Tualang

Menggapai Pucuk Celebes

Climb the mountains and get their good tidings. Nature’s peace will flow into you as sunshine flows into trees. The winds will blow their own freshness into you, and the storms their energy, while cares will drop away from you like the leaves of Autumn

Akhir Desember 2014 lalu, saya berkesempatan menziarahi Puncak Rante Mario, Pegunungan Latimojong yang menjadi titik tertinggi di tanah Sulawesi. Tim pada perjalanan kali ini berjumlah empat orang termasuk saya, dimana belum satupun dari kami yang pernah bermain di gunung ini. Praktis, kami harus berusaha ekstra untuk memanajemen pendakian ini sedemikian rupa agar bisa berlangsung aman, nyaman dan mencapai target-target yang ditetapkan.

Ide dan keinginan mendaki pegunungan yang terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini sebenarnya sudah lama menggelayut di pikiran. Terbayang sebuah pegunungan cantik dengan ragam flora-fauna eksotis, lintasan yang panjang dan berbagai bayangan indah lain yang tentunya akan jauh berbeda dengan apa yang biasa ditemukan di kawasan pegunungan Pulau Jawa.

Memulai perjalan dari Jakarta dengan penerbangan pukul 04.00, pagi hari tanggal 20 Desember tersebut kami menuju Makassar. Terbang selama sekitar tiga jam, sekira pukul 07.30 wita akhirnya pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Hasanuddin. Setelah mengambil bagasi, kami langsung menuju keluar bandara menghampiri mobil penjemput yang sudah menunggu. Tujuan pertama kami di Makassar ialah mencari sarapan untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan. Pagi itu kami sarapan di sebuah warung pinggir jalan yang menyajikan aneka makanan khas Makassar.

Silaturahmi dengan kawan SAR Unhas
Silaturahmi dengan kawan SAR Unhas

Usai bersantap, tim berbelanja beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi di Jakarta, seperti spiritus, gas hi-cook, serta beberapa tambahan makanan kecil untuk kudapan di lapangan. Setelah beres, kami menuju sekretariat Unit SAR Unhas yang berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa Kampus Universitas Hasanuddin. Maksud kedatangan kami kali ini, selain silaturahmi ialah untuk berkonsultasi mengenai kondisi terakhir lintasan di Latimojong sekaligus mengonfirmasi koordinat jalur yang akan ditempuh nantinya. Kami disambut Murham dkk dengan sangat hangat, walau awalnya mereka sempat ragu karena tiga teman sependakian saya masih berumur belasan tahun. Perbincangan berlangsung cair ditengah persiapan mereka yang dalam hitungan hari setelah kedatangan kami tersebut akan menggelar perayaan kelahiran organisasi. Siang harinya kami juga sempat beristirahat untuk sekedar memulihkan tenaga karena sore harinya perjalanan akan dilanjutkan menuju Baraka, desa terakhir yang bisa diakses oleh minibus biasa.

Setelah diantar ke terminal dan nego harga dengan mobil yang akan mengantar kami ke Baraka, pukul 18.30 minibus yang kami tumpangi perlahan menyusur jalan trans Sulawesi ke arah utara. Perjalanan kami melewati Maros, Pare-pare, Pinrang, sebelum akhirnya tiba di Masjid Nurul-Haq di desa Baraka yang menjadi tempat menginap sementara kami malam itu. Karena sudah pukul 01.30 dini hari, setelah merapikan barang dan mendapat tempat yang nyaman untuk rebahan, satu per satu dari kami langsung tertidur pulas.

Makan malam di Pare-pare
Makan malam di Pare-pare

Pagi harinya, jip yang akan mengantar kami ke tujuan berikutnya sudah standby. Walau penumpangnya hanya kami berempat, tetapi kami tidak bisa duduk di dalam mobil sebab hardtop tersebut sudah disesaki berbagai kebutuhan ladang dan rumah tangga. Praktis, kami harus survive bergelantungan dan duduk alakadarnya di bagian luar mobil. Perjalan menuju Rante Lemo ini membutuhkan waktu setidaknya 3,5 jam, dengan kondisi jalanan yang sempit naik turun, rusak, berlumpur, serta kiri kanannya berupa tebing dan jurang ratusan meter menganga. Untungnya sopir yang membawa kami ini sudah cukup berpengalaman melalui lintasan yang cukup ekstrim ini, sehingga ia bisa dengan santai bermanuver melewati “obstacles” yang disuguhkan sepanjang perjalanan.

Perjalanan menggunakan jip hardtop melintas sungai dari Baraka menuju Rante Lemo
Perjalanan menggunakan jip hardtop melintas sungai dari Baraka menuju Rante Lemo

Setelah tiba dan makan siang di Rante Lemo, untuk tiba di titik awal pendakian di Desa Karangan kami harus berjalan kaki selama kurang lebih 2,5 jam. Minggu sore pukul 16.30 akhirnya kami tiba di kepala dusun yang biasa disinggahi pendaki sebagai tempat bermalam. Disini kami bertemu serombongan pendaki asal Gowa yang baru saja turun dari Rante Mario. Malam pertama di kaki Latimojong, kami berbincang santai bersama para keluarga Bapak Kadus selain tentunya melakukan evaluasi pergerakan dan mematangkan kembali rencana keesokan harinya.

Jalan setapak menuju Desa Karangan, titik awal sebelum pendakian Latimojong
Jalan setapak menuju Desa Karangan, titik awal sebelum pendakian Latimojong

22 Desember pukul 07.00 pagi, berbekal peta kompas dan GPS kami memulai perjalanan menyusur lereng Latimojong. Lintasan awal menuju pos 1 ini masih didominasi oleh perkebunan kopi. Tim sempat disorientasi salah punggungan karena banyaknya percabangan jalur kebun kopi warga dan jalur buru. Namun setelah mengecek koordinat yang tertera di GPS kami akhirnya kembali ke jalur yang seharusnya. Sesampai di pos 1 dan beristirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan menuju pos 2. Disini kebingungan kembali terjadi, karena lintasan setapak yang kami lewati berbeda arah dengan koordinat pos 2 yang diperoleh dari teman-teman SAR Unhas.

Orientasi sebelum memasuki hutan Latimojong
Orientasi sebelum memasuki hutan Latimojong

Kami sempat berembuk mendiskusikan jalur mana yang akan diambil, dan akhirnya diputuskan untuk terus mengikuti jalan setapak yang cukup jelas dan terbuka tersebut. Benar saja, beberapa lama kemudian setelah menerabas kerimbunan hutan tropis Sulawesi kami akhirnya sampai di sebuah cerukan goa disamping sebuah sungai jernih yang mengalir deras, pos 2! Pos ini cukup nyaman sebagai tempat berteduh, karenanya kami masak dan makan siang disini. Selesai makan siang pukul 15.30, Diyan yang ditunjuk sebagai komandan operasi pada perjalanan ini memutuskan untuk membangun camp di pos ini dengan pertimbangan hujan yang mengguyur cukup deras serta jalur yang sukar diprediksi.

Menuju pos 3 keesokan harinya, lintasan di hadapan semakin menantang. Dengan kemiringan sekitar 70’, cukup menguras fisik karena berjalan membawa beban berat di punggung menggunakan teknik “scrambling”. Di pos 3 terdapat sinyal, kesempatan ini digunakan untuk berkomunikasi dan memberi kabar kondisi tim kepada keluarga dan kerabat di Jakarta. Berlanjut melewati pos 4, kami istirahat makan siang di pos 5 berupa dataran cukup lebar yang juga dikenal penduduk setempat dengan nama Soloh Tama. Konon, masyarakat sekitar banyak mempercayai tempat ini sebagai rumah “penghuni gaib Latimojong”, karenanya tak sedikit pula pengunjung yang mengalami kejadian mistis di sekitar sini. Kami berbagi tugas siang itu, memasak, menambah persediaan air di sungai serta ada juga yang orientasi medan dan menganalisa lintasan selanjutnya.

Makan siang di pos 5, Soloh Tama
Makan siang di pos 5, Soloh Tama

Target untuk mencapai pos 7 hari ini tercapai pada pukul 17.30 disambut oleh kabut, hujan dan cuaca dingin menusuk tulang. Kami sesegera mungkin mendirikan tenda, berganti pakaian dan memasak agar tidak terserang hypothermia. Mendekati pos 7 ini, setapak sudah bercampur antara tanah dengan batu, serta juga lumut di beberapa bagian. Kami mendirikan camp hari ini tak jauh dari sisi aliran air yang merupakan hulu dari Sungai Karangan. Pos ini berketinggian diatas 3.000 mdpl, sehingga menjadi “ujian ketahanan” selanjutnya bagi kami untuk melewati malam disana. Kami memasak banyak makan dan minuman panas untuk menghangatkan tubuh sekaligus persiapan cadangan kalori untuk “summit attack” esok hari.

Pagi harinya kami bangun lebih awal, menikmati suguhan jingga matahari terbit dan lanskap sekitar nan cantik yang tersaji secara apik. Karena cuaca cerah, kami bisa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dan menyaksikan hijau rerimbunan. Setelah sarapan secukupnya, kami menuju puncak dengan meninggalkan barang yang dirasa tak perlu di camp. Kondisi jalur ke puncak Rante Mario khas dataran tinggi, dengan vegetasi didominasi cantigi dan tumbuhan perdu yang tumbuh diatas bebatuan. Sebagai patokan, kita akan melalui jalur naik turun dan akan bertemu pertigaan, ke kiri menuju puncak Rante Mario dan ke kanan akan membawa kita ke Puncak Nenemori.

Puncak Rante Mario!
Puncak Rante Mario!

Pukul 07.30 tanggal 24 Desember 2014 saya, Diyan, Haddid, dan Farhan menginjakkan kaki kami di pucuk tertinggi bumi Celebes. Kami bersyukur karena cuaca pagi itu sangat cerah sehingga leluasa mengamati alam raya sekeliling yang sangat anggun. Kami mendokumentasikan keberhasilan pencapaian puncak ini sepuasnya sebelum kembali ke turun ke pos 7 mengemasi perlengkapan dan menuju desa Karangan. Kami bergerak turun dari pos 7 pukul 10.00 dan tiba sekitar pukul 18.30 di desa Karangan. Malam terakhir ini kami disuguhi goreng pisang dan kopi Karangan oleh Ibu Kadus, nikmat sekali! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s