Tualang

Catatan Ekspedisi Irian 1991

Dua hari kebelakang, saya asyik membuka arsip di PID (Pusat Informasi dan Dokumentasi) Wanadri tentang kisah kelana yang melegenda hingga kini, ekspedisi Irian 1991. Mungkin banyak dari kita yang sempat mendengar sekilas, tapi saya akan coba sharing beberapa cerita penting yang kiranya menarik disimak.

Ekspedisi Irian pada tahun 1991 ini dilaksanakan oleh angkatan Topan Rawa – Brugmansia (PDW 1989) bekerjasama dengan PPGAD (Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat). Operasinya diwujudkan dalam tiga bentuk kegiatan, yakninya penjelajahan gunung hutan ke Gunung Mandala (4.780m), pemanjatan direct dinding utara Carstenz Pyramide, marathon lima puncak di Pegunungan Sudirman serta pengarungan Sungai Van Der Wall yang menghilir ke Mamberamo.

Lokasi yang memusatkan seluruh kegiatannya di Irian Jaya (kini Papua) ini bukanlah tanpa alasan. Pada saat itu, bahkan hingga kini publik masih minim informasi wilayah yang merupakan pulau kedua terluas di dunia tersebut. Selain itu, program juga disinkronisasi dengan rencana pemerintah masa itu yang berkeinginan mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia.

Dilihat secara geografis, kegiatan ini berkisar di jajaran pegunungan Sudirman dan Pegunungan Tengah yang terpencil. Forbes Wilson, pemimpin ekspedisi Freeport pada 1960 menyebut Pegunungan Tengah sebagai salah satu tempat paling terisolir dan terbuas di dunia, bahkan jika disandingkan dengan lembah Amazon atau Afrika sekalipun. Selain mesin monster raksasa di pertambangan yang mengeruk hasil buminya, bentangan alam liar yang disuguhkan Papua kini sepertinya masih relevan dengan yang diungkap Wilson tersebut. Barangkali penduduk bumi lebih banyak tahu tentang topografi bulan daripada daerah ini.

Untuk mendukung perjalanan edan-edanan ini, disiapkanlah strategi perencanaan dan peningkatan kemampuan peserta ekspedisi yang berlangsung sangat serius. Latihan dan pengurusan hal non teknis lain disiapkan berbulan-bulan sebelum keberangkatan. Petinggi militer kala itu, Kolonel Sutiyoso (kemudian jadi Gubernur Jakarta periode 1997 – 2007) yang menjabat sebagai Assops Kopassus ditunjuk sebagai koordinator pelaksana ekspedisi.

Menggunakan Hercules dari Halim Perdana Kusuma, tim mendarat di Biak
Menumpang Hercules dari Halim Perdana Kusuma

Tulisan dibawah ini mencatat intisari dari salah satu perjalanan besar bersejarah ini. Karena selain menorehkan menjadi tim Indonesia pertama yang memanjat direct dinding utara Carstenz serta mendaki Mandala, ekspedisi ini juga harus membayar harga yang sangat mahal oleh meninggalnya 7 dari 10 awak yang mengarungi Sungai Boko / Van der Wall.

Pendakian Mandala, Pucuk Pegunungan Bintang

Tim pendaki Gunung Mandala
Tim pendaki Gunung Mandala

Risalah pendakian Puncak Mandala pada awal 1990-an tersebut masihlah sangat miskin. Tim terakhir yang berhasil mencapai puncaknya, hanya serombongan peneliti Belanda pada tahun 1959. Setelah itu, selama berpuluh tahun puncak yang terletak tak jauh dari perbatasan Papua Nugini ini sunyi dari jamahan manusia.

Untuk merencanakan operasi pendakian Mandala, laporan ekspedisi Belanda ini menjadi salah satu rujukan walaupun tak banyak menyajikan informasi yang bisa dimanfaatkan. Peta topografi yang ada berskala 1:250.000, sangat jauh dari standar ideal penjelajahan hutan gunung yang biasa menggunakan skala 1:25.000 atau bahkan lebih kecil dari itu.

Guna menyiasati kondisi ini, dikirimlah tim pendahulu yang dipimpin Simbarjadi untuk memperkuat data informasi, meminta izin sekaligus mencari tenaga porter yang diharapkan bisa membantu membawa ratusan kilogram beban tim Mandala ini.

Untuk mengakses desa terakhir sebelum memasuki belantara jalan menuju puncak tertinggi kedua di Papua tersebut, dipilihlah desa Sape sebagai titik awal. Lucunya, helikopter yang membawa tim saat itu tidak benar-benar tahu lokasi persis desa ini. Sehingga, beberapa kali harus turun setiap melihat kampung untuk mengecek apakah kampung tersebut yang dituju.

Setelah beberapa kali memanfaatkan “navigasi bacot” ala angkot ini, akhirnya tibalah tim di kampung yang dimaksud. Namun, penduduk setempat menamakan desanya Desa Mimin, berbeda dengan yang tertera di peta. Mayoritas penduduk desa berasal dari suku Kupel dan Ngalum. Beberapa penduduk lokal inilah yang kemudian menolong pendistribusian logistik tim hingga basecamp, bahkan kelak juga ada yang mencapai puncak Mandala bersama tim inti.

Meninggalkan desa, tim mengikuti aliran Sungai Okstop. Keputusan membawa porter dari suku lokal ini kemudian disadari sangat banyak membantu meringankan kerja tim utama. Warga pedalaman, yang dalam banyak cerita media kala itu dikisahkan masih primitif dan tak beradab, justru sangat humanis dan tentu saja tangguh dalam penjelajahan rimba perawan bumi cenderawasih.

Lintasan gunung hutan
Lintasan gunung hutan

Sepanjang perjalanan, mereka sangat terampil menyibak belukar yang menghalangi jalan, berburu makanan, mendirikan abip (tempat perlindungan yang dibuat dari daun-daun), menyalakan api dan lain sebagainya. Mengisi malam, sambil menyantap kuskus panggang hasil buruan, mereka isi dengan menyanyikan lagu dengan irama yang menyesapkan kesan magis ke dalam sanubari. “Syair lagunya selalu berubah, sesuai suasana hati dan kondisi yang mereka hadapi,” terang Evy yang menjadi perempuan satu-satunya di tim Mandala.

Memasuki ketinggian 3.000 meter, hutan berubah menjadi sub-alpen. Pepohonan mulai jarang ditemukan, berganti dengan padang rumput, batuan, semak perdu, dan rawa yang kadang menenggelamkan kaki hingga sebetis. Di atas ketinggian 4.000, beratnya medan ini masih ditingkahi dengan hujan es dan salju. Tim mulai menjumpai padang salju yang cukup luas pada ketinggian 4.300.

Puncak Mandala dilihat dari Camp III
Puncak Mandala dilihat dari Camp III
Dinding tebing di sisi selatan Mandala
Dinding tebing di sisi selatan Mandala

Tim yang dikomandani oleh Yemo Wakulu ini melaksanakan operasi selama 23 hari. Selain Yemo, Alfian Koswara, Pratu Misirin dan Leo (porter dari desa Mimin) mencapai puncak Mandala pada siang hari tanggal 27 Februari 1991. Suatu kebanggan tersendiri, karena empat orang inilah yang menjadi manusia Indonesia pertama yang sukses mendaki hingga titik tertinggi di Pegunungan Bintang ini.

Direct Climbing Dinding Utara Carstenz Pyramide & Marathon 5 Puncak Pegunungan Sudirman

We saw very high mountains white with snow in many places, which certainly is strange for mountains so near to the equator,” begitulah kutipan laporan Jan Carstenz saat melintasi laut Arafura pada 1623. Ungkapan yang disampaikan 400 tahunan lalu inilah yang kemudian hari menarik minat berbagai kalangan untuk menyambangi salju di khatulistiwa, suatu anomali yang disajikan alam.

Sejarah pendakiannya sendiri baru berhasil dirintis pada tahun 1962, oleh Phillip Temple bersama Heinrich Harrer, R. Kippax, dan B. Huisinga. Selain menjadi tim pertama yang sukses menyambangi Carstenz Pyramide, empat orang ini juga sukses mendaki Puncak Ngga Pulu, Idenburg dan Sunday Peak.

Kemah tim
Kemah tim

Hingga 1991, belum pernah ada catatan keberhasilan pendaki Indonesia memanjat dinding utara Carstenz. Setelah melewati lima hari pemanjatan dibawah guyuran hujan es dan cuaca mendekati titik beku, Sertu Suyanto, Suson Susanto, Deddy Muldiana, dan Nuryanto akhirnya mencapai puncak pada pukul 10.30 tanggal 8 Februari.

Tim marathon 5 puncak
Tim marathon 5 puncak

Sedang satu tim lainnya, yang beranggotakan Tita Pathi, Sudirman, Galih Donikara, Duddy Kusnadi, dan Alisar juga menjalani aklimatisasi di lokasi yang sama, advance basecamp yang berada di Lembah Danau-danau (4.200 m).

Setelah melakukan tracking dari tanggal 4 hingga 10 Februari 1991, tim ini berhasil menggapai lima puncak di pegunungan Sudirman, antara lain Puncak Tak Bernama (4.750m) yang kemudian dinamai dengan Puncak Sarwo Edhie, Sumantri atau Sunday Peak (4.840m), Sukarno/Puncak Jaya/Ngga Pulu (4.862m), Carstenz Timur (4.800m) serta Puncak Tengah (4.503m).

Tim di Puncak Tengah, berlatar Carstenz Pyramide
Tim di Puncak Tengah, berlatar Carstenz Pyramide

 First Descent di Van der Wall

Tim saat sesi latihan
Tim saat sesi latihan

Kalau Musashi memilih jalan hidup dengan pedang, saya ingin menempuh jalan hidup dengan dayung…

Begitulah kira-kira yang pernah terlontar dari Alm. Sigit Purnomo, satu dari sepuluh awak yang mengalami kejadian naas saat mencoba bertualang di jeram-jeram ganas sungai Van der Wall. Dari tujuh orang korban tewas, dua diantaranya, Teddy Kusyadi dan Serda Sumarjan jasadnya tidak berhasil diketemukan hingga kini.

Musibah ini menjadi salah satu catatan kelam yang membawa korban terbanyak semenjak olahraga sungai ini diperkenalkan di Indonesia pada dekade 1970-an. Bagaimanapun, kondisi ini membawa pelajaran yang sangat mahal dan mendatangkan trauma tersendiri. Dari sinilah kemudian beberapa prosedur pengarungan untuk standar ekspedisi rintisan mulai diperketat. Secara organisasi, ekspedisi first descent berikutnya yang sukses digelar anggota muda Wanadri baru terjadi 21 tahun kemudian, melalui ekspedisi Sekuleh 2012 disusul Krueng Kluet 2014. Kedua sungai ini berlokasi di Aceh.

Foto udara Sungai Boko / Van der Wall
Foto udara Sungai Boko / Van der Wall

Kembali ke cerita Van der Wall, menurut rencana tim akan melakukan pengarungan dari Danau Archbald di Bokondini hingga Pagai sepanjang 144 km. Persiapan dilakukan dengan melakukan simulasi ke beberapa sungai dengan berbagai karakter yang ada di Jawa. Data faktor alam, diperoleh dengan menganalisa empat anak sungai Mamberamo lainnya yaitu Sobger, Idenberg, Van Rees, dan Rouffers.

Selain memanfaatkan peta 1:250.000 (karena memang hanya ini yang tersedia saat itu!), tim mencoba melakukan survey udara untuk mengetahui gambaran lintasan yang akan diarungi nantinya. Survey menggunakan helikopter ini akhirnya hanya berhasil mengambil data dari sekitar sepertiga bagian total lintasan, sedang survey darat sendiri tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan dana.

Peta operasi dan sketsa
Peta operasi dan sketsa

Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata. Peribahasa inilah yang mungkin cocok untuk mengambarkan kondisi saat itu. Tepat pukul 11.00 wit tanggal 7 Februari 1991 saat melewati area Desa Ninugagas, Kecamatan Bokondini, Wamena dua Avon yang ditunggangi pengarung terbalik dan menumpahkan seluruh isi dan penumpangnya.

Dari kisah tiga survivor kejadian maut ini, kecelakaan terjadi akibat adanya penyempitan sungai (bottle neck) dari 75m ke 25m, menyempit lagi menjadi 2m sepanjang 2m, membelok ke kanan dengan arus yang amat deras dan dihadang jeram besar di hadapannya. Ditengah sungai ganas di belantara Irian Jaya, sulit membayangkan betapa menyeramkannya situasi pada saat itu.

Helikopter untuk membantu proses evakuasi ke Wamena / Jayapura
Helikopter untuk membantu proses evakuasi ke Wamena / Jayapura
Proses pencarian awak perahu yang hilang di sungai
Proses pencarian awak perahu yang hilang di sungai
Warga yang ikut membantu pertolongan musibah Van der Wall
Warga yang ikut membantu pertolongan musibah Van der Wall

Pencarian musibah Van der Wall banyak terbantu oleh hadirnya warga lokal yang berdatangan dari banyak kampung di sekitar sungai. Proses evakuasi dilakukan dengan bantuan helikopter, karena hampir mustahil untuk mengakses medan lewat darat.

Kliping Tempo
Kliping Tempo

****

Kini, 24 tahun sudah perjalanan tualang tersebut terjadi. Masih banyak puncak tinggi, tebing curam atau sungai perawan yang menunggu untuk diziarahi. Pada kesempatan Dies tanggal 16 Mei lalu, angkatan termuda di perhimpunan kami kembali merencanakan pemusatan ekspedisi besarnya ke bumi cenderawasih, mengikuti jejak sang Danlat yang alumnus ekspedisi Irian 1991. “Setuju!,” satu kata itu yang tercetus dari Kang Galih begitu mendengar ide tersebut. Ya, kita tunggu kejutan yang akan dihadirkan 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Ekspedisi Irian 1991

  1. Butuh keberanian, kerjasama serta dukungan Dewan Pengurus Wanadri & Anggotanya untuk bisa bisa keluar dari trauma yang berkepanjangan.

    Semoga asa untuk kembali menjelajah ditimur bisa terlaksana.

    Aamiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s