Sosial Budaya

Tak Cukup Bertameng Tradisi

“The most important thing we ever learn at school is the fact that the most important things can’t be learned at school”

Beberapa bulan silam, dunia kepecintaalaman Indonesia dihebohkan dengan kasus meninggalnya dua orang siswa SMA N 3 Jakarta yang tengah mengikuti latihan dasar ekstra kurikuler (ekskul) pencinta alam (PA) di Gunung Tangkuban Perahu, Bandung. Kasus ini semakin meruak akibat terbukanya indikasi kekerasan fisik terhadap korban yang dilakukan oleh para senior yang saat itu bertugas sebagai panitia. Buntutnya, panitia diperiksa kepolisian dan empat orang di-hotel prodeo kan. Sabhawana, ekskul yang berdiri sejak 1979 itupun per tanggal 14 Juli 2014 resmi dibekukan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang menilai kejadian ini sudah diluar batas kewajaran.

Kita semua mahfum bahwa kegiatan alam terbuka (outdoor activity) ialah kegiatan yang mengandung dan mengundang bahaya. Faktor inipun kemudian bisa diurai lagi menjadi bahaya yang berasal dari pelaku (subyektif) dan dari alam (obyektif). Perhitungan keselamatan sampai hal detil mendasar mutlak dilakukan. Sedikit berkaca, perhimpunan sebesar Wanadri dan Mahitala Unpar, yang anggotanya sudah berhasil menuntaskan misi pendakian ke tujuh puncak benua saja pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa dalam proses kaderisasi anggota. Walau kejadian tersebut sedikit berbeda dengan yang ditemui pada kasus SMA 3, dimana ditemukan tindak physical-bullying, namun setidaknya bisa menggambarkan betapa para “pelatih matang” yang mengantongi jam terbang tinggi sekalipun masih sempat kecolongan menangani peserta didiknya.

Jika dirunut, apa yang dialami oleh kader muda Sabhawana SMA 3 Jakarta ini sebenarnya bukanlah kasus baru. Hal serupa, ditemukannya indikasi kekerasan yang berlanjut kepada pembekuan organisasi juga sempat terjadi di beberapa sekolah. Untuk lingkup Jakarta saja, SMAN 8, SMAN 34, SMAN 26, SMAN 109, SMAN 6, dan SMAN 86 ialah beberapa contoh diantaranya. Otoritas sekolah, birokrasi pemerintah terkait bahkan kalangan orang tua hingga kini belum merestui kembali anak-anaknya untuk bergiat di ekskul cinta alam pada sekolah-sekolah tersebut.

Lantas menjadi pertanyaan besar bagi kita bersama, selesaikah masalah dengan pembekuan-pembekuan ini? Adakah kemungkinan win-win solution, dimana wadah ini bisa terus hidup menciptakan kader pemimpin berkarakter dengan metode pendidikan yang lebih aman, terukur dan bertanggung jawab? Ramuan pendidikan semacam apa yang kiranya cocok bagi penggiat alam “amatir” setaraf sekolah menengah ini?

Terpanggil mencoba mengurai benang kusut persoalan sekaligus merembukkan alternatif solusinya, Wanadri dan Mapala UI sebagai dua organisasi pelopor pencinta alam di Indonesia mengagas pertemuan multipihak yang dilaksanakan di sebuah auditorium kampus Al-Azhar, Kebayoran Baru. Acara yang digelar pada Senin, 21 Juli 2014 lalu itu mengambil tema “Menakar Manfaat dan Pengelolaan Pendidikan Alam Terbuka di Indonesia”. FGD (focus group discussion) dan diskusi interaktif berlangsung sekitar empat jam, diakhiri dengan santap buka puasa bersama. Tak tanggung-tanggung antusias dari kalangan yang beririsan kepentingan dengan hal ini. Walau panitia sudah menetapkan kuota tamu,ruangan tetap disesaki oleh tak kurang dari 200 orang berlatar belakang kelompok penggiat alam terbuka, perwakilan guru SMA, birokrat pemerintah dan para orang tua yang anaknya mengikuti ekskul PA di sekolah.

Poster Diskusi
Poster Diskusi

Sebagai pembawa diskusi, tampil antara lain Kasi Kesiswaan SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta-Didi Hartaya, Pembina Morester SMA Gonzaga-Agus Dewa Rianto, Pindi Setiawan dari Wanadri serta Ahmad Rizali dari Mapala UI. Para pembicara kunci ini mencoba membedah tabiat buruk yang seolah menjadi warisan turun temurun bagi banyak perhimpunan, belajar dari pengalaman berbagai kasus juga menawarkan opsi-opsi yang dirasa ideal bagi penggemblengan remaja belasan tahun ini.

Banyak hal penting yang menjadi catatan dan butuh kontrol berkelanjutan dari pertemuan ini. Bagi internal organisasi pencinta alam, hadirin bersepakat perlunya digarap konsep pendidikan beserta formula kegiatan yang tak asal jadi. Pengelolaan tidak melulu harus menekankan pada aktivitas fisik, namun juga diimbangi dengan pengayaan sikap dan intelegensia. Bentuk kegiatan pun bisa digarap lebih segar dan variatif a la anak SMA, tanpa harus mengimitasi apa yang dilakukan organisasi sejenis di tataran kampus maupun umum. Improvisasi ini, tentunya dengan tidak mengenyampingkan esensi dan nilai belajar yang diperoleh.

Hal vital lain yang dirasa mendesak ialah dimilikinya SOP (standart operating procedure) tertulis yang memagari lingkup aktivitas bagi setiap organisasi yang masih ingin melanjutkan eksistensinya. SOP dimaksud melingkupi hirarki antara sekolah-pelatih-alumni-pengurus-calon anggota, perencanaan dan operasionalisasi pendidikan dasar dan lanjutan, serta kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh seorang pelatih maupun yang seyogyanya menjadi hak untuk dikuasai oleh para anggota ekskul PA. Bagi yang masih seumur jagung atau belum pede dengan kemampuan internalnya, tidak ada salahnya mengajukan supervisi latihan kepada perhimpunan-perhimpunan “mapan” yang sudah memiliki metode dan indikator pemantauan kompetensi peserta didik, misalnya.

Dilain sisi, sekolah, dinas pendidikan dan atau Kemenpora sebagai pemegang otoritas juga agaknya perlu lebih serius menangani dilema ini. Hal kritis yang mendesak bagi lembaga ini ialah penetapan modul atau kurikulum bagi pendidikan latihan ekstra kurikuler pencinta alam tingkat SMA. Dengan melibatkan pihak terkait yang berkompeten, pengesahan panduan ini perlu segera dilakukan agar bisa menjamin kualitas kader (secara teknis maupun manajerial) yang dibentuk oleh ekskul PA di SMA tetap linier dengan tugas utama mereka sebagai pelajar. Lebih jauh, hal ini juga bisa menjadi landasan bagi ekskul PA di SMA seluruh Indonesia menggelar pendidikan anggotanya, sekaligus sebagai landasan hukum yang kuat apabila terjadi pelanggaran.

Kini, nyaris setahun pertemuan itu digelar. Tindak lanjut dan kemajuan apa yang sudah diwujudkan? Untuk status beberapa ekstra kurikuler yang dibekukan oleh Disdik sendiri saya belum meng-update lagi statusnya. Pun begitu, rekomendasi pembenahan dan kegiatan praktis yang ditujukan kepada pihak sekolah, dinas pendidikan, kemenpora, pengurus ekskul PA setingkat SMA juga belum diketahui pasti sejauh apa telah direalisasikan. Namun tentunya kita berharap inisiasi pertemuan multipihak tersebut tak cuma berakhir menjadi butir catatan diatas kertas, bukan?

April lalu, selama lima hari saya bersama tiga teman diminta untuk mensupervisi latihan dasar ekskul PA di sebuah SMA yang berlokasi di bilangan Rawamangun. Latihan tersebut digelar dengan pemadatan agar para peserta dapat memahami wawasan dan ketrampilan teknis berbagai kegiatan alam terbuka, perolehan nilai belajar positif yang bisa dibawa dalam keseharian serta penguatan esprite de corps.

Dari persentuhan langsung ini, saya mencatat setidaknya dua hal yang perlu disiasati kedepan. Pertama, masa aktif ideal seorang siswa SMA di ekskul hanya selama dua tahun pertama. Setahun awal untuk memperoleh pembekalan dasar sebagai calon anggota, tahun berikutnya disibukkan dengan rutinitas sebagai pengurus, pengelolaan latihan lanjutan, kaderisasi angkatan dibawahnya serta berbagai perjalanan. Masa yang sangat singkat dan padat, dibanding jika bernanung di organisasi seakar tataran kampus atau umum. Poin kedua, masih terdapat oknum yang masih mempertahankan pemberian punishment baik secara fisik maupun psikis tanpa dasar dan esensi tujuan yang jelas. Walau sudah berulang kali diperingati, namun para senior ini tetap ngotot beraksi dengan dalih “tradisi”.

Kondisi ini, walau tidak berlaku bagi semua, setidaknya bisa menggambarkan kondisi ril lapangan. Jika saja dua poin masalah ini bisa di mix & match dengan alternatif solusi yang muncul pada diskusi Juli tahun lalu, barulah kita bisa berharap kondisi yang mendekati ideal bagi penggiat alam muda di SMA, ya? Ideal dalam konteks tangguh, terampil di alam raya pun bangku kelas sekaligus mencintai tanah airnya. Butuh kesabaran, ketekunan, dan konsistensi yang tak setengah-setengah memang!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s