Sosial Budaya

Napak Tilas di Negeri Para Nabi

Saya bukan seorang alim yang hafal sekian juz Al-Qur’an maupun hadits. Untuk shalat lima waktu pun, harus diakui saya masih sangat sering melewatkannya. Juga bukan seorang yang berasal dari latar belakang keluarga yang serba berkelimpahan sehingga bisa jalan-jalan berombongan ke luar negeri secara rutin.

Tawaran itu seolah datang mendadak. Lewat sambungan interlokal, Ibuku mengabarkan kalau kami sekeluarga akan berangkat Umroh pada tengah tahun 2013. Sebuah perjalanan yang memang diimpikannya sejak lama. Kebetulan waktu itu, ada sebuah biro perjalanan yang menawarkan paket ibadah dan ziarah ke tanah suci dengan harga yang cukup bersahabat.

Jadilah segala persiapan diurus demi kelancaran perjalanan selama di Arab Saudi. Mengikuti beberapa kali manasik (semacam pembekalan jama’ah) di asrama haji Pondok Gede, vaksin meningitis, serta melengkapi beberapa dokumen administratif. Semua proses ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Pihak travel agent menginformasikan kami akan diberangkatkan pada 25 Juni. Namun, sebelum hari keberangkatan saya mendadak masih harus menjalankan serangkaian tugas pendampingan survey di Kepulauan Mentawai serta beberapa pulau lain di lepas pantai barat Sumatera. Saya menghabiskan waktu dua minggu perjalanan laut dengan menumpang KRI Banda Aceh 593. Untungnya, segala keperluan sudah diselesaikan sehingga saat tiba kembali di Jakarta tinggal menyiapkan barang serta mengemasnya ke koper dan ransel.

Singkat cerita, kami sekeluarga bertolak dari Jakarta menuju Madinah dengan Saudi Airlines. Mengudara selama sekitar enam jam, tibalah kami di Bandara King Abdul Azis yang tengah panas menyengat khas negeri padang pasir. Setelah mengurus imigrasi, di pintu keluar sudah menunggu bis yang akan mengantar ke penginapan. Selama di Madinah, kami beristirahat di Al Eiman Taibah, terletak tak seberapa jauh dari Masjid Nabawi.

Hal ini cukup menguntungkan, sebab kami dengan mudah melakukan berbagai ritual wajib maupun sunah serta berkeliling ke beberapa monumen kota tanpa harus terkendala transportasi. Ya, cukup berjalan kaki di radius beberapa kilometer sekitarnya saja saya bisa menghampiri beberapa ikon yang dahulunya menyimpan cerita para nabi bersama para sahabat dalam memperjuangkan Islam.

Saya mendatangi Masjid Abu Bakar, Omar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Al Jaumuah. Lantunan adzan, yang kini rutin dikumandangkan lima waktu di penjuru dunia, dahulunya juga pertama kali dilantunkan di Madinah, oleh Bilal bin Rabah.

Hari berikutnya kami mengunjungi Masjid Quba dan Masjid Qiblatain. Di Masjid inilah sejarah peralihan kiblat terjadi. Kiblat, arah shalat umat muslim sedunia bergeser 180’, yakninya dari Aqsha ke Masjidil Haram. Al-Aqsha, yang kini menjadi lahan sengketa di jazirah Timur Tengah sempat menjadi kiblat selama 16 bulan pada masa itu.

Meninggalkan Madinah, kami menuju Makkah melewati jalan bebas hambatan yang membelah padang tandus dan gunung batu. Sejauh mata memandang, hanya ada gundukan pasir berbatu dengan beberapa tanaman keras diantaranya. Beruntungnya lagi, tempat kami menginap selama di Makkah juga berada tak jauh dari Masjidil Haram, sehingga sangat memudahkan akses jika ingin beribadah.

Dari literatur yang ada, disebutkan bahwa nabi yang memiliki jasa monumental di kota Makkah ialah nabi Ibrahim A.S, yang bersama anaknya Ismail A.S mendirikan Ka’bah atau rumah Allah (Baitullah). Makkah juga disebut Ummul Qura, ibu dari segala tempat di muka bumi. Kota dimana Adam diturunkan ini juga kerap disebut sebagai “zero magnetism area”, yang berarti memiliki gaya magnetis (tarik menarik) sama antara kutub utara dan selatan. Efeknya, diyakini tiap orang yang tinggal disini akan berumur lebih panjang dan sehat karena tak terpengaruh oleh gaya gravitasi. Wallahu’alam…..

Pada saat kunjungan saya ini, kawasan Masjidil Haram dan sekitarnya sedang mengalami pemugaran dan perluasan. Properti yang harus tergusur oleh mega proyek ini konon diganti rugi dengan angka fantastis oleh kerajaan, tujuh kali lipat dari nilai aktualnya.

Beberapa rukun umrah dilakukan selama berada disini. Tiga diantaranya, yakni Tawaf, Sa’i dan Tahalul saya lakukan sambil bergandengan tangan dengan Ibunda. Sekedar mencegah dari hal yang tak diinginkan, akibat jubelan ribuan manusia yang saban hari terus memadati lokasi ritual yang terletak masih di sekitar Masjidil Haram. Dalam melakukan kegiatan ini, kita diwajibkan untuk mengenakan pakaian ihram, yaitu berupa dua kain yang dijadikan sarung dan selendang bagi pria dan pakaian yang menutupi aurat bagi perempuan.

Tawaf, mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dilakukan saat matahari bersinar terik. Walau harus berdesakan, kami berdua berkesempatan mencium Hajar Aswad, batuan surga yang menjadi tempat berdo’a yang mustajab. Pada saat Sa’i, atau berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali (diperintah sebagaimana tercantum dalam Q.S Al Baqarah 158) ibunda saya pun masih tetap segar seolah ada tenaga lain yang mendorongnya. Rangkain ibadah ini diakhiri dengan mencukur beberapa helai rambut (tahalul) sebagai tanda kembali pada kesucian.

Akulturasi Indonesia

Diluar perkara ibadah, di beberapa kota besar jazirah Arab ini kita akan dengan mudah menemukan marka ataupun penutur yang menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dapat dipahami, sebab selain karena memang menyandang status sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar dunia, Indonesia beserta orang-orangnya telah memiliki pertalian hubungan yang cukup panjang dengan tanah haram.

Ludovico di Varthema, seorang Roma yang mengunjungi Makkah pada 1503 mengungkapkan bahwa ia menemui sekelompok orang yang ia sebut berasal dari “India Timur Kecil”. Kemudian diketahui, bahwa rombongan ini sebenarnya bukan sengaja datang untuk berhaji, melainkan mereka adalah pedagang dan pelaut utusan sultan yang sedang singgah dalam pelayaran mengunjungi negeri-negeri jauh.

Beberapa abad setelahnya, orang Indonesia menorehkan sejarah emasnya dengan menjadi imam dan khatib di Masjid Al Haram. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat menjadi guru besar pertama dari kalangan non-arab di lingkungan masjid yang menjadi kiblat muslim sedunia tersebut. Semenjak kedatangannya bersama ayah untuk berhaji pada 1877, Syaikh Khatib memperdalam keilmuannya di bidang teologi, falaq serta ilmu keduniawian seperti geometri, bahasa, sejarah dan banyak lainnya.

Ia kemudian menjadi guru bagi banyak ulama Indonesia yang belajar ke Makkah, seperti Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka), K.H Hasyim Asy’ari pendiri Nadhlatul Ulama, K.H Ahmd Dahlan yang mempelopori Muhammadiyah dan sederet ulama besar lain yang namanya masih sering menjadi rujukan hingga kini. Khatib membangun rumah tangga dengan anak seorang pemilik toko buku di Makkah hingga akhirnya menutup usia di umur 56 tahun.

Saat ini, diluar jama’ah umrah dan haji yang hampir sepanjang tahun selalu ada, keberadaan orang Indonesia juga dapat dengan mudah dijumpai yang mengisi berbagai sektor pekerjaan seperti pemandu, mahasiswa, supir bus, koki, pekerja konstruksi serta banyak lainnya. Bahkan saat berkunjung ke sebuah pasar tradisional di Jeddah, saya justru merasa seperti sedang berada di pasar Tanah Abang, saking familiarya bahasa dan atribut Indonesia dipergunakan. Hal yang juga menarik saya temui disini adalah menjamurnya produk “islami” made in china, berupa sorban, cangkir minum zam-zam, hingga tasbih.

Setelah melaksanakan serangkaian ibadah selama sepuluh hari, tibalah saat untuk kami kembali ke tanah air. Banyak pelajaran spiritual maupun duniawi yang diperoleh dari kunjungan singkat ini. Setidaknya, saya jadi bisa mengenal keagungan serta dinamika perkembangan agama yang saya anut sejak lahir ini. Bukankah katanya kita baru bisa mencintai sesuatu secara sehat, intim dan tulus jika kita telah mengenal seutuhnya objek tersebut dari dekat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s