Uncategorized

Tondoyan – Selayang Pandang

Panjat tebing merupakan suatu kegiatan yang telah berusia ribuan tahun dalam peradaban manusia. Kegiatan yang pada awalnya dilakukan oleh para pemburu kambing gunung (chamois) di kawasan Alpen ini. Tercatat, Anthoine de Ville merupakan seorang yang seringkali memimpin melakukan perjalanan sangat nekat pada masa itu. Namun kemudian, seiring dengan bertambahnya jam terbang, pengalaman lapangan membuat banyak dari para pelaku perintis pemanjatan tebing terjal ini menciptakan alat-alat yang dapat menunjang pencapaian puncak-puncaj yang lebih tinggi, utamanya dalam faktor keselamatan. Terciptalah kemudian equipment yang sekarang kita kenal dengan carrabiner, kernmantle, piton, prusik, harness dan lain sebagainya.

Seiring dengan perjalanan waktu, kegiatan ini memiliki makin banyak penggemar dan penggiat, yang berasal dari berbagai latar belakang di seluruh pelosok dunia. Secara umum, tren pemanjatan tebing terjal ini terbagi atas dua kelompok besar, yakninya sebagai olahraga kompetisi dan sebagai sarana petualangan. Di Indonesia sendiri pun geliat kegiatan ini sudah dapat dirasakan, setidaknya sejak lima dekade kebelakang. Berbagai perhimpunan dan perguruan panjat tebing bermunculan dan melahirkan para climbing expertise. Hal ini diikuti dengan terselengaranya berbagai perlombaan panjat serta ekspedisi-ekspedisi ke tebing-tebing setinggi ratusan meter yang tersebar hampir di setiap provinsi di Indonesia.

Bagaimanapun, olahraga dan petualangan dan pemanjatan di tebing-tebing curam ini merupakan suatu ide positif untuk ditekuni. Ia menuntut keseimbangan antara kondisi fisik, mental, ketrampilan yang dikombinasikan dengan keahlian praksis dalam penggunaan peralatan, yang jenisnya berjumlah ratusan itu. Filosofi moral dari kegiatan ini adalah memupuk kepercayaan terhadap diri sendiri, terhadap rekan sepemanjatan dan terhadap alat yang digunakan. Semua elemen ini harus dapat bersinergi secara strategis untuk dapat mencapai objektif kegiatan yang dilakukan.

Menyadari dampak positif ini, pada Maret 2012 nanti saya bersama beberapa teman lainnya merencanakan untuk melakukan pemanjatan first ascent climbing ke sebuah menara batu yang menjulang setinggi 1071 mdpl, jauh di kelebatan belantara dan hamparan karst raksasa Mangkulihat-Sangkulirang, Kutai Timur. Sebuah misi yang ambisius memang, namun kami berkeyakinan nothing’s impossible, bahwa memang segala sesuatu di dunia ini dapat saja menjadi suatu kenyataan, walau harus ditunjang dengan persiapan yang diatas rata-rata. Sebagai gambaran awal tebing, yang bagi masyarakat setempat dikenal dengan TONDOYAN ini, berikut saya sajikan data globalnya :

  • Zonasi

Ilas / tebing batu Tondoyan terletak 350 kilometer Utara Kota Balikpapan, pada koordinat 01°14’ – 01°15’ LU dan 117°16’ – 117°17’ BT berada dalam kawasan seluas 2000 Km2. Jejeran karst yang lebih dikenal dengan Mangkalihat – Sangkulirang (MANGKULIRANG) ini, ditetapkan sebagai kawasan Pusaka Alam dan Pusaka Budaya oleh Pemerintahan Kabupaten Kutai Timur – Provinsi Kalimantan Timur.  Tondoyan atau dalam peta topografi berskala 1:50.000 keluaran Bakosurtanal bernama Gunung Kulat ini merupakan salah satu puncakan tertinggi, dengan ketinggian vertikal bibir tebing hingga puncak 771 meter atau setara dengan 1071 mdpl. Dari 12 zonasi kawasan karst di Mangkulirang, Tondoyan tergabung kedalam “Zona Beriun” bersama dengan Tintang Merapun, Batu Gergaji-Batu Raya, serta Batu Aji.

  • Morfologis

Kawasan karst tropis di jantung Borneo ini bermorfologi tegakan menara-menara curam, berisi ribuan lorong-lorng goa, baik goa berair maupun goa fosil. Batuan tebing yang menjadi objek ekspedisi ini berjenis batu gamping, yakninya batuan sedimen yang terbentuk di lingkungan laut dangkal, tersusun atas koloni binatang karang sebelum akhirnya terangkat ke permukaan karena gerakan dinamis bumi. Goa-goa dalam zona karst Mangkulirang memiliki diversity gua terlengkap di dunia. Jauh di dalam perut bumi, mengalir puluhan kilometer sungai bawah tanah yang menjadi sumber mata air utama sungai-sungai besar di semenanjung Mangkalihat dan Sangkulirang, berfungsi sekaligus sebagai penyangga utama kehidupan masyarakat Berau dan Kutai Timur.

  • Ekosistem

Kekayaan Mangkulirang turut ditunjang dengan keanekaragaman hayati yang dikandung. Dari beberapa penelitian dalam-luar negeri yang telah dilakukan, setidaknya dittemukan 120 jenis burung, 90 spesies kelelawar, 200 spesies serangga dan antropoda, 400 spesies vegetasi, 50 spesies ikan, serta merupakan rumah yang nyaman bagi orang utan, buaya muara dan bekantan sungai.

  • Sosio-Antropologis

Dari segi sejarah kebudayaan purba, jejeran gunung karst ini bahkan menyimpan cerita manusia-manusia pertama Kalimantan, jauh lebih tua dari kebudayaan Kutai. Hal ini dibuktikan dengan temuan lukisan tangan di dinding-dinding karst serta banyak tinggalan kuno lainnya yang diduga kuat berasal dari budaya jaman es. Saat ini, masih dapat dijumpai masyarakat setempat yang hidup harmonis dengan hutan. Suku-suku asli antara lain Dayak Basap, Iban, Punan dan Melayu Kutai, dan Berau.

Kami menyadari ekspedisi yang akan dilakukan ini bukanlah suatu perkara mudah, dibutuhkan kerjasama yang terintegrasi dari persiapan tekhnis maupun non tekhnis. Kami berharap dengan terlaksananya big wall expedition ini dapat menginspirasi anak bangsa lainnya untuk lebih mencintai tanah airnya, serta menjadi pengobar semangat untuk terus berkarya dan berprestasi, sesuai dengan konsentrasi keahlian yang dimiliki.

-Salam Keterjalan-

Advertisements

4 thoughts on “Tondoyan – Selayang Pandang

    1. Maaf saya baru nyentuh wp ini lagi, akhirnya setelah empat tahun! 🙂 Alhamdulillah perjalanannya ke Tondoyan lancar, dapat sambutan cukup baik juga di Kaltim baik dari aparatur pemerintah maupun dari teman-teman mahasiswa. 2014 lalu, junior saya kembali ke karst Sangkulirang untuk melakukan ekspedisi di Ilas Merah.

  1. saya udah liat loh film dokumenter dan segala cerita tentang penjelajahnya. Bangga sekali 🙂 Tetep semangat ya akang-akangnya :))

    1. Halo, maaf baru buka wp ini lagi setelah empat tahun dicuekin 🙂 Terimakasih untuk atensi dan apresiasinya. Semoga menarik dan menggugah kesadaran kita bersama untuk terus bertualang, dan juga menjaga kelestarian ekosistem karst. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s