagai hal menarik yang terdapat di kasepuhan yang ia pimpin. Jika Baduy dahlunya terkenal sebagai pasukan tempur dalam kesundaan, Ciptagelar merupakan pemasok logistik utama. Itulah sebab terdapat banyak sekali lumbung disini. Masyarakat sudah sejak awal swasembada pangan, bahkan beras yang kami makan siang itu konon berasal dari padi yang dipanen 10 tahun sebelumnya. Badan Urusan Logistik (Bulog) negara ini barangkali perlu banyak belajar dari kehandalan masyarakat Ciptagelar dalam menjaga ketersediaan kebutuhan pangan sepanjang tahun.

Disambut Abah Anom Ciptagelar
Disambut Abah Anom Ciptagelar

Kasepuhan juga memiliki interaksi yang kuat dengan hutan. Hal ini terlihat dari pengelompokan hutan atas leuweng titipan (hutan titipan), leuweng tutupan (hutan tutupan) dan leuweng sampalan (hutan bukaan). Dengan adanya pembagian ini, penggunaan suatu area hutan pun menjadi teratur dan tak ada yang berani melanggarnya. Pengetahuan etnobotani mereka ternyata juga cukup baik. Abah menjelaskan setidaknya ia bisa mendeteksi 400 jenis tanaman yang diperuntukan antara lain sebagai obat-obatan, makanan, upacara adat, alat pertanian, bahan bangunan serta kayu bakar.

Poin yang membuat kami kagum nyaris tak percaya ialah kemelekan masyarakat terhadap teknologi. Secara mandiri, Abah Anom bersama warganya berhasil membangun jaringan radio dan televisi Ciptagelar, menginstalasi mikrohidro sebagai pembangkit listrik, servis aneka mesin dan lain sebagainya.

Pukul 14.00 siang kami berpamitan untuk kembali tracking menuju Pelabuhan Ratu. Karena kesorean, kami memutuskan untuk bermalam di rumah ketua RT desa Cisarua. Pak Mus, pemilik rumah mempersilakan kami menginap di rumahnya yang asri dan dikelilingi oleh persawahan. Setelah melakukan pembersihan, Pak Mus menyuguhkan air nira yang baru saja disadap sambil bercerita kesehariannya dan aktifitas warga desa. Kami terlelap malam itu dengan sangat pulas, capek didukung dengan suasana rumah yang begitu nyaman.

Cover laporan perjalanan mini season Halimun
Cover laporan perjalanan mini season Halimun

Esok paginya setelah sarapan, ojek sudah menanti di depan rumah dan siap mengantar hingga terminal bis di Pelabuhan Ratu. Untuk ukuran perjalanan selama 75 menit di medan berbatu dan lumpur licin, kami sedikit kurang tega membayar ongkos yang ditagih cuma 30.000 rupiah per kepala. Hari itu, 25 Mei 2011 pukul 14.00 kami kembali tiba dengan selamat di sekretariat Kalibata. Berdo’a dan meneriakkan “WANADRI!” sebagai ritus wajib sebelum pulang ke rumah masing-masing.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s