Inspirasi Ide · Tualang

Teka-Teki Puncak Tertinggi Asia Tenggara

Memasuki dekade kedua abad milenium ini, hampir semua informasi dapat diakses dengan mudah melalui sedikit pencarian di jagat maya. Informasi detail dan data spasial menyajikan hampir setiap jengkal tanah di bumi, bahkan juga banyak merambah luar angkasa.

Tapi, tak begitu halnya dengan yang satu ini. Tak banyak dari kita yang akrab, bahkan yang mengaku dirinya “pendaki gunung” sekalipun. Nama-nama gunung tinggi Carstenz Pyramide dan Kinabalu barangkali cukup kerap didengar. Tetapi, puncak apa yang memegang rekor tertinggi di regional Asia Tenggara?

Tersebutlah sebuah gunung bermedan ekstrim, dengan lintasan hutan gunung dan tebing es atau salju yang begitu panjang dan menantang. Akses perizinan ke daerah ini sulit didapat dari otoritas pemerintah serta melalui kamp konsentrasi pemberontak sporadis yang kontra terhadap pemerintah militer Myanmar. Gunung ini terisolir di negara bagian Kachin, Myanmar Utara yang berbatasan langsung dengan Cina dan India serta menjadi bagian dari gugus paling timur Pegunungan Himalaya.

Hingga saat ini, baru Takashi Ozaki, pendaki Jepang beserta guide lokal Nyama Gyaltsen yang berekspedisi pada tahun 1996 silam yang diyakini berhasil memuncakinya. “Kita berperang melawan cuaca buruk yang terjadi secara konstan. Saya bisa katakan, Hkakabo Razi adalah salah satu gunung yang paling sulit dan berbahaya di seluruh dunia. Saya tidak pernah merasa setakut itu, dan saya serasa selalu ingin berlari menjauh dari gunung tersebut,” ujar Ozaki pada suatu kesempatan wawancara. Beberapa tim lainnya merencanakan selama bertahun-tahun, tak sedikit pula yang mencobanya langsung, namun hanya berbuah kegagalan.

Posisi Geografis Hkakabo Razi
Posisi Geografis Hkakabo Razi

Hkakabo Razi. Penduduk Birma melafalkannya dengan Kaka-boh Rah-zee, adalah gunung yang masih misterius dan menyimpan teka-teki ketinggian akuratnya hingga kini. Pada 1923, seorang surveyor India pernah merilis ketinggiannya mencapai 19.295ft (5.881m). Namun banyak pihak masih meragukan keakuratan angka ini. Pendaki gabungan AS-Myanmar yang melakukan ekspedisi pada September 2013 silam berspekulasi bahwa puncak yang mereka daki, Gamlang Razi yang terletak 5 kilometer di sisi barat laut Hkakabo adalah puncak tertinggi di pegunungan tersebut.

Spesialis citra satelit NASA (badan antariksa AS) pun belum bisa memberikan kepastian berapa sebenarnya ketinggian Hkakabo, dengan dalih bahwa teknologi mereka memiliki margin of error beberapa ratus kaki. Selisih ini, dalam dunia mountaineering jelas bukan angka yang kecil karena perbedaan tersebut bisa saja menyajikan kondisi yang sangat jauh berbeda.

Sejarah pendakiannya dimulai tahun 1937, ketika Frank Kingdon-Ward seorang ahli botani asal Inggris melakukan penjelajahan di wilayah kaki hingga mendekati puncak Hkakabo. Dari catatan yang ada, ia akhirnya memutuskan untuk mundur karena mendengar suara guguran avalanche yang dahsyat, dan merasa ia akan mati konyol jika meneruskan pendakian. Pada 1993, Mark Jenkins mencoba merintis jalur dari sisi Tibet, namun ia kemudian ditahan oleh tentara Cina.

Pembelajaran Dari Gagalnya Ekspedisi Hkakabo 2014

21 tahun kemudian, tepatnya pada Oktober 2014 Jenkins (56 tahun) kembali ke Myanmar memimpin tim ekspedisi untuk percobaan keduanya meraih puncak Hkakabo Razi. Salah satu misi utamanya ialah untuk mengukur ketinggian akurat puncaknya untuk menjawab teka-teki selama ini, tanah mana yang memegang rekor tertinggi di region Asean?

Tim yang disponsori oleh National Geographic Society dan The North Face ini beranggotakan atlit dan pendaki yang sudah sangat berpengalaman dalam pendakian gunung tinggi di seluruh dunia. Tergabung bersama Jenkins, antara lain Cory Richards (33), Renan Ozturk (34), Hilaree O’Neill (42), Emily Harington dan Taylor Rees. O’Neill ialah wanita pertama yang mendaki dua puncak 8.000an, Everest dan Lhotse dalam kurun 24 jam. Richards, pendaki kawakan yang pernah selamat dari longsoran salju dahsyat pada saat mendaki di Gasherbrum III (8.032m) di Pakistan. Sedangkan Ozturk, merupakan veteran yang pernah memanjat rute sulit Meru Peak (6.309m) di India, setelah beberapa bulan sebelumnya menderita patah tulang tengkorak dan tulang belakang.

Dari kisah pendakian yang diulas dalam National Geographic Magazine, diceritakan bahwa tim ini membutuhkan perencanaan dan persiapan matang selama lebih kurang dua tahun sebelum akhirnya diberangkatkan ke Myanmar. Belum lagi mereka harus melakukan negosiasi perizinan yang cukup alot dengan otoritas setempat. Setelah tiba dan memvalidasi perizinan di kota Naypyidaw, ketika bergerak ke Putao salah satu distrik yang dijumpai dalam perjalanan menuju Kachin mereka ditahan oleh aparat. Mereka mendekam di sel selama empat hari, kemudian dibebaskan tanpa penjelasan apapun.

Untuk melakukan operasi besar ini, Jenkins dan timnya mengalokasikan waktu hingga delapan minggu perjalanan. Untuk mengangkut logistik hingga ke desa akhir yang masih bisa diakses kendaraan, mereka menyewa ojek motor yang berjalan tiga hari lamanya melewati jalanan berlumpur yang licin. Belum selesai, mereka juga harus menyewa puluhan porter lokal untuk mengangkut berkuintal perlengkapan menembus hutan yang panas dan lembab sejauh 209 kilometer selama dua minggu hingga mencapai basecamp. Suhu rata-rata harian di hutannya mencapai 38’ celcius dengan kelembapan hingga 90%, sebuah kondisi yang menguras fisik dan psikis tentunya.

Akses jalan menuju hutan di lereng Hkakabo
Akses jalan menuju hutan di lereng Hkakabo
Melintas jembatan di hutan pedalaman Kachin
Melintas jembatan di hutan pedalaman Kachin
Salah satu kondisi lintasan yang dilalui untuk mengakses basecamp. Diperlukan perjalanan sejauh 209 km yang dapat ditempuh dalam 2 minggu
Salah satu kondisi lintasan yang dilalui untuk mengakses basecamp. Diperlukan perjalanan sejauh 209 km yang dapat ditempuh dalam 2 minggu
Taburan bintang di pagoda Dahondam, desa terakhir 6 hari perjalanan sebelum basecamp
Taburan bintang di pagoda Dahondam, desa terakhir 6 hari perjalanan sebelum basecamp
Ozturk, Harrington dan O'Neill melakukan upacara
Ozturk, Harrington dan O’Neill melakukan upacara

Tim ini memasuki medan es dan salju dengan performa yang sudah mulai menurun. Di camp terakhir sebelum puncak, Jenkins, Richards, dan Ozturk telah melihat puncak Hkakabo dengan sangat jelas. Namun dengan mempertimbangkan situasi dan risiko, mereka memilih mengakhiri ekspedisi ini. Pengukuran ketinggian pada saat itu ialah 5.742 meter, sekitar 240 meter dibawah puncak. Butuh 36 jam untuk kembali ke camp 3 (5.547m) dan 12 hari untuk kembali turun ke desa.

Jenkins di Camp I
Jenkins di Camp I
Menuju camp III
Menuju camp III
Ozturk kembali ke basecamp setelah gagal meraih puncak
Ozturk kembali ke basecamp setelah gagal meraih puncak

Dari pengakuan yang dituturkan personil ekspedisi, akurasi peta yang rendah, menipisnya ketersediaan logistik serta porter yang kurang berpengalaman ialah faktor yang mempengaruhi gagalnya ekspedisi ini. “Banyak kekeliruan pada peta. Selain karena memang belum seluruh area terselidiki, hal ini terjadi karena seringnya terjadi runtuhan,” ujar Jenkinz. Sedang untuk perkara porter, selain penduduk sekitar Kachin belum terbiasa dengan tugas pengangkutan beban berat ke pegunungan, mereka juga beberapa minggu sebelum tim ini datang terlibat dalam misi SAR (search and rescue) pendaki Myanmar yang mengalami kecelakaan dalam percobaan mendaki puncak Hkakabo.

Di pegunungan, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh pencapaian tujuan, namun kadang-kadang ukuran terbesarnya adalah pulang dengan selamat. Untuk poin kedua, tim ini memang telah berhasil sebab mereka bisa kembali pulang berkumpul bersama keluarga masing-masing di Amerika Serikat.

Mungkinkah Indonesia?

Sekelompok pendaki Indonesia pun sebenarnya pernah mengagas untuk berekspedisi ke Hkakabo Razi. Sekedar menyebut nama, Adiseno dan Mamay Salim ialah dua diantara sekian banyak motor yang sempat menyiapkan kegiatan tersebut pada tahun 1997. Dari proposal dan dokumen yang ada, tim ini bahkan sudah mengajukan perizinan dan permohonan dukungan ke beberapa lembaga terkait.

Jika dilihat dari kualitas dan kompetensi pendakinya, Indonesia kini bisa dibilang sudah cukup mumpuni. Indonesia ialah negara Asean pertama yang summit di Everest pada 1997 dan saat ini memiliki delapan orang anak muda yang menyandang gelar sebagai “seven summiter”, anugerah bagi individu yang telah menuntaskan misi pendakian ke tujuh puncak benua.

Ketersediaan data informasi barangkali bisa diperbaharui dengan berbagai kemajuan yang ada, peralatan berteknologi tinggi pun bukan lagi barang langka. Kemampuan fisik dan teknis bisa diasah lagi di berbagai variasi medan yang tersaji lengkap dari Sabang hingga Merauke. Persoalannya sekarang, sejauh apa pemerintah dan atau instansi swasta berkomitmen mendorong prestasi anak bangsa untuk menjadi tim kedua (dari total 6 milyaran penduduk bumi) yang berhasil menancapkan merah putih di tiang langit Asia Tenggara? Yang pasti, ketinggian presisi Hkakabo Razi masih menjadi misteri hingga tahun 2015 yang katanya serba canggih ini. Ada yang siap berkorban waktu, pikiran, tenaga, dan materi untuk sebuah perjalanan heroik nan prestisius ini? Kita tunggu saja…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s