Sosial Budaya · Tualang · Uncategorized

Ziarah NTT – Pulau Rote (1)

Discoveries are often made by not following instructions, by going off the main road, by trying the untried

Pemuda Rote sedang memainkan Sasando
Pemuda Rote sedang memainkan Sasando

Mayoritas kita, penduduk Indonesia mengenal Rote sebagai ujung selatan republik. Namun, tepatnya pulau ini merupakan pulau berpenghuni paling selatan, sebab di tenggara beberapa mil laut dari Rote terdapat Pulau Ndana, yang menjadi halaman terdepan Indonesia dengan Australia. Layaknya pulau terdepan lainnya, Ndana dijaga oleh prajurit Marinir TNI Angkatan Laut yang berganti shift setiap enam bulan sekali.

Akses ke Rote, sebagaimana lazimnya ratusan pulau lain di gugusan Nusa Tenggara hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dan udara. Jalur laut biasanya akan menggunakan kapal ASDP atau kapal cepat Express Bahari dari Kupang yang bersandar di Pantai Baru dengan intensitas keberangkatan dua kali dalam sehari. Selain pelabuhan utama ini, juga terdapat beberapa pelabuhan rakyat di Ndao, Papela, Oelaba, dan Babatua yang digunakan untuk armada penangkapan ikan maupun transportasi antar pulau di Kabupaten Rote Ndao. Jika melalui udara, kita dapat menumpang Trigana Air atau Merpati yang berangkat dari Bandara El Tari, Kupang.

Penduduk yang mendiami Rote merupakan komunitas heterogen yang terdiri dari etnis Rote, Timor, Alor, Bugis, Batak dan lainnya. Etnis Bugis dan Alor mayoritas berprofesi sebagai nelayan yang mendiami wilayah pesisir, sedang kalangan lainnya banyak bekerja di sektor pemerintahan.

Keunikan budaya Rote Ndao dapat kita amati dari penyelenggaraan upacara kematian, pernikahan dan perayaan pacuan kuda atau biasa disebut Hus Ndeo. Pacuan kuda ini diselenggakan sebagai wujud syukur masyarakat atas berkat hasil panen sawah, ladang serta hasil laut. Menariknya, konon pada upacara ini masyarakat juga sudah bisa memprediksi curah hujan beserta kondisi hasil panen tahun berikutnya.

Yang tentu tak bisa dipisahkan dari budaya Rote ialah Sasando, alat musik petik yang gambarnya bisa kita temui pada cetakan uang kertas rupiah. Alkisah, alat musik asli Rote ini dahulunya ditemukan oleh dua orang Rote yang menjadi tahanan kerajaan Ndana karena melanggar batas teritorial serta melakukan suatu pelanggaran. Tahanan ini kemudian bernyanyi dan mencipta alat musik petik yang diolah dari daun lontar sebagai pengisi waktu mereka menjelang hukuman mati.

Pada kunjungan September 2013 lalu, saya sempat berbincang dengan salah satu ketua sanggar seni tradisional di Desa Ba’dale. Bapak 45 tahunan tersebut menuturkan bahwa Sasando pada dasarnya memiliki dua jenis, yakninya sasando gong dan sasando biola. Tipe pertama merupakan tipe otentik dengan 10-11 senar. Sedang sasando biola ialah versi yang lebih modern dengan 41 senar yang memiliki jack-hub yang bisa dikoneksikan ke sound system untuk menghasilkan bunyi yang lebih merdu. Untuk jenis alat pukul, Rote mengenal sembilan jenis gong yang masing-masing berbeda fungsinya, yaitu gong kecil, pamali, paseli, leko, nggasak laik, nggasak daek, ina ndik, ina makamuk dan ina taladak. Salah satu lagu hits yang sering dibawakan dengan sasando dan gong di Rote ialah “Ofalangga” yang berkisah mengenai penderitaan leluhur pada jaman tanam paksa.

Tak cukup disitu, Rote juga menyimpan keanggunan bentang alam raya yang mempesona. Jika berkunjung ke pulau ini, sempatkan untuk singgah di Pantai Nembralla, Pantai Bo’a, Hiliana, Batu Termano, Batu Barok, Istana Raja Rote dan juga Gereja Manggelema yang berusia 100 tahun. Nembralla, yang terletak di ujung selatan pulau tersohor ke penjuru dunia karena memiliki ombak kualitas wahid yang mengundang peselancar kawakan untuk surfing dan tinggal disini dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Selamat berkelana dan bersenang-senang di Rote! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s